Header Ads

Aksi Bela Islam

'Haji Koboi', Mulai Berbohong hingga Melintasi Gurun Pasir

ilustrasi @obozrevatel

Haji akbar tahun ini menyedot minat warga Arab Saudi dan para mukimin, warga Indonesia yang bermukim di negeri ini melaksanakan ibadah haji. Namun, izin ke Mekah sebelum proses haji sangat ketat. Alhasil tidak sedikit dari mereka yang kucing-kucingan masuk ke Kota Suci Mekah.

Ada saja cara yang dilakukan para 'haji koboi', istilah mereka untuk masuk ke Mekah. Mulai dari mengelabui petugas soal kota tujuan mereka, sampai menembus gurun pasir.

Bagi para 'haji koboi' ini yang penting bagaimana caranya bisa masuk ke Kota Mekah yang dijaga sangat ketat sejak dua minggu menjelang wukuf di Arafah. Tidak penting tak punya maktab (hotel/pondokan). Mereka bisa menggelar tikar atau mendirikan tenda di mana saja, termasuk saat di Mina, mabit cukup dengan menggelar tikar di jalan. Yang penting bekal makan cukup, dan niat berhaji sangat kuat.

Di antara sejuta 'jemaah tikar' yang mabit di gunung-gunung dan sepanjang jalan-jalan besar menuju jamarat, lokasi melempar jumrah 'Ula, Wustha, dan Aqabah, tim Media Center Haji berjumpa dengan lima jemaah haji asal Indonesia yang bermukim di Alalu, kota yang jaraknya 400 km dari Madinah. Mereka semua tidak memiliki tasrikh (izin) berhaji.

Eman Khorman, 35 tahun, dan empat temannya, saat ditemui ketika sedang mabit Minggu malam lalu, menempuh perjalanan tujuh jam ke Jeddah. Jeddah menjadi kota tujuan utama pria asal Cikijing, Majalengka, Jawa Barat ini sebelum ke Mekah. Bapak dua anak yang bekerja sebagai sopir di perkebunan kurma ini sengaja memilih Jeddah karena jarak kota ini dengan Mekah sekitar 1-1,5 jam saja.

Tahun ini, dia sengaja nekat berhaji karena ingin menutup masa kerjanya yang sudah mencapai enam tahun. Kebetulan tahun ini haji akbar, Eman pun membulatkan tekadnya berhaji tanpa tasrikh meski konsekuensinya ia bisa dideportasi.

"Saya diajak teman-teman 'ngoboi'. Karena saya mau pulang, ya hayuk saja. Paling-paling risikonya dideportasi," kata dia sambil tertawa.

Biaya tasrikh, kata dia, cukup mahal. Saat inis ekitar 5.500 riyal atau sekira Rp18 juta. Sementara melalui jalur 'koboi' biaya yang dikeluarkan hanya 10 persennya saja, sekitar 500 riyal atau Rp1,6 jutaan per orang.

Uang 500 riyal itu akan mereka serahkan kepada sopir taksi yang mengangkut mereka begitu tiba di tujuan. Namun ada perjanjian supaya mereka bisa masuk ke Mekah. Biasanya mereka akan diturunkan saat tiba di check point tasrikh. Sementara taksi masih boleh melaju. Para 'haji koboi' ini biasanya tetap meneruskan perjalanan dengan menembus gurun dan mendaki gunung-gunung batu yang mengelilingi kota Mekah.
Bagi para haji koboi ini, mendaki gunung batu tentu bukan hal yang mudah. Sedikitnya jarak yang ditempuh bisa mencapai 4 km.

Di titik tertentu setelah check point, mereka akan kembali bertemu dengan sopir taksi untuk melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Haram. Di sinilah transaksi diselesaikan. Proses pembayaran dilunasi di sini.

Eman mengakui, proses penjagaan menuju kota Mekah sangat ketat. Dia pun tidak berhenti bersyukur bisa masuk ke Mekah meski cukup berat. Sebab tidak sedikit teman-temannya dan ribuan warga Arab lain yang tidak bisa masuk Mekah meski sudah membayar cukup mahal.

Eman mengakui sempat mengelabui petugas saat mobil yang ditumpanginya diberhentikan di sepanjang jalan dari Alula menuju Jeddah. Ketika itu mereka ditanya hendak pergi ke mana. Supaya bisa lolos, mereka menjawab tujuannya ke Jeddah. Begitu tiba di Jeddah, mereka mengelabui petugas bahwa tujuannya hendak ke Thaib, yang juga tidak terlalu jauh dari Mekah.
"Pokoknya jangan sekali-kali bilang mau ke Mekah," kata Eman yang lega sudah hampir menyelesaikan proses hajinya. [vivanews]

No comments

Powered by Blogger.