Header Ads

Klarifikasi Berita "Oknum Guru Paksa Siswa Injak Al Qur'an"

Mushaf Al Qur'an - ilustrasi
Berikut ini adalah klarifikasi berita "Oknum Guru Paksa Siswa Injak Al Qur'an" yang disampaikan pihak keluarga Guru kepada bersamadakwah:

Salam,
Ba'da tahmid wa sholawat
Saya adalah pembaca bersamadakwah dan sering menshare berita-berita dari fb.

Saya kebetulan kaget mengenai berita Guru Paksa murid injak Al Qur'an karena kebetulan berita tersebut adalah tempat di mana adik saya mengajar. Dan lebih kaget lagi ketika saya telpon ibu saya ternyata oknum guru yang dimaksud adalah adik saya sendiri. Ternyata dia diminta kepala sekolah untuk mengurus murid-murid tersebut sebagai kapasitas wakil kepala sekolah (tapi memang sebenarnya bukan bidang dia untuk menangani karena bidangnya adalah kurikulum bukan kesiswaan, di sini pun ada kesalahan).

Saya tanyakan apa yang terjadi, dan menurut saya pemberitaan yang pertama kali bahwa Guru tersebut yang memaksa murid untuk menginjak Al Qur'an adalah tidak benar. Karena yang melontarkan untuk bersumpah menginjak Al Qur'an adalah dari murid itu sendiri. Adik saya menjawab "silakan jika ingin bersumpah, itu urusan kamu."

Kesalahan adik saya adalah dia tidak menyangka bahwa si murid benar-benar akan melakukannya. Apalagi kejadiannya di ruang guru dan banyak guru yang lain dan saat itu dia salah memang karena meladeni tantangan si murid. Yang dia tidak menyangka adalah saat itu tidak ada Al Qur'an di dekatnya dan anak-anak tidak membawa Al Quran. Namun, ada tafsir dan terjemah Al Quran yang baru, pembagian untuk sekolah ada beberapa jilid dan terambil oleh si murid. Kesalahan guru tersebut bahwa ada jeda waktu buat si murid mengambil dan itupun tidak melarang. Saya dari sisi ini mengakui bahwa memang ada kesalahan dari adik saya, tapi apakah 'bersamadakwah' berhak menjudge adik saya yang melakukan penistaan terhadap agama? Saya kenal adik saya dan sampai saat ini beliau masih shalat dan masih mengaji dan beliau juga tidak pernah terpikir untuk memberikan hukuman yang melanggar perintah agama.

Dari hari pertama saya lihat berita tersebut saya sampai menelpon ke Bengkulu dan bertanya ke beberapa pihak, kakak saya juga sudah men-clear-kan bahwa dia sudah ditelpon langsung oleh kemenag Bengkulu bahwa tidak terjadi penistaan agama dan masing-masing pihak sudah meminta maaf dan mohon tidak diungkit-ungkit lagi beritanya. Makanya saya cukup kaget ketika tadi pagi suami saya bilang masih ada berita di bersamadakwah. Kakak saya sudah bertemu wartawan yang di Bengkulu dan mengatakan 'Puas, kamu sudah menghancurkan hidup seseorang'....

Beberapa wartawan ada yang meminta maaf kepada adik saya namun kalam sudah tersebar, apa yang sudah tersebar tak bisa ditarik balik. Saat ini kakak saya hanya concern dengan ibu saya yang memang 'emosi'nya cenderung tak tertahankan.
Saya merasa perlu menghubungi 'bersamadakwah' karena media ini adalah media online yang dibaca oleh penduduk jagat ini, tak ada batasan Negara lagi. Dan yang pertama kali 'share' berita ini adalah suami saya tanpa 'tabayun' terhadap isi berita.

Di Bengkulu sendiri sudah 'selesai' beritanya karena sudah bertemu semua pihak. Saya juga melihat status facebook adik saya beberapa hari lalu yang merupakan penyesalan dia dan saya juga berharap taubat yang dia lakukan akan menjadikan dia lebih baik di masa mendatang.

Afwan wa jazakumullahu khairan katsiraa.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi wabarakatuh
Mewakili pihak keluarga

Susi Mulia Sari


Powered by Blogger.