Header Ads

Aksi Bela Islam

Surat Cinta dari Cucu Murid untuk Kiai Mustafa Bisri Gus Mus

Gus Mus (Ilustrasi-YouTube)



Tulisan ini lahir atas nama cinta santri kepada Kiainya. Ditulis oleh cucu murid Kiai Mustafa Bisri Gus Mus. Tulisan yang santun dan moderat. Merupakan bentuk pengamalan atas nasihat untuk saling mengingatkan. Meski ringan, rasanya makjleb


Ngaturaken Sedaya Kelepatan, Mbah!
Oleh: Abrar Rifa'i

Lautan itu sudah asin, tidak mungkin saya garami. Itik itu sudah pandai berenang, tidak mungkin saya ajari. Angin itu sudah kencang berhembus, tidak mungkin saya tiup. Langit itu sudah biru, tidak mungkin saya cat lagi. Hanya saja, apapun itu KH. Ahmad Musthafa Bisri tetaplah manusia. Manusia kata Rasulullah saw, khaththa`un (rentan berbuat salah). Jadi manusia siapa saja, selain Nabi dan Rasul sangat mungkin melakukan kelasahan. Termasuk juga Kiai Mustafa. Dan kita semua meyakini bahwa Kiai Mustafa sangat mengetahui dawuh Kanjeng Nabi saw, “Addinun nashihah (Agama itu adalah nasehat)”


Saya ini pernah ngawulo di Pesantren Al-Ibadah Surabaya, asuhan Abuya Luthfi Muhammad. Beliau adalah santri Kiai Mustafa. Jadi kalau diurut saya masih pernah cucu murid dengan Kiai Mustafa. Makanya kemudian saya ngundang beliau, Mbah. Bukan Gus, sebagaimana orang kebanyakan. Kalau Mbah Mus berkunjung ke pondok kami, saya satu diantara santri yang paling bersemangat mijeti beliau. Walau sebenarnya saya tidaklah pandai mijet. :D 

Makanya kemudian dalam banyak hal yang sebenarnya saya tidak sepakat dengan Mbah Mus, saya selalu menghindar untuk mengomentari beliau. Sebab begitulah kultur yang melekat pada dunia pesantren, santri sangat tabu untuk mendebat atau mengkritisi gurunya. Jangankan guru secara langsung. Bahkan pada orang alim secara umum pun, santri tetap harus sangat berhati-hati menyampaikan kritikannya. Ben ora kuwalat! Takut ilmunya tidak barokah

Serius, saya tersentak ketika pada pagi kemarin, Kamis, 24/11/2016 saya mendapati kicauan Mbah Mus di Twitter, viral di berbagai social media. Mbah Mus memberikan pernyataan bahwa shalat Jum’at yang direncanakan sebagai bentuk Aksi Bela Islam III di Jakarta pada Tanggal 2 Desember 2016 yang akan datang, adalah bid’ah besar! 

Mbah Mus juga mempertanyakan, apakah shalat tahiyyatul masjid nantinya akan diganti tahiyyatut thariq atau tahiyyatus syari’? Lebih jauh Mbah Mus bertanya landasan Qur`an dan hadisnya. Contoh atau pembolehan dari Rasulullah saw, Sahabat dan Tabi’in. Soalan yang Mbah Mus sampaikan ini sangat identik dengan orang-orang salafi yang selama ini kita stigmakan sebagai Wahhabi. So, khusus twitan Mbah Mus yang ini gak NU banget deh! 



Mbah Mus berkicau dengan bahasa yang halus, sebagaimana gaya beliau selama ini. Bahkan di akhir kicauannya, Mbah Mus menulis, “In uridu illal islaha mastatha’tu (Aku tidaklah mengharapkan apapun kecuali kebaikann, semampuku)” 

Namun sehalus apapun Mbah Mus menyampaikannya, termasuk juga dibumbui pernyataan tiada pretensi apapun, orang secara umum tetap akan menyimpulkan bahwa Mbah Mus sengaja menembak peserta Aksi Bela Islam III nanti. Terbukti memang, mereka yang kontra Aksi 212 memakai kicauan Mbah Mus sebagai senjata. Dan yang pro Aksi 212 langsung menyerang Mbah Mus. Kasihan Mbah Mus. 

Padahal Mbah Mus mboten kerso kalau pernyataan-pernyataan beliau dijadikan alat untuk saling bermusuhan. Dikutip banyak orang, baik yang pro atau pun kontra. Dibahas, mulai yang paling ilmiah sampai yang sekedar guyon dan meledek beliau. Bahkan ada seorang anak muda, sangat kurang ajar, ngatain Mbah Mus, ‘nDasmu!’. Ini anak, kalau ada di dekat saya, sudah saya tendang!

Dalem ngaturaken sedaya kelepatan, Mbah, kemarin sempat bertanya, “Sejak kapan Mbah Mus bekerja sama dengan orang-orang Wahhabi, suka membid’ah-bid’ahkan orang Islam lainnya yang tidak sepaham dengan mereka?” 

Tapi dengan banyak pertimbangan, status di Facebook tersebut sudah saya hapus. Takok cangkolang, katanya orang Madura. Namun dengan berbagai pertimbangan pula akhirnya status tersebut saya lengkapi sekalian dengan note ini. 

Akhirnya saya tetap berharap bahwa kelak Allah akan bersaksi bahwa saya adalah satu di antara orang yang sangat mengagumi Mbah Mus. Saya termasuk satu di antara orang yang memperoleh banyak manfaat dari manusia yang bernama Mustafa Bisri. Walau mungkin saya tidak diakui sebagai santri. Walau mungkin garis politik saya dengan beliau berbeda. Wallahu ‘ala maa aqulu syahid.

Diedit oleh Om Pir [Tarbawia]

3 comments:

Powered by Blogger.