Header Ads

Aksi Bela Islam

Hadiahku, Wasilah Menjemput HidayahNya

Di zaman sekarang, sarana dakwah telah berkembang. Kita bisa berdakwah secara tidak langsung, yakni dengan meminjamkan atau memberikan hadiah berupa kaset-kaset pengajian (audio/audio visual) atau buku-buku Islam yang menggugah. Dakwah dengan cara ini memiliki banyak kelebihan, yang diantaranya:

1. Tidak terkesan menggurui.
2. Materi lebih berbobot karena pemateri adalah seorang yang memang berilmu dan lebih bertakwa.
3. Penjelasan materi lebih detail.
4. Luwes dalam penggunaan waktu, karena dapat diputar atau di baca ketika saudara kita punya waktu luang.
5. Cara ini paling mudah dilakukan karena paling halus dalam masuk ke topik agama.

Adapun kelemahan tetap ada meskipun sebenarnya lebih kecil, yaitu diantaranya:
1. Bisa jadi materi tidak pas dengan keadaan, mood atau problematika dan latar belakangnya.
2. Bisa saja buku itu tidak dibaca atau kaset itu tidak disetel.

Dalam kenyataan sehari-hari cara ini sesungguhnya banyak membuahkan hasil. Secara umum saudara kita sangat menghargai pemberian saudaranya. Ini adalah fitrah di mana seseorang amat menyukai hadiah dan akan timbul di dalam hatinya rasa kasih kepada yang memberinya, sebagaimana hadiah merupakan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ingat hadiah maka aku teringat dengan kisah yang aku alami terhadap saudara jauh aku yang ada di seberang sana, waktu itu.

Ketika dia akan pulang ke desa tempat kota kelahirannya aku bermaksud membelikannya sebuah hadiah. Akan tetapi hadiah itu bukanlah sebagai tanda kasih sayang seperti biasanya, karena dia dia bukanlah seorang muslim yang taat kebanyakan yang aku kenal. Boro-boro taat, shalat hanya Syarib (Isya’ dan Maghrib). Hadiah yang aku harapkan adalah sesuatu yang bisa mengguggahnya agar mengenal Islam lebih dalam.

Selama ini aku tak mampu berdakwah kepadanya secara langsung melalui penjelasan atau perdebatan. Maksimal aku hanya bisa memberinya teladan. Kadangkala ketika dia butuh seorang teman dan mengajak ngobrol selagi aku pas ada waktu maka aku temani. Beginilah akhlak orang Islam terlebih yang mengaku dirinya yang bertaqwa. Akan tetapi, sebentar lagi dia akan pulang ke kampung halaman karena permintaan orang tuanya yang sudah tua dan lagi mulai sakit-sakitan. Aku harus berbuat sesuatu untuknya.

Ketika aku berjalan-jalan di Surabaya pas ada acara pertemuan aktivis dakwah, maka aku sempatkan untuk mampir ke toko buku lslam yang sudah menjadi langganan saya ketika harus membeli buku. Di toko buku itulah aku melihat sebuah buku ber-cover putih dan warna hijau tulisan judul buku tersebut yang nampaknya cukup menarik dan pas untuk dibaca orang yang belum kenal Islam. Aku lihat harganya, ehm teramat murah untuk sebuah hadiah. Hanya beberapa ribu rupiah. Apakah pantas buku ini aku berikan sebagai hadiah? Dan aku teringat akan hadits Rasulullah tentang antar satu sama lain sesama muslim untuk senantiasa saling memberi. “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)

Hadits ini menyatakan bahwa saling memberi hadiah merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum Muslim. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata, mengikuti al-Hakim, “Jika dengan tasydîd maka itu berasal dari al-mahabbah dan jika tidak dengan tasydîd maka itu berasal dari al-muhâbâh. Hal itu karena hadiah termasuk bagian dari akhlak Islam yang ditunjukkan oleh para nabi di didorong oleh para pengganti mereka di antara para wali; (bisa) melembutkan hati dan melenyapkan kemarahan di dalam dada.”

Hadiah adalah pemberian dalam makna pemindahan kepemilikan suatu harta kepada pihak lain karena adanya hubungan, untuk menjalin kedekatan dan kasih sayang, atau sebagai penghormatan.

Singkatnya, buku itu aku beli dan aku berikan kepadanya. Waktu berlalu begitu cepatnya dan tak terasa telah setahun sudah. Aku pun sebenarnya sudah melupakan perihal itu hingga tiba-tiba aku mendapat sms dari nomor yang asing yang masuk ke layar hpku. Aku tidak mengenal nomor itu, dari mana ia tahu nomorku. Setelah aku baca isi sms itu barulah aku paham bahwa ternyata sms itu dari dia. Nomornya telah berganti dengan nomor yang baru. Ia bercerita bahwa buku itulah yang membuatnya penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Islam, kemudian ia banyak membaca buku-buku tentang Islam lainnya dan bertanya dengan seorang ustadz yang ada di kotanya. Dan sekarang ia telah menjadi seorang muslim yang memegang prinsip Islam yang mengakar kuat pada pribadinya.

Dalam hati aku membatin dan bertanya bagaimana bisa semudah ini ya Allah? Hanya dengan sebuah buku yang tak seberapa harganya ternyata bisa mengubah nasib orang, dan bukan sembarang nasib. Nasib yang mempertaruhkan akidah seseorang. Memang bener-benar kita tidak boleh meremehkan suatu perbuatan yang nampaknya kecil dari sudut pandang kita tapi tidak di pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan dengan kejadian ini aku mengazzamkan diri untuk senantiasa memberikan hadiah berupa buku kepada siapa dalam kesempatan apa bagaimana dan dimanapun berada.

Yuk kita semarakkan sunnah Rasulullah dengan gemar memberi kepada sesama kita. Memberi tidak harus dengan yang mahal hingga jutaan yang ribuan saja juga tidak masalah ketika membawa makna bagi yang menerima itu lebih berkah syukur-syukur yang jutaan bagi mereka yang membutuhkan. Wallahu a’lam [Mija Akhmadt]

No comments

Powered by Blogger.