Benarkah Jenderal Gatot Akan Dijadikan Cawapres Jokowi pada Pilpres 2019?

Presiden Jokowi dan Jenderal Gatot Nurmantyo (ilustrasi)


Benarkah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan dijadikan Cawapres oleh Jokowi pada pemilihan presiden tahun 2019 mendatang? Benarkah keberpihakan Panglima TNI dalam opini dan pernyataannya selama ini sudah diatur oleh seorang 'sutradara'?


Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini kembali menyeruak akhir-akhir ini, setelah Panglima TNI Jenderal Gatot menyampaikan informasi terkait rencana pembelian 5000 senjata ilegal oleh lembaga non militer. Tak tanggung-tanggung, Panglima menyatakan akan menyerbu jika ada instansi non militer yang nekat melakukan pembelian senjata ilegal.

Sebelumnya, Panglima TNI juga menyarankan seluruh jajaran dan masyarakat Indonesia untuk melakukan nonton bareng (nobar) film pemberonatakan G 30 S PKI. Ia juga mengaku, seruan tersebut merupakan strategi memancing fans dan pendukung fanatik partai terlarang di Indonesia ini.

Pada 17 Agustus 2017 tepat pukul 17.00, Panglima TNI juga mengimbau seluruh warga dan jajarannya untuk menggelar dzikir bersama secara Nasional. Panglima TNI menyarankan masyarakat untuk mengakrabkan diri dengan Al-Qur'an dan memperbanyak doa seraya berdzikir kepada Allah Yang Mahakuasa.

Seruan doa bersama secara Nasional ini juga dilakukan oleh agama-agama selain Islam yang resmi di Indonesia.

Ketika banyak tokoh Nasional bahkan aparatur negara yang menuduh aksi bela Islam pada Oktober-Desember 2016, Panglima TNI juga hadir sebagai pahlawan. Panglima dengan tegas menyatakan bahwa umat Islam merupakan benteng terakhir NKRI dan pemegang saham terbesar kemerdekaan republik ini.

Rangkaian peristiwa tersebut kemudian mengerucutkan satu opini; Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merupakan bagian dari Jenderal Hijau yang berpihak kepada umat Islam.

Benarkah?

Akan tetapi, ada opini yang diembuskan oleh beberapa kalangan. Mereka menyatakan, perbuatan Panglima hanyalah strategi politik karena dirinya digadang-gadang akan mendampingi Jokowi dalam pilpres 2019 mendatang.

Jika Jokowi berhasil menggandeng Panglima, dua suara besar sudah berhasil diamankan; TNI dan umat Islam.

Tak kalah kerasnya ialah suara para penentang dan pembenci Panglima. Mereka menggunakan diksi 'gaduh' untuk berbagai manuver yang dilakukan mantan KSAD ini. Bahkan ada yang menyatakan, seharusnya Panglima dipecat lantaran membuat gaduh secara nasional.

Serangkaian fakta dan opini ini, seharusnya membuat kaum Muslimin bersifat pertengahan. Janganlah berlebihan mengangungkan seseorang, karena pasti akan melahirkan kekecewaan.

Dukunglah saat ia melakukan kebaikan, dan ingatlah dengan tegas ketika kekeliruan yang dikerjakan.

Kita tak bisa menilai yang tersirat. Kita hanya dihukumi dengan yang tersurat. Akan tetapi, waspada adalah keharusan.

Siapa tahu, Panglima benar-benar membela umat Islam dan kelak akan berpasangan dengan Jenderal atau ulama yang peduli kepada umat pada pilpres 2019 mendatang. [Mbah Pirman/Tarbawia]
Powered by Blogger.