Header Ads

Hadits 8: Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir


Alhamdulillah, hadits-hadits dalam Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu), telah kita selesaikan dengan diakhiri oleh hadits ke-7 yang sangat panjang pada pekan lalu.

Kini kita akan mulai membahas hadits-hadits Shahih Bukhari dalam Kitab Iman (كتاب الايمان). Hadits ke-8 yang akan kita kaji ini diberi bab doamu adalah imanmu (باب دُعَاؤُكُمْ إِيمَانُكُمْ) oleh Imam Bukhari. Namun untuk lebih memudahkan dan familiar dengan matan haditsnya, Bersama Dakwah memberikan judul Rukun Islam dengan Puasa Ramadhan Disebut Terakhir untuk hadits ini, sebagaimana judul bab yang disebutkan Imam Bukhari di awal kitab Iman, kemudian diikuti oleh ayat-ayat Al-Qur'an sebagai mukaddimahnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Islam dibangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji, dan puasa Ramadhan."

Penjelasan Hadits

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ
Islam dibangun di atas lima (dasar)

Lima dasar yang disebutkan setelah hadits ini dikenal sebagai rukun Islam, sebagaimana Muslim memberikan judul untuk hadits serupa dengan ini dalam Shahih-nya. Diantaranya pada bab kelima dalam kitab Iman.

Ketika memberikan penjelasan hadits ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjawab pertanyaan mengapa jihad tidak dimasukkan rukun Islam. Ini menggambarkan perbedaan yang cukup jauh antara umat Islam hari ini dengan para salafusshalih ataupun zaman Ibnu Hajar. Jika mereka dulu sangat antusias dengan jihad dan memahaminya sebagai perkara sangat besar hingga pantaslah kiranya dimasukkan sebagai rukun Islam, umat Islam di masa sekarang justru alergi terhadap istilah itu. Ghazwul fikri yang dilancarkan barat ternyata menampakkan hasilnya.

Bagaimana jawaban Ibnu Hajar? "Jihad tidak masuk dalam hadits ini," kata beliau, "karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu." Lalu beliau menegaskan bahwa jawaban ini merupakan jawaban Ibnu Umar juga. Sementara jawaban lain diberikan oleh Ibnu Bathal yang berargumen jihad tidak disebutkan karena hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad. Namun argumen ini dikritik karena sampai akhir hayat Rasulullah pun tidak ada hadits lain yang menasakh hadits di atas sehingga rukun Islam tetap lima.

أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Dasar Islam yang pertama adalah kesaksian bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Syahadat. Jika ditanyakan mengapa tidak disebutkan iman kepada malaikat, hari kiamat, dan lainnya, Ibnu Hajar menjawab karena syahadat yang membenarkan Muhammad sebagai Rasulullah berarti juga membenarkan seluruh ajarannya, termasuk dalam hal aqidah atau keimanan terhadap berbagai hal yang disebutkan dalam rukun Iman.

وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
mendirikan shalat, membayar zakat

Shalat dan zakat adalah dua hal yang seiring dan sejalan. Baik dalam hadits maupun dalam Al-Qur'an. Shalat merupakan ibadah yang berdimensi hablun minallah, sementara zakat lebih dominan pada hablun minannas karena dengannya bisa terwujud keharmonisan dalam masyarakat antara si kaya dan si miskin, mengurangi kesenjangan antara keduanya, dan upaya pemerataan kesempatan yang ideal.

وَالْحَجِّ
menunaikan haji

Yakni bagi yang mampu

، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dan puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan disebutkan setelah haji dalam hadits, menurut Ibnu Hajar bukan karena Rasulullah melafadzkan hadits ini dalam dua bentuk yang berbeda dari lainnya (kadang puasa dulu, kadang haji disebutkan dulu). Akan tetapi hadits riwayat Handhalah, dari Abu Sufyan, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar yang dikeluarkan Imam Bukhari ini merupakan hadits bil makna, yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya, bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah. Hadits yang sama dengan puasa Ramadhan disebutkan sebelum haji diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar. Di sana seseorang berkata "Haji dan puasa Ramadhan," lalu Ibnu Umar membetulkan, "Tidak, puasa Ramadhan dan haji."

Pelajaran Hadits:
Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah:
1. Dasar/rukun Islam ada 5, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji. Barangsiapa meninggalkan atau melanggar 5 rukun ini Islamnya tidak sah. Misalnya seseorang yang tidak mau shalat, atau tidak mau zakat padahal hartanya sudah mencapai nishab dan haul.
2. Sesuai lafazh hadits di atas, "buniyal Islam", hadits ini tidak membatasi Islam hanya terdiri dari 5 hal itu. Sebagaimana kalimat "rumah itu dibangun di atas lima pilar", maka rumah bukan hanya terdiri dari lima pilar itu melainkan masih ada bagian atau unsur lainnya seperti dinding, atap, jendela, dan sebagainya.
3. Boleh meriwayatkan hadits bil makna. Ini berbeda dengan Al-Qur'an yang dalam periwayatannya harus bil lafdzi juga (lafadz sebagaimana yang difirmankan Allah).

Demikian hadits ke-8 Shahih Bukhari dan penjelasannya, semoga bermanfaat untuk menambah pemahaman Islam kita, dan mengingatkan kita untuk menetapi Islam dengan menjalankan rukun Islam dan seluruh ajaran Rasulullah SAW. Wallaahu a'lam bish shawab. []

KEMBALI KE HADITS 7

Untuk membuka seluruh hadits dengan mudah melalui DAFTAR ISI, silahkan klik
KUMPULAN HADITS SHAHIH BUKHARI
Powered by Blogger.