Bikin Merinding, Begini Kesaksian Wartawan yang Langsung Saksikan Duka Muslim Rohingya di Rakhine

Pengungsi etnis Rohingya dari Rakhine Myanmar melarikan diri ke Bangladesh. Butuh 12 hari perjalanan agar mereka bisa tiba di Bangladesh/SOS ACT

Berhasil melihat langsung duka-nestapa Muslim Rohingya selama satu pekan di Rakhine, Myanmar, Suriadi yang tergabung dalam Sympathy of Solidarity (SOS) Rohingya ACT tak kuasa menahan pedih. Ia benar-benar menyaksikan dan mengaku tak mungkin melupakan pengalamannya ini.

Ketika memutuskan untuk mengisahkan pengalamannya tanpa sensor, Suriadi mengaku siap menanggung seluruh akibat atas penceritaannya.

Sangat Tidak Manusiawi


Suriadi meyatakan, perlakuan Junta Militer Myanmar benar-benar tidak manusiawi. Mereka memusnahkan anak-anak, orang tua, perempuan, dan semua penduduk beragama Islam di Rakhine, Myanmar.

"Kondisi di sana benar-benar tragis. Pembantaian terjadi. Anak-anak, perempuan, manula semua menjadi korban," ujar Suriadi seperti dilansir viva, Rabu (13/9/17).

Lebih Parah


Kondisi memperihatinkan yang dialami kaum Muslimin Rohingya merupakan kejadian yang terus terulang sejak ratusan tahun silam. Berita kezhaliman Junta Militer Myanmar ini juga mengekuma pada tahun 2012 silam.

Namun, menurut Suriadi, kejadian pada Agustus 2017 ini lebih ekstrem dibanding kejadian tahun 2012.

"Tahun ini lebih ekstrem." lanjut Suriadi.

 Akan Berlanjut


Lebih lanjut, Suriadi memperkirakan bahwa kezhaliman ini akan berlanjut. Jumlah pengungsi ke berbagai daerah yang berbatasan dengan Myanmar akan berlangsung sampai tiga-empat bulan ke depan.

"Ekskalasi kekerasan dan pembantaian ini mungkin akan berlangsung terus sampai tiga atau empat bulan ke depan," terangnya. 

Tidak Ada Adzan dan Masjid

 
Suriadi juga menyaksikan adanya perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar. Pemerintah membedakan perlakuan antara pengungsi yang beragama Hindhu, Budha dan Islam.

Pengungsi yang beragama Hindhu dan Budha mendapatkan kebebasan. Bebas berjualan. Bebas beraktivitas. Sedangkan pengungsi Muslim cenderung diperketat pemeriksaan dan aksesnya.

"Ini aneh. Dan kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Tidak ada masjid dan tidak ada azan di sini," kata Suriadi. 

Berita Palsu


Banyak beredar palsu di Myanmar. Media setempat memalsukan berita. Seperti kasus pembakaran rumah, misalnya, media Myanmar menyatakan bahwa warga Rakhine-lah yang membakar rumahnya sendiri.

"Di media dilaporkan, orang-orang Rohingya ini membakar rumah mereka sendiri. Namun ini sangat tidak mungkin," kisah Suriadi menyatakan ketidakpercayaannya.

Tiada Empati


Jika kasus warga Muslim Rohingya mendapat perhatian serius masyarakat internasional, termasuk masyarakat Indonesia, warga Myanmar cenderung tidak peduli. Mereka mengetahui, tetapi tidak mau ikut campur dan enggan peduli.


"Ditanya, mereka menjawab tahu (kondisi Rakhine). Tapi gimana ya, senyap aja gitu," terang Suriadi.

Pemutarbalikkan Fakta


Otoritas Myanmar, menurut Suriadi, juga melakukan pemutarbalikkan fakta. Tindakan pembunuhan dan penyiksaan secara tidak manusiawi yang mereka lakukan disebut-sebut sebagai upaya pencarian terhadap teroris Myanmar.

"Bayangkan saja, orang mempertahankan rumahnya malah disebut teroris. Ini nyata. Pembantaian dan pembunuhan itu bukan hoaks," tukas Suriadi. 

Siap Tanggung Akibat


Setelah mengisahkan pengalamannya tana tedeng aling-aling, Suriadi mengaku siap menanggung semua akibatnya.

"Insya Allah, dengan Bismillah, saya terima dengan segala konsekuensinya," ujar Suriadi.
Powered by Blogger.