Header Ads

Aksi Bela Islam

PBNU: Kalau Mereka Bakar Qur'an, Baru Kita Ngamuk

Papan nama PBNU
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Slamet Effendi Yusuf menilai bendera Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) bukanlah bendera Rasulullah yang menjadi simbol Islam.

Pernyataan Slamet ini menanggapi pro kontra terkait perintah Panglima TNI, Jenderal Moeldoko untuk membakar atau memusnahkan bendera ISIS.

“Kalau itu simbol ISIS, dibakar monggo. Menurut saya itu bukan kriminalisasi simbol Islam. Jadi tulisan Laa ilaaha illallah dalam bendera itu adalah simbol ISIS. Kesatuan dari simbol ISIS,” kata Slamet kepada hidayatullah.com di sela-sela Rapat Kerja Nasional MUI di Hotel Sultan Jakarta belum lama ini.

Menurut Slamet, pemusnahan bendera ISIS ini juga bukan upaya desakralisasi pada simbol-simbol Islam.

“Jadi saya katakan ini bukan upaya desakralisasi pada simbol-simbol Islam. Yang dibakar tentara itu simbol ISIS, bukan simbol Islam. Jadi kalau mereka bakar Quran, baru kita ngamuk,” tegas Slamet.

Slamet menyarankan kepada umat Islam agar tidak menggunakan simbol-simbol yang digunakan Rasulullah untuk kepentingan yang tidak baik, melakukan tindakan-tindakan yang tidak islami. Sangat berat konsekuensinya menggunakan simbol-simbol itu.

“Jadi sekarang masalahnya tidak semua orang berhak menggunakan bendera Rasulullah,” kata Slamet. [Hidayatullah/Bersamadakwah]

2 comments:

  1. Saya memang setuju jikalau Al Quran di bakar baru ngamuk... memang di ISLAM ada suatu arahan untuk membakar tulisan al quran di dalamnya seperti artikel,brosur, undangan, dan spanduk, tapi JIKA DAN HANYA JIKA sudah tidak terpakai lagi... dari pada di buang tulisan al quran tersebut malah lebih berdosa, masa tulisan Al Quran di buang ke tong sampah, apa lagi sampai terinjak2... maka dari itu lebih baik di bakar... Wassalam.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.