Sunnah (Sepulang) Shalat Jum'at yang Banyak Diabaikan

Pulang dari Shalat Berjamaah di Masjid (ilustrasi/as)
 

 
Salah satu sunnah Jum'at yang kerap dilupakan bahkan diabaikan ialah mengisahkan isi khutbah kepada ibu, istri, saudara perempuan yang memang tidak hadir shalat Jum'at.

Bagi para suami, hal ini kerap diabaikan. Mulai dari suami yang berangkat menjelang khutbah berakhir, datang lebih awal tapi ngobrol di masjid, datang duluan tapi tidur sampai khutbah kelar, atau yang memperhatikan tetapi hanya menikmatinya sendiri.

Yang terbaik, setelah menyimak dengan cermat dan berniat setulus hati untuk mengamalkan, ialah mengisahkan materi khutbah kepada para istri, atau wanita selain istri di rumah kita; ibu kandung, ibu mertua, saudara perempuan, atau anak-anak perempuan kita.

Mengapa menceritakan materi khutbah dianggap penting dan bagian dari sunnah?

Pertama, karena termasuk dalam saling mengingatkan dalam kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang.

Kedua, menceritakan ulang merupakan cara mengikat ilmu yang paling mudah dan ampuh.


Ketiga, bercerita dari hati ke hati dengan orang-orang yang kita cintai merupakan sarana efektif untuk semakin menambah kualitas cinta.

Keempat, siapa yang mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain, pahalanya akan senantiasa mengalir ketika ilmu tersebut diceritakan ulang sehingga menginspirasi orang lain untuk beramal,

4 Jenis Kebahagiaan Dunia


Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberitahukan 4 jenis kebahagiaan duniawi bagi seorang yang beriman kepada Allah Ta'ala dan Rasulullah.

Pertama, istri shalihah.

Kebahagiaan ini mustahil dimiliki para jomblo, karena mereka belum menikah. Kebahagiaan ini juga makin langka karena berkurangnya jumlah wanita yang menjaga dirinya.

Istri shalihah, mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir yang mengutip hadits Nabi, ialah istri yang sedap dan membahagiakan ketika dipandang, taat ketika diperintah, menjaga diri dan harta suami ketika suami bertugas di luar rumah.

Istri shalihah ini tak terbatas pada penampilan. Jilbab panjang bukan jaminan, apalagi yang pendek atau tak menutup aurat?

Karenanya, jangan salah pilih. Istri shalihah, mengutip keterangan Nabi yang lain, ialah perhiasan dunia yang paling indah.

Berlaku kebalikan, kebahagiaan bagi seorang istri ialah suami yang shalih.


Kedua, anak yang shalih/shalihah.

Kebahagiaan jenis kedua ini erat kaitannya dengan kebahagiaan pertama. Anak-anak shalih/shalihah lahir dari ayah shalih dan ibu shalihah. Jika pun ada pengecualian, jumlahnya pasti sangat terbatas dan bagian dari hikmah Allah Ta'ala, bukan untuk diteladani.

Guna mendapatkan anak shalih/ah, cari pasangan yang baik agama dan akhlaknya. Jangan mimpi mempunyai anak shalih/shalihah jika istri yang dinikahi, bertemunya di tempat maksiat.

Begitu pula sebaliknya.

Kiat lainnya, amalkanlah doa yang diajarkan para Nabi dalam Al-Qur'an dan Hadits.

Seperti doa Nabi Zakariya, "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu, anak-anak yang shalih (thayyibah). Sesungguhnya engkau Maha Mengabulkan doa."

Atau doa Nabi Ibrahim, "Ya Allah, anuegrahkanlah kepadaku anak yang shalih."

"Ya Allah, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang (istiqamah) mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami."

Ketiga, sahabat yang baik.

Mereka ialah yang mendukung saat kita di bawah, mengingatkan ketika kita di atas, dan tetap setia saat kita diuji dengan kegagalan atau keterjatuhan.


Sebaliknya, sahabat yang buruk hanya ada ketika kita jaya, lalu kabur tatkala kita diuji dengan kekurangan dan ketakberdayaan.

Termasuk sahabat yang baik ialah mereka yang istiqamah mengingatkan agar kita senantiasa berada di jalur kebaikan, dalam taat kepada Allah Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Keempat, pekerjaan yang dekat.

Dalam kelanjutkan hadits ini, Nabi menyebutkan pekerjaan yang dekat dengan tempat tinggal. Sebagian ulama menerangkan, maksudnya adalah pekerjaan di negerinya sendiri. Sebagian lain berpendapat, yang terpenting pekerjaan itu dekat dengan tempat tinggal.

Betapa banyak orang yang harus bersabar dalam macet, desak-desakan, antri, panas, hujan, dan sebagainya karena harus bekerja jauh dari rumahnya.

Atau orang-orang baik yang harus mengadu nasib di negeri orang lantaran negeri sendiri tak cukup menjanjikan bahkan cenderung tak menghargai.

Belum lagi ongkos rindu dengan orang tua, pasangan, para istri, dan anak-anak saat seseorang harus bekerja jauh dari rumahnya.

Pada akhirnya, bahagia letaknya pada syukur dan qana'ah. Syukur membuat nikmat terikat dan bertambah. Qana'ah membuat diri merasa cukup, meski menurut orang lain kurang.

Bersyukur, pasti bahagia. [Mbah Pirman/Tarbawia]

*Disarikan dari khutbah Jum'at di Masjid Al-Ijtihad Buaran Indah Kota Tangerang oleh Ustadz Muhammad Rizal S.PdI.


Powered by Blogger.