Header Ads

Aksi Bela Islam

Hari Solidaritas Jilbab Internasional


Delapan tahun lalu, tokoh-tokoh Islam di seluruh Eropa menggelar konferensi di London, Inggris. Dihadiri 300 delegasi dari 102 organisasi serta ulama internasional seperti Syaikh Yusuf Qardhawi, konferensi itu digelar untuk mendukung jilbab, sebagai reaksi atas keputusan pemerintah Perancis yang melarang jilbab di lembaga-lembaga pendidikan dan institusi publik.

Konferensi menghasilkan keputusan membentuk Assembly for the Protection of Hijab (Majelis untuk Perlindungan Jilbab) dan mendeklarasikan tanggal 4 September sebagai International Hijab Solidarity Day (Hari Solidaritas Jilbab Internasional).

Sejak 2004 itu, tanggal 4 September diperingati sebagai Hari Solidaritas Jilbab Internasional. Semangatnya adalah dukungan kepada muslimah untuk berjilbab serta pembelaan hak mereka untuk berjilbab tanpa larangan.

Nyatanya, selain Perancis, ada sejumlah negara lainnya yang juga melarang jilbab. Namun para muslimah yang komitmen dengan Islam memilih mempertahankan jilbabnya meskipun dengan berbagai resiko yang dihadapinya.

Belgia menjadi negara Eropa kedua yang melarang jilbab setelah Perancis. Pemerintah negeri itu membuat ketentuan baru melarang pemakaian jilbab di sekolah negeri. Tak lama setelah larangan itu diumumkan pada Oktober 2011, ratusan remaja muslimah menggelar demonstrasi di Brussel, ibu kota Belgia, menentang larangan berjilbab.

Di Uzbekistan, larangan jilbab masih diberlakukan. Larangan sejak 2008 itu semakin diperketat pada triwulan pertama tahun ini. Bahkan, warga yang ketahuan menjual jilbab di pasar-pasar pun diancam denda dan disita produknya.

Selain pelarangan oleh pemerintah, tantangan berjilbab juga datang dari intitusi perusahaan, sekolah atau individu. Tak sedikit muslimah yang menjadi korban islamophobia seperti itu.

Salah satunya adalah Marwa El-Sharbini. Ia adalah muslimah keturunan Mesir yang tinggal di Jerman. Gara-gara mengenakan jilbab, apoteker kelahiran 7 Oktober 1977 itu disebut "teroris" oleh Alex W, warga Jerman keturunan Rusia. Marwa mengajukan gugatan ke pengadilan atas penghinaan itu. Ketika pengadilan digelar tanggal 1 Juli 2009 di Dresden, Alex menikam Marwa. Tim medis tak berhasil menyelamatkan Marwa. Ia pun menjadi syuhada pada hari itu. Media Mesir marah atas insiden itu dan mereka memberikan gelar kepada Marwa sebagai "syuhada jilbab." Selanjutnya, 1 Juli diperingati sebagai Hari Jilbab Internasional (International Hijab Day).

Di Indonesia, di negeri kita tercinta, tantangan berjilbab relatif lebih ringan. Meskipun ada sejumlah kasus larangan jilbab oleh pihak-pihak tertentu seperti kasus Geeta International School, sejumlah perusahaan dan rumah sakit, kasus-kasus itu bisa diselesaikan setelah mencuat ke publik.

Maka dengan kebebasan yang ada, apa lagi yang menghalangimu, wahai saudariku muslimah, untuk berjilbab? Bukankah pemerintah tak pernah menghalangimu berjilbab?

Mungkin kau menjawab: nanti kalau sudah dapat hidayah.
Bukankah hidayah Allah sudah memanggilmu? tinggal engkau mau menyambut hidayah itu atau menundanya. Dan siapakah yang menjamin usiamu saat kau menunda-nunda menyambut hidayah itu?

Mungkin kau menjawab: kalau aku berjilbab, nanti susah kerja?
Bukankah Allah yang Maha Pemberi Rezeki? Dan sekarang instansi pemerintah tak melarang PNS berjilbab. Pun, sangat banyak perusahaan dan lembaga pendidikan yang memperbolehkan karyawannya berjilbab. Apalagi jika engkau menjadi enterpreneur muslimah atau berwirausaha tanpa keluar rumah, kau bebas menentukan aturannya.

Mungkin kau menjawab: yang penting hatinya "berjilbab"
Bukankah tanda hati yang "berjilbab", hati yang baik, adalah taat pada perintahNya? Salah satunya adalah jilbab. Tak perlu menunggu menjadi muslimah yang sempurna baru berjilbab, tetapi berjilbablah dan secara bertahap kita memperbaiki kualitas diri dan akhlak kita. Insya Allah ketaatan kita akan mengundang kebaikan-kebaikan berikutnya.

Selamat hari solidaritas jilbab internasional. [Muchlisin]

No comments

Powered by Blogger.