Hamas dan Pengembangan SDM (1)


Oleh : Sulaiman Abu Sittah

Hamas tidak memiliki pesawat tempur F16, tank buatan Rusia atau Amerika, tidak pula bom nuklir, roket jelajah benua, minyak, tambang baja atau tembaga, atau fosfat. Tidak memiliki sumber dana dari perdagangan batu mulia atau emas. Hamas tidak memiliki semua itu. Pada saat yang sama Hamas dihadapkan pada perang ganas dengan musuh yang memiliki dana, senjata, pasukan tempur, media, dan di atas itu semua, ditopang Amerika dan bantuan Negara-negara Arab resmi, dam ketidak berdayaan umat Islam.

Hamas memasuki pertempuran itu dengan tujuan jelas yakni melawan entitas Israel. Tujuan Hamas itulah yang memuaskan cita-cita kita. Karena alasan itulah, Hamas harus konsen pada sumber daya satu-satunya yang dimiliki yaitu sumber daya manusia. Dalam bayangan penulis, Hamas memiliki SDM luar biasa yang siap diledakkan dengan arahan yang benar sehingga menjadi revolusi peradaban yang mantap.

Seorang manusia tak akan maju, naik atau berhasil kecuali harus terikat dengan semua gagasan dan pemikiran atau tujuan yang ingin diraih. Karenanya, seorang dai harus merancang tujuan dakwah yang jelas dimensinya. Problem kebanyakan pemuda muslim adalah mereka ingin berkhidmat kepada dakwah ini namun tidak tahu bagaimana melakukannya. Jika kita mengamati para dai yang menonjol atau terkenal, ternyata mereka menyadari dengan baik apa yang mereka inginkan. Syekh Raid Shalah, misalnya, dia seorang ulama cemerlang dan menjadi bendera dakwah yang diberkahi ini. Faktornya karena tujuannya jelas dan sangat jelas. Tentu bukan beliau saja, tapi banyak dai seperti beliau, dimanapun mereka. Buktinya, ketika anda mendengar nama Syekh Raid Shalah, Anda akan ingat langsung masjid Al-Aqsha. Ketika Anda mendengar masjid Al-Aqsha dan pembelaannya, Anda teringat dengan nama beliau.

Seperti diketahui, manusia tidak akan berhasil menuju sebuah cita-cita atau pemberhentian kecuali jika ia tahu jalan menuju ke sana dan memutuskan untuk berjalan di jalan itu. Keputusan berbeda dengan khayalan atau angan-angan. Banyak orang berangan-angan tapi tidak menginginkan. Jika kita amati pemuda saat ini dengan kaca mata -terminologi kenabian– yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, kita akan temukan kebanyakan mereka tidak memberikan kontribusi kepada dakwah kecuali sedikit. Penyebabnya bukan minimnya semangat, namun ketidaktahuan akan jalan yang harus ditempuh.

Seorang dai ketika sudah merasa "kenyang" dengan gagasan dan pemikiran dakwah, maka ia harus berpindah kepada tahap kerja amal islami berikutnya untuk kemudian menentukan tugasnya secara spesifik sebagai bentuk khidmat bagi agama ini. Dakwah harus mengajarkan kepada dai bahwa proses ini menjadi menjadi bagian mendasar dari "manhaj dawah ini". Sehingga seseorang tidak hanya menjadi tambahan dalam dakwah ini. Begitulah masing-masing pribadi harus memiliki spesifikasi untuk memajukan dakwah baik bidang pertanian, medis, sarana umum yang lebih spesifik lagi di masing-masing bidang itu. Karenanya, kita membutuhkan dai yang orator ulung, kolumnis tajam, wartawan mumpuni. Sebagian lagi membangun lembaga pencetak orator, lembaga mentoring anak-anak, lembaga pengusung sebuah nilai tertentu; seni komunikasi atau lainnya. Sebagai contoh, di Jalur Gaza pun sudah ada training pengembangan dan manajemen diri atau pengembangan bisnis. Dengan demikian secara bertahap kita mampu membebaskan Palestina, membangun Khilafah Rasyidah. Inilah yang disebut "tsaqafatul intaj" (kultur produktif) sehingga jangan sampai ada dai kecuali harus memiliki tujuan spesifik yang menjadi konsentrasinya.

Lantas apa pengaruh satu orang terhadap masyarakat? Semua agama, baik samawi seperti Islam atau non samawi seperti Budha dan Konfusius dimulai dari satu orang kemudian ia akan mempengaruhi dunia. Bahkan penyembahan berhala di Jazirah Arab dilakukan oleh seorang Amr bin Luhai. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan mendapat pahala serupa pahala orang yang mengikutinya."

Para dai pantang cengeng. Berhentilah mengeluh dan carilah solusi. Banyak masalah di masyarakat kita, tapi berhentilah mengumpat dan mencela mereka. Berbuatlah apa yang bisa dilakukan untuk dakwah ini. Contoh kecil, jika seseorang mumpuni dalam olahraga karate dan memilih digunakan untuk dakwah kemudian melatih setiap sekian bulan 10 orang dalam olah raga ini, maka dalam puluhan tahun masing-masing murid akan memiliki kader ratusan orang.

Untuk mencapai tujuan, seseorang harus memiliki tekad dan kegigihan tanpa batas. Seorang kolumnis tersohor Amerika pernah ditanya soal kiatnya menjadi kolumnis sukses. Ia menjawab; jika kamu memiliki tekad bergelora dan menyala-nyala. Bagaimana? Ia menjawab; Anda makan, anda berfikir tentang "menulis", minum berfikir tentang "menulis", tidur berfikir tentang "menulis" dan Anda memimpikannya malam hari. Bangun pagi anda berfikir lagi dan begitu seterusnya. Jika sudah mengalir itu dalam darah, Anda akan jadi kolumnis yang memiliki popularitas.

Jadi, tentukan tujuan, miliki semangat dan tekad menyala untuk mewujudkannya, saat itulah Anda pasti akan berhasil mengubah realitas umat.

Inilah yang mesti dan sedang dilakukan Hamas. Melalui lembaganya, tugas Hamas adalah agar kadernya, laki-laki, wanita, bahkan anak-anak memiliki misi masing-masing, jangan mati hingga misi itu tercapai. (bersambung) [bn-bsyr, sumber: InfoPalestina, dengan perubahan redaksional seperlunya]
Powered by Blogger.