Setelah 7 Tahun Peringati Maulid Nabi dengan Damai, Hari Ini Kaum Muslimin Dibubarkan Paksa

Biksu anti Rohingnya (ilustrasi)
Peringatan Maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan acara sakral bagi kaum Muslimin untuk menghidupkan kembali semangat meneladani Nabi yang mulia akhlaknya. Nabi yang perangainya sempurna dan mendapatkan pujian langsung dari Allah Ta'ala.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang sering diadakan pada bulan Rabi'ul Awal ini bukan hanya dilakukan oleh kaum Muslimin di Indonesia, tetapi juga menjadi ritual penting bagi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia.

Ialah wajar, sebab mengingat dan mengisahkan orang yang dicintai amatlah menyenangkan dan membahagiakan. Apalagi sosok yang dicinta adalah Nabi, teladan sekaligus sosok yang mampu memberikan pertolongan saat tiada lagi makhluk yang mampu menolong.

Tetapi, tindakan-tindakan bodoh atas nama pemeluk agama apa pun selalu memiliki pendukung. Tindakan-tindakan premanisme yang hanya membuat jurang rukun dan damai kian mengaga, semakin jauh dan sukar untuk digapai.

Di Yangon Myanmar, sekelompok pria penganut agama Buddha ekstrim bertindak keji. Mereka berteriak-teriak di luar gedung, lalu masuk dan membubarkan kaum Muslimin yang tengah khusyuk menjalani peringatan Maulid Nabi kecintaan.

Mereka menodai kebebasan agama yang selama ini digaungkan dan diperjuangkan. Mereka menyulut emosi kaum Muslimin. Mereka membuat gelombang ketakutan kepada Islam semakin besar, padahal Islam terbukti damai dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

"Kami telah menyelenggarkan acara ini (maulid Nabi SAW) selama tujuh tahun berturut-turut tanpa pernah keributan apa pun. Tapi, hari ini, terjadi. Ada kepentingan politik di balik (aksi pembubaran) ini,” ujar Wakil Ketua Panitia Maulid Nabi di Yangon Myanmar, Tin Maung Win sebagaimana diberitakan Republika.

Tujuh tahun mereka peringati Maulid Nabi Muhammad dengan damai, mengapa kini diusir paksa? [Tarbawia/Om Pir]


Powered by Blogger.