Header Ads

Aksi Bela Islam

Berharap Adil untuk Si Kecil Muslimah Berkerudung nan Dipukuli Sejawatnya

ilustrasi @nobullyzoneid 

Bagai estafet yang tak pernah berhenti, dunia pendidikan neger ini senantiasa digempur kejadian yang tak mengenakkan. Bukan hanya itu, kejadian demi kejadian yang ditemukan justru sama sekali tak layak disebut dengan kata terdidik sendiri.

Jika didaftar, entah sebanyak apa jumlahnya. Dengan banyak derivasi kasus dan akibatnya, tentu hal ini menjadi catatan tersendiri bagi mereka yang memilih untuk peduli, seberapa pun kadarnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, kita disuguhi seorang pemimpin yang melarang sarana pendidikan beragama di provinsi tempat ia (seharusnya) menjadi pelayan. Alih-alih mengatur dengan bijak, ia justru melakukan tindakan tak terdidik. Apalagi, ia berdalih bahwa salah satu proses pendidikan beragama nan luhur itu disebutnya dengan kata sadis sebab berhubungan dengan kata penyembelihan. Padahal, tafsirnya adalah pengorbanan atas nama ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan.

Berlanjut dengan beredarnya gambar anak seusia sekolah menengah pertama yang melakukan adegan mencium kening ‘pasangannya’ dengan disaksikan oleh teman-temannya. Ini masalah serius. Sebab adegan itu, bahkan baru dilakukan oleh mereka yang sudah melakukan perjanjian besar di depan orangtua anak kepada Tuhannya dalam akad nan suci.

Ditambahkan dalam daftar panjang itu, ada protes dari jaringan sekolah Islam yang mengembalikan buku ajar kepada kementerian tempat berlabuhnya dunia pendidikan di negeri kaya sumber daya ini. Pasalnya, di dalam buku panduan mengajar itu, terdapat tema pacaran ‘sehat’ yang diajarkan.
Aduhai, siapakah sejatinya mereka yang sengaja kampanyekan kata ‘sehat’ dalam kata pacaran yang sejatinya penuh sakit fisik dan jiwa ini?

Berikutnya, tentang materi bahasa asing yang disediakan dengan kaidah ala kadarnya dan amat membodohi. Kejadian ini, membuat penulis teringat dengan ceramah salah satu petinggi partai politik di negeri ini. Ia yang menjadi salah satu ketua partai termuda itu, dengan cerdas menyampaikan, “Inilah yang menjadi sebab utama mundurnya pendidikan di negeri ini. Pasalnya, siswa kita diajari bahasa asing itu sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, selepas lulus, mereka sama sekali tak pandai bercakap dengan bahasa asing tersebut.”

Kutipan itu, penulis tafsirkan bebas, tanpa mengurangi maknanya.

Yang amat mengejutkan, pagi ini (12/11), penulis mendapat kiriman video amat memiriskan. Tragis. Geram dibuatnya. Bukan sebab ada gambar tak senonoh. Tapi sebuah kekonyolan sebab kekerasan yang entah apa maksudnya.

Di dalam video berdurasi beberapa menit itu, terlihat sesosok anak sekolah dasar, perempuan, berkerdung. Ia ‘diletakkan’ oleh kawan-kawannya di ujung ruangan. Nampaknya, sengaja dilakukan rekaman. Entah, niatnya apa.

Gadis muslimah bererudung nan terpojok itu, kemudian diserang oleh kawan-kawannya. Satu persatu, kemudian bersamaan. Mulai dari pura-pura memukul, latihan menendang, hingga tinju dan tendangan sungguhan.

Serangan itu dilakukan bergantian. Bahkan, ada diantara mereka yang sengaja memukul kepala muslimah kecil tersudut, berkali-kali. Hingga, pukulan, tonjokan, tinjuan, sepakan dan tendangan itu terdengar amat keras dalam tayangan berdurasi kurang dua menit itu.

Hingga sang gadis menangis dan terlihat berkali-kali menyeka air matanya, tindakan gila itu tak dihentikan. Bahkan, teman lainnya yang nampak ‘menonton’ bersorak sorai dalam bahasa daerahnya yang bermakna “terus, terus”.

Sempat kami berpikir, mungkin saja mereka bermain teater. Atau, si gadis tersangka melakukan kejahatan, mencuri misalnya. Dan perkiraan lain yang niatnya berbaiksangka. Namun, melihat pada nurani yang langsung meringis dalam tangis, dan amarah yang sertamerta naik ke ubun-ubun, nampaknya dugaan kebaikan kami sia-sia belaka. Dan buka pada tempatnya.

Pikiran pun kemudian berkelana dalam tanya, “Aduhai celakanya, jika gadis muslimah berjilbab yang dipukuli adalah anakku, adikku, atau anggota keluargaku. Malangnya dia? Salah apakah dia? Dosa apakah yang dikerjakannya?”

Amat memungkinkan, ini hanya fenomena gunung es. Yang tak nampak, jumlahnya bisa lebih banyak. Maka, diam bermakna menyetujui perbuatan buruk tersebut. Dan berkata baik, meski pahit, adalah amalan unggulan.

Tentu, ini tak bermakna generalisasi. Untuk mereka yang bertulus hati mengabdikan diri di dunia pendidikan negeri ini, terhatur doa moga mereka teguh pendirian untuk terus berjuang. Sebab kami tahu, dalam lumpur, memungkinkan terdapat banyak mutiara nan berharga di dalamnya. [Pirman]

No comments

Powered by Blogger.