Enggan Dipimpin Pendukung Penista Agama, Alumni 411 dan 212 Ini Rela Kehilangan Gaji Puluhan Juta dan Fasilitas Mewah Perusahaan



Peserta Aksi 212 peras sajadah basah (ilustrasi-Bela Quran-FB)



Ada begitu banyak kisah kepahlawanan dan keberanian yang lahir akhi-akhir ini, setelah rangkaian digelarnya Aksi Damai Bela Islam jilid I, II, dan III. Kisah-kisah yang mulanya hanya terdapat di dalam buku-buku motivasi ini menjadi nyata. Pelakunya hidup. Pesan keberanian dan kepahlawanannya pun benar-benar berresonansi.


Laki-laki ini menjadi satu diantara yang wangi dalam catatan sejarah kaum Muslimin negeri ini. Cerdas. Punya dedikasi. Ia pun diganjar mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Ditugaskan di salah satu cabang di sekitar Jabodetabek.

Gajinya berada di kisaran angka belasan juta lengkap dengan fasilitas mobil yang bebas digunakan untuk keperluan keluarganya. Sebuah posisi yang menjadi impian bagi puluhan bahkan ratusan juta orang yang memilih menjadi karyawan atau pekerja.

Hari itu, si laki-laki diundang untuk rapat bersama Pimpinan Perusahaan di kantor pusat. Rapat penuh semangat. Berbagai kebijakan strategis berhasil diteken dan siap dijalankan oleh seluruh organ dalam perusahaan tersebut.

Dalam sesi usai rapat, ada diskusi tak resmi di meja makan. Pimpinan perusahaan bertutur kepada laki-laki di hadapannya itu. "Ahok tidak salah. Dia tidak menista Al-Qur'an. Kami bahkan sudah memproses laporan agar MUI dibubarkan. MUI yang salah."

Kalimat semakna itu bak petir bagi si laki-laki. Ia yang hendak emosi bergegas mengatur tempo perasaan dengan menyebut nama-nama Allah Ta'ala. Dalam hitungan jenak, si laki-laki menyampaikan keputusan yang kelak dicatat abadi dalam tinta sejarah.

"Setelah mendengar kalimat Bapak barusan, saya berpikir bahwa kita mustahil bekerja sama lagi untuk ke depannya," ujar si laki-laki santun, tegas, dan berani.

Si laki-laki menyerahkan kunci mobil perusahaan kepada Pimpinan Perusahaan. Ia pulang dengan menaiki kereta listrik Jabodetabek.

Saat ini, si laki-laki sedang memulai usaha baru. Mohon doanya dari sahabat Tarbawia. Laki-laki ini merupakan alumni 411 dan 212. [Tarbawia/Om Pir]

*Ditulis bebas dari kisah yang disampaikan Ustadz Anshari Taslim. Ustadz Anshari Taslim sudah memberi izin kepada Tarbawia untuk membagikan (menulskan ulang) kisah ini.
Powered by Blogger.