Sering Diremehkan, Inilah 10 Amalan Istri yang Bisa Bikin Suami Klepek-Klepek

Memikat Hati Suami (ilustrasi @google)





Apakah suami Anda tidak betah di rumah karena satu dan lain alasan? Apakah suami Anda hanya pulang saat butuh dan lekas keluar rumah lagi dengan berbagai dalih? Dan saat di rumah, apakah suami Anda justru sibuk dengan pekerjaan atau perangkat canggih di tangannya dan benar-benar tak mempedulikan Anda? Apakah suami Anda banyak tingkah?


Guna memikat hati suami, amalkanlah 10 kiat rahasia dan jitu yang disampaikan oleh wanita shalihah bernama Umamah binti Al-Harits kepada putrinya Ummu Iyas binti Auf ini. 

Taat 

Seorang suami, jika disederhanakan, hanya membutuhkan seorang istri yang taat kepadanya. Baik suami beriman atau tidak, ia sangat mengharapkan istri yang menaati perintah-perintahnya. Suami amat mendambakan ketaatan dari para istri karena tabiatnya sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Seperti apa pun tampilan dan paras sang istri, ketika ia taat, suami pasti akan merasa senang dan bahagia. Karena, sekali lagi, tabiat laki-laki secara fitrah adalah memimpin dan dilayani serta ditaati.

Tentu, sebagai orang beriman, suami yang baik tak akan menggunakan hal ini sebagai dalih. Suami yang beriman justru akan mengarahkan ketaatan istri kepadanya menuju ketaatan tertinggi kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. 

Dan istri yang shalihah pun akan menjadikan ketaatan kepada suami sebagai ibadah setelah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. 

Jika seorang istri benar-benar taat, suami yang baik akan mampu memberikan atau melakukan apa pun atas nama cinta kepada istrinya-selama dalam ranah kebaikan. 

Menerima 

Istri yang cantik fisiknya adalah idaman. Ia merupakan dambaan. Ia adalah idola. Ia bak impian. 

Tetapi, fisik saja tak pernah cukup. Apalagi seiring berjalannya waktu, ketika kecantikan pasti berubah dan mengalami degradasi. 

Sehingga kecantikan hanya akan paripurna ketika diiringi karakter mulia. Salah satunya adalah sifat menerima. 

Istri yang menerima bukan bermakna pasrah. Istri yang menerima sama sekali tak sama dengan apatis. Istri yang menerima ialah ia yang sungguh-sungguh menerima karunia sebagai wujud syukurnya kepada Allah Ta’ala, kemudian berupaya sekuat tenaga untuk memperbaikinya. 

Istri yang menerima bukan menyerah karena suaminya banyak kekurangan. Ia justru sadar dan kemudian melakukan serangkaian upaya yang dilandasi iman dan ilmu hingga suaminya terbantu untuk menemukan potensi terbaiknya, menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Sebab menerima pasangan merupakan langkah mula-mula untuk memperbaiki kekurangannya. Dan memang, tak ada suami yang sempurna.[Tarbawia/Mbah Pirman]

Bersambung ke Memikat Hati Suami (2)
Powered by Blogger.