Header Ads

Makin Kacau, Pertanyaan Pengacara Ahok Salah Alamat


Pengacara Ahok, Sirra Prayuna (ilustrasi-teropongsenayan)



Dugaan kasus penistaan Agama oleh terdakwa Basuki Tjahja Purnama memasuki episode kelima. Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dilakukan di Auditorium Kementrian Pertanian Pasar Minggu Jakarta Selatan pada Selasa (10/1/17).

Salah satu saksi dari tim pelapor yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah Irena Handono. Bersama dua saksi lainnya, Irena menyampaikan kesaksian dengan meyakinkan bahkan mampu memberikan serangan balik atas pertanyaan tim pengacara Ahok.

Kacaunya, pengacara Ahok Sirra Prayuna melakukan blunder dua kali saat menyampaikan pertanyaan kepada Irena Handono sebagai saksi pihak pelapor.

Pertama, Sirra langsung terdiam karena menggunakan salah satu istilah dalam Bahasa Arab yang kerap digunakan sebagai rujukan dalam hukum Islam. Sirra bahkan harus mengganti kata tabayun yang semula ia gunakan dengan kata klarifikasi.



Lantaran tak puas, Sirra kembali menggunakan analogi klarifikasi. Sayangnya, pertanyaannya salah alamat lantaran disampaikan bukan kepada yang berwenang menjawabnya.

Sirra menanyakan, mengapa Majlis Ulama Indonesia (MUI) tidak melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum mengeluarkan fatwa terkait Ahok sebagai penista Agama dengan menghina Al-Qur'an.

Menjawab pertanyaan tersebut, Irena berujar mantap dan kalem. "Kalau itu kan ada saksi ahli dan bisa langsung ditanyakan ke MUI. Saudara bisa bertanya kepada yang bersangkutan, yaitu saksi fakta." ujar Irena sebagaimana dilansir Republika, Selasa (10/1/17). [Tarbawia/Om Pir]


5 comments:

  1. Kalau tindakan pidana disangkakan tersebut berada DI NEGARA YG MENGANUT HUKUM ISLAM, maka salah satu kemungkinan hukuman nya adalah diMAAFkan. Analoginya: pembunuh saja bisa dimaafkan (di negara yg menganut hukum Islam) bila pihak yg dirugikan memaafkannya walau dengan syarat2 tertentu ada ataupun tidak ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dimana ada negara dg hukum Islam ataupun hukum positif, menggunakan istilah dimaafkan. Hadeewww, melek om melek.

      Delete
    2. bljr lg yg bnr bray,ko mlh nampakin tololin'y....di negara islam yg mnjalankan kan syariat itu,hukuman'y di pancung / mati utk seorang pembunuh begitupun utk seorang penista sm di pancung jg alias di bunuh. paham?

      Delete
  2. Kalau islam yang dihina tidak ada kata dimaafkan, hukumnya dibunuh. Tapi kalau hubungan dengan individu muslim, rosul mencontohkan memaafkan

    ReplyDelete

Powered by Blogger.