Disebut Nabi sebagai Hal yang Membinasakan, Tapi Banyak PNS Terjerat Olehnya

PNS terjerat hutang (ilustrasi)



Dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumallahu Ta’ala dari sahabat mulia Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan 7 hal yang bisa membinasakan seorang hamba. 

Mirisnya, dari ketujuh hal tersebut, banyak umat Islam yang terjerat. Bahkan, berdasarkan fakta di lapangan, amat banyak pegawai negeri sipil (PNS) yang ikut-ikutan, terlibat, dan seperti menikmatinya. 

Na’udzubullahi min dzalik. 

“Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan,” ujar Nabi kepada para sahabatnya. 

“Apakah tujuh hal yang membinasakan itu, wahai Baginda Nabi?” tanya para sahabat yang mulia.

“Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali secara haq, memakan riba, menikmati harta anak yatim, melarikan diri dari jihad, dan menuduh wanita baik-baik melakukan zina.” ucap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 

Memakan riba. Inilah perbuatan yang banyak dilakukan oleh umat manusia pada umumnya, umat Islam yang belum sadar, dan sebagian khususnya lagi para pegawai negeri sipil (pns), juga para pengusaha yang tidak memahami nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari. 


Amat banyak di antara para pegawai negeri sipil yang menggantungkan hidupnya dengan riba. Mereka menjaminkan sk untuk mendapatkan pinjaman uang senilai ratusan juta rupiah dalam beberapa hari. 

Mereka mencicil pinjaman tersebut dari gaji bulanan. Jumlahnya sudah ditentukan, setelah sekian tahun baru lunas, sesuai dengan kadar bunga dan besarnya jumlah pinjaman. 

Banyak di antara mereka yang menggunakan pinjaman bank yang termasuk riba ini untuk membangun rumah, membeli dan menambah kendaraan, atau kebutuhan-kebutuhan lain, baik primer, sekunder, bahkan tersier. 

Alhasil, banyak di antara mereka yang benar-benar harus berhemat karena gaji bulanan habis hanya beberapa hari setelah cair. Sebagian besar dari gaji itu digunakan untuk membayar cicilan. Makin miris ketika pinjaman-pinjaman berbunga dan terhitung riba itu hanya digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan tersier. 

Meski memang, tak semua pegawai negeri bersifat demikian. Ada di antara mereka yang berusaha melepaskan diri dari jeratan hutang bank karena pernah terjerumus, sengaja atau tidak, mendesak atau tidak. 

Semoga siapa pun yang berhubungan dengan transaksi ribawi lekas diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala untuk hidup sebagaimana diajarkan oleh Islam. Aamiin. [Mbah Pirman/Tarbawia]

Powered by Blogger.