Header Ads

Aksi Bela Islam

Pulang Pergi Yogya-Jakarta Tiap Pekan, Ibu Muda Ini Selalu Membawa Box Berisi ASI untuk Buah Hatinya


Kereta Api 119 Senja Utama Yogya melaju kencang Minggu malam itu. Suasana di dalam kereta yang menuju Jakarta itu sesak dengan penumpang. Tidak aneh, karena sebagian dari mereka adalah anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), sebutan buat para pekerja yang mencari nafkah di ibu kota dan pada akhir pekan pulang kampung.

Besok Senin, mereka harus kembali ke tempat kerja. Perjalanan jauh itu menguras tenaga, walau sekadar duduk di tempat. Istirahat yang cukup diperlukan agar mereka bisa langsung bekerja. Sebagian dari mereka memanfaatkan sela-sela kosong di bawah kursi penumpang sebagai tempat tidur.

Walau kebanyakan anggota PJKA adalah laki-laki, ternyata malam itu terselip di antaranya seorang perempuan. Yang unik dari perempuan berjilbab ini, ia membawa cooler box. Sebagian orang menyangka, isinya adalah biota yang ditelitinya.

Ternyata, kotak yang selalu mememaninya setiap saat itu bukan berisi biota, melainkan sesuatu yang lain. Teman seperjalanannya, GusHar Wegig Pramudito, menulis di laman Facebooknya tentang hal ini.

Perempuan ini sering saya lihat di Kereta Bisnis Senja Utama Yogya dan Senja Utama Solo. Tidak ada yang menarik, karena bertahun-tahun tiap Jumat dan Minggu saya selalu naik kereta itu dan melihat penumpang perempuan naik dan turun. Bahkan, terkadang tidur berbagi bangku dan lantai, dia tidur di bangku, saya memilih tidur di lantai kereta beralas koran dan sleeping bag, kecuali box yang selalu dibawanya. Awalnya, saya kira isi box adalah biota yang sedang diteliti. Penasaran, sore itu saya tanya, “Dik, box-nya isi apa sih?” Diluar dugaan saya, “ASI, Mas,” jawabnya. Woww....selama ini ia wira-wiri Jakarta-Wates bawa box isi asi?????”

Nama perempuan ini Risa Fajarwati. Ibu dari Raihan Ditya Pratama (5 tahun, 5 bulan) dan Kalila Putri Mahanani (1 tahun, 5 bulan). Bekerja di Jakarta, sebagai staf di sebuah instansi yang bertugas melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, Pasar Modal, dan Industri Keuangan Non-Bank: Otoritas Jasa Keuangan.

Setiap Jumat malam, ia pulang ke Panjatan, Kulon Progo, dengan membawa kotak pendingin yang berisi Air Susu Ibu (ASI) yang diperah selama lima hari kerja. Ahad malam Senin, ia kembali ke Jakarta dengan membawa botol-botol kosong.

Risa dengan cooler box-nya di stasiun kereta api. (Sumber foto Facebook GusHar Wegig Pramudito)
“ASI ini untuk Kalila,” tutur perempuan berusia 27 tahun itu. Ini upaya kali kedua Risa untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya setelah memberikannya kepada Raihan selama satu tahun enam bulan.

Rutinitas perjalanan dengan membawa kotak pendingin yang berat itu sudah ia lakukan selama lebih dari 16 bulan. Dimulai ketika ia selesai cuti melahirkan Juli 2013 lalu. Di bulan–bulan pertama, istri dari Kristya Arindra Hercipta ini pulang ke Panjatan dengan membawa 7,5 liter ASI. “Sekarang berkisar di angka 4,5 liter-an,” jelasnya lagi.

Kotak itu tidak hanya menemaninya saat pulang pergi Stasiun Wates-Pasar Senen, bahkan saat perjalanan dinas kotak itu pun selalu dibawanya. “Karena sayang dengan anak,” jawabnya ketika ditanya untuk apa ia melakukan semua itu.

“ASI itu merupakan anugerah Allah Swt untuk anak-anak. Penghilang lapar, haus, imun untuk tubuh anak dan penguat ikatan batin antara ibu dan anak,” tambahnya lagi.

OJK merupakan gabungan dua lembaga pengawas sektor keuangan: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sejak awal tahun 2014. Kantornya hanya ada di Jakarta. Sedangkan sang suami bekerja di Wates. Kondisi yang menuntutnya demikian.

Suka dan duka dijalaninya selama setahun lebih membawa kotak biru itu. Mungkin kurang pas disebut sebagai suka, imbuh Risa, tapi bersyukur karena masih bisa memberikan ASI kepada anak walaupun terpisah jarak.

“Dukanya adalah saya tidak bisa memberikan ASI langsung kepada anak. Produksi ASI sedikit karena tidak maksimal dalam proses pumping,” lanjut lulusan fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada ini.

Sebagai pegawai baru dari penerimaan sarjana Kementerian Keuangan tahun 2010 yang kemudian bergabung dengan OJK ini, ia hanya punya cita-cita sederhana. “Bisa bekerja tanpa harus terpisah dari keluarga.”

Terakhir, Risa menyampaikan pesan untuk para perempuan pekerja di mana pun berada, “Harus selalu bersyukur bisa dekat dengan keluarga. Untuk ibu-ibu yang sama-sama terpisah dengan anak, apalagi cuma pisah selama sehari, jangan malas untuk menyimpan dan pumping ASI.” Believe it or not, tegas Risa, ASI merupakan penghubung batin paling kuat antara ibu dan anak.

Ya, apa yang dilakukan Risa adalah sebuah perjuangan seorang ibu yang mengarungi ratusan kilometer dalam setiap pekannya. Apa pun profesinya tidak menjadi sebuah penghalang untuk memberikan asupan yang terbaik buat sang anak sebagai penerus peradaban.

Sekarang, bagi siapa yang berjumpa dengan perempuan ini di Kereta Api Senja Utama Yogya, anda tak perlu bertanya-tanya lagi dengan apa yang dibawanya. Karena kotak itu sekarang tidak misterius lagi. Isinya: sebentuk cinta buat Kalila. [Riza Almanfaluthi].

3 comments:

  1. terharu. semangat, mak!

    ReplyDelete
  2. Itulah sifat keibuan sejati..subhanallah

    ReplyDelete
  3. Subhanallah sangat menginspirASI

    ReplyDelete

Powered by Blogger.