Renungan untuk Pembenci dan Pencela Poligami

Ilustrasi anti poligami @magingalagadngsining
Poligami hanya untuk memperturutkan hawa nafsu! Dasar, besar nafsu, tidak cukup dengan satu istri!
Begitulah tanggapan sebagian kita ketika melihat seseorang berpoligami.

Terus sekarang, apakah tercela bila seseorang menikah lagi karena dia memiliki nafsu seks yang tinggi?

Sebelum dikaji dari segi hukumnya, dari segi kemanusiaan saja, kita tidak menemukan orang yang bermasalah karena nafsu seksnya besar bila dia salurkan pada jalan yang benar (kita garis bawahi kata-kata "bila dia salurkan pada jalan yang benar"). Tapi, kita temukan rumah tangga yang berantakan gara-gara suaminya lemah syahwat (impoten).

Jadi, besar syahwat bukanlah aib bila disalurkan melalui cara yang diridhai Allah Swt, bahkan termasuk perbuatan terpuji. Justru aib yang sangat memalukan bagi laki-laki jika dia lemah syahwat. Hingga penderitanya rela menghabiskan uang demi mengobati kekurangannya itu. Pabrik obat kuat pun menjamur karenanya.

Salah satu hal yang membuat kedengkian orang-orang Yahudi kepada Rasulullah Saw adalah kelebihan yang dikaruniakan Allah Swt kepada beliau dalam masalah ini. Rasulullah Saw diberi kekuatan 30 orang laki-laki. Hingga beliau mampu menggiliri sembilan orang istrinya dalam sehari-semalam.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari yang berasal dari Anas bin Malik. Apakah masuk akal, bila Allah Swt membenci syahwat tinggi kemudian mengaruniakannya kepada Rasul yang paling mulia dan paling dicintai-Nya melebihi yang Dia berikan kepada manusia biasa?

Lalu kalau ditinjau dari syari'at, apakah boleh seseorang menikah lagi karena nafsu seksnya tinggi? Bukan seperti alasan yang dibuat-buat oleh pembenci poligami. Diantaranya, karena ingin mengayomi janda-janda tua. Sehingga kalau mau menikah lagi, carilah perempuan tua yang sudah reot. Atau ingin mengayomi anak yatim, maka cari janda beranak banyak. Entah cerita dari mana yang mengatakan seperti itu dan apa dalilnya?

Mari kita pelajari dengan saksama ayat dan hadits berikut ini.

1. Hadits yang selalu kita dengar

«يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ»


"Wahai, para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum). Karena shaum dapat membentengi dirinya." (Mutafaq’alaih)


Dari hadits ini kita mendapatkan motivasi untuk menikah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw hanya dua; untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Bukankah keduanya itu letak syahwat yang paling tinggi?

2. Rasulullah mengatakan,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dan pada kemaluan salah seorang kalian ada sedekah. Para shahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendatangi syahwatnya lalu dia berhak mendapatkan pahala?" Rasulullah menjawab, "Bagaimana pendapat kalian kalau ia meletakkannya pada jalan yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian juga, bila dia meletakkannya pada jalan yang halal, dia berhak mendapatkan pahala."

Rasulullah Saw sendiri mengatakan, sekalipun yang dilakukan seseorang adalah memuaskan nafsunya, namun pada jalur yang halal, dia berhak mendapatkan pahala. Lalu, apa hak kita mencelanya sebagai orang yang besar nafsu, bersyahwat tinggi? Justru dengan demikian kita sudah melakukan celaan terhadap sesuatu yang harusnya dipuji.

Jadi, bila seseorang sudah melakukan kewajibannya secara syar'i dengan bertanggungjawab terhadap keluarganya, tidak ada hak kita mencelanya, apalagi mempergunjingkan. Jangan lakukan dosa demi bersimpati kepada orang yang sebenarnya tidak butuh simpati kita.

3. Allah Swt menyebutkan kriteria orang-orang yang berhak memasuki surga Firdaus, surga yang paling tinggi.

Kriteria keempatnya adalah,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik it,u maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (Qs. al Mu'minun [23]: 5-7)

Coba kita tadabburi ayat ini dengan dada lapang. Allah Swt menyebutkan bahwa orang yang selamat di akhirat nanti, diantara ciri-cirinya adalah orang yang menjaga syahwat kemaluannya dengan menyalurkannya kepada jalan yang dihalalkan oleh Allah Swt. Allah Swt tidak menyebutkan bahwa ciri-ciri orang yang berhak menempati surga Firdaus ialah orang yang lemah syahwat atau tidak bersyahwat sama sekali. Allah Swt menurunkan syariatnya bukan untuk membunuh syahwat dan hawa nafsu hamba-Nya, tapi mengaturnya supaya mengalir pada jalur yang diridhai-Nya.

Bahkan, manusia diberi Allah Swt pahala dan hadiah surga karena ia sudah bersusah payah mengendalikan hawa nafsunya kepada jalan yang benar. Bukan karena ia mematikan atau menghambat hawa nafsunya. Allah Swt hanya menyuruh hamba-Nya untuk mengendalikan, supaya tetap tersalurkan pada jalur yang benar. [bersambung]

Penulis : Ustadz Zulfi Akmal

Editotr : Pirman
Powered by Blogger.