Header Ads

Aksi Bela Islam

Diskriminasi Terhadap Muslimah Australia

muslimah australia @ihijabfashion 

Diskriminasi merupakan pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb). Hal ini sering terjadi di daerah minoritas. Baik itu diskriminasi terhadap minoritas kaum muslimin maupun terhadap minoritas kaum berkulit hitam di tengah masyarakat berkulit putih.

Sikap diskriminasi sendiri merupakan bentuk fanatisme yang tak kuasa menyikapi perbedaan. Bentuknya mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Tergantung dari tingkat sentimen itu sendiri, ditambah dengan tingkat kedewasaan masing-masing masyarakat dan pemerintah.

Baru-baru ini, Republika Online menurunkan berita sikap diskriminatif yang dialami oleh saudari muslimah di Negeri Kanguru, Australia. Umumnya sikap ini menimpa mereka yang mengenakan Kerudung ataupun Burqa.

“Apa yang terjadi dengan kebebasan ekspresi? Kebebasan beragama? Kami sudah menjadi target,” ungkap Manaya Chouk beremangat. “Kini, Bapak Perdana Menteri justru telah menolong mereka yang fanatik dan brutal untuk melampiaskan kemarahan kepada kami,” lanjut perempuan berkerudung itu.

“Dia mencoba menanamkan rasa takut pada masyarakat. Kini, orang-orang melihat saya dengan salah. Mereka berkata hal-hal konyol. Saya mendengar banyak cerita dan menyaksikan banyak kisah. Menyerang perempuan itu tak benar. Masih ada banyak rasisme,” demikianlah penjelasan wanita berumur 27 tahun itu.

“Kini, mereka yang fanatik justru keluar dari persembunyian. Saya ketakutan sekarang, kini saya selalu melihat ke belakang bahu kapan pun saya meninggalkan rumah,” akunya yang merupakan seorang ibu dan pekerja sosial ini. “Itu salah. Saya tak seharusnya merasa seperti itu. Tak satu pun orang yang pantas merasa seperti itu,” pungkasnya menuturkan.

Seorang ibu kelahiran Australia yang enggan disebut namanya turut memberikan kesaksian, “Saya dilahirkan di sini. Kini, saat ini semua terjadi, saya sudah banyak mendapat tatapan hina. Menurut saya itu mengkhawatirkan. Mereka orang-orang yang tidak peduli.”

Lanjutnya bertanya heran, “Apa alasan mereka membenci kami? Tak ada satu pun yang mau duduk di sebelah saya. Orang-orang menjauhkan anak-anak mereka dari anak-anak saya. Mereka tak banyak berkomunikasi dengan saya.” Tutup mantan Sekretaris berumur 33 tahun itu, “Menyedihkan!”

Perlakuan diskriminatif ini diterapkan secara sistematis yang diatur melalui gedung parlemen berupa pelarangan mengenakan kerudung di berbagai tempat umum. Dalihnya, mereka hanya ketakutan akan isu ekstremis muslim. Padahal sejatinya, Islam itu selamat dan menyelamatkan. [bahagia]

No comments

Powered by Blogger.