Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!

Habibie: Tak boleh Lelah dan Kalah
Judul : Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!
Penulis : Fachmy Casofa
Penerbit : Metagraf – Solo
Tebal : xx + 236 Halaman ; 24 cm
Cetakan : I, Februari 2014
ISBN : 978-602-9212-90-7

B.J. Habibie adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki bangsa ini. Ia lahir di Pare-Pare pada 25 Juni 1936 dari pasangan R.A. Tuti Marini Puspowardojo dan Alwi Abdul Djalil Habibie.

Alwi yang hobi sepak bola, meninggal di tahun 1950. Alhasil, selepas itu, sang istri harus berjuang untuk melanjutkan kehidupan keluarganya. Bentuknya, wanita kelahiran Yogyakarta ini berkomitmen untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang tertinggi yang bisa diusahakan.

Habibie sendiri sebagai putra keempat merupakan sosok yang gila membaca. Berduaan dengan buku lebih mengasyikan baginya dibanding bermain dengan teman sejawatnya. Melihat kegetolan anaknya itu pula, sang ibu akhirnya memutuskan untuk memindahkan Habibie ke Jakarta. Alasan lain, karena di Makasar masih kekurangan guru.

Di Ibu Kota, Habibie tak bertahan lama. Sebab Jakarta sangat panas dan berbeda dengan tempat menetap sebelumnya. Juga, sangat pada penduduk sehingga kurang memungkinkan baginya untuk menyendiri bersama buku-buku yang menjadi kegemarannya. Maka, pindahlah Habibie menuju Bandung. Di Kota Kembang ini, Habibie semakin menunjukkan kecemerlangan otaknya. Bahkan, dalam ulangan pelajaran eksak, dia kerapkali mendapat nilai 10.

Di Bandung, Habibie tinggal berdektan dengan Asri Ainun yang kelak menjadi istrinya. Rumah mereka berdekatan dan ditakdirkan bersama semasa menempuh pendidikan setingkat SMA. Uniknya, teman-temannya sudah sering “menjodohkan” mereka berdua, sebab keduanya memiliki kesamaan, khususnya dalam hal kepandaian.

Umur 19 tahun Habibie berangkat ke Jerman. Dia berangkat dengan menggunakan paspor hijau. Konsekuensinya, jika dia tidak bisa lulus tepat waktu, maka dia harus menanggung beban biaya hidup di masa perpanjangan pendidikannya. Bahkan, dia tak mendapat beasiswa penuh sebagaimana pelajar dari Indonesia lainnya.

Habibie menempuh pendidikan di Rheinisch Westfaelische Technische Aachen, Fakultaet fuer Maschinenwesen, Aachen, dengan mengambil jurusan Konstruksi Pesawat Terbang. Di sinilah dia menempuh pendidikan S1, S2 dan S3. Gelar S3-nya didapat di usia 23 tahun dengan nilai magna cum laude.

Selepasnya, dia langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan di Jerman. Kemudian setelah lama tak mudik, dia memutuskan untuk kembali pulang ke Bandung. Ketika itulah, dia kembali bertemu dengan Ainun. Dan, langsung mengajak Ainun untuk menikah.
Ainun dibawa oleh Habibie ke Jerman. Sebab dia sudah mendapat posisi yang mapan dan penghargaan yang sangat baik dari perusahaan tempatnya bekerja juga demi niatnya mengambil program Doktoral di sana. Puncak karirnya, dia menjabat sebagai Vice President dan Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi di tempatnya bekerja. Ketika itu, dia merupakan orang Indonesia pertama yang menempati jabatan sementereng itu. Sebuah prestasi gemilang anak negeri ini.

Kemudian, rasa nasionalisme yang tinggi memanggilnya untuk kembali ke tanah air. Hingga kemudian menjadi orang nomor satu di negeri ini. Meskipun, karena jahatnya makar politik, dia dilengserkan.
Yang kita fahami, bahwa kebaikan tak akan luruh hanya karena komentar dan persepsi orang kebanyakan. Begitupun dengan Habibie, di luar “buruknya” catatan politik beliau oleh musuh-musuh politiknya, beliau adalah sosok yang amat dicintai oleh negeri ini dan rakyatnya.

Lantas, apa yang sebenarnya menjadi rumus kehidupan yang ditempuh oleh Habibie sehingga bisa menjadi pribadi secemerlang ini? Apa saja kiat-kiat yang sudah dijalani dan berhasil diterapkannya? Bagiamana seharunya kita berbuat untuk meneladani kecemerlangan yang telah diraih oleh Eyang kita ini?

Buku ini menjawab semua pertanyaan itu. Di dalamnya ada 50 kiat yang telah dipraktekan dengan sangat baik dan mendapatkan hasil yang gilang-gemilang. Disampaikan dengan ringan namun fokus kepada poin-nya membuat buku ini layak dinikmati oleh seluruh anak negeri. Agar mereka mengetahui sejarah tokoh bangsa dan bagaimana heroismenya dalam berjuang.

Yang tak kalah menariknya, di dalam buku ini dihiasi banyak foto. Mulai dari Habibe dan Ainun kecil, pernikahan keduanya, saat-saat kuliah di Jerman, umrah, liburan, menjadi Kepala Negara, dan sebagainya. Sehingga buku ini, semacam album yang membebarkan kepada kita tentang sosok Habibie dengan segala keunikan dan kelebihannya dari masa ke masa.

Salah satu hal yang penting dicatat untuk dijadikan pelajaran berharga, adalah tentang manajemen waktu Presiden ketiga Republik ini. Beliau membagi waktunya dengan amat baik melalui kegiatan yang sangat positif dan jelas tujuannya.

“Saya membutuhkan untuk tidur 5 jam, 2 jam untuk Shalat, 1,5 jam untuk membaca Yasin dan Tahlil, 2 jam berenang dan mandi, 3 jam makan dan 3 jam untuk menerima tamu. Sisanya (7,5 jam) saya butuhkan untuk membaca dan menulis.” (h. 171)
Bagaimana dengan kita?[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com


Powered by Blogger.