Header Ads

Aksi Bela Islam

Sebuah Fragmen Persiapan Pemimpin Masa Depan

Ilustrasi aktifis dakwah kampus (foto Dakwatuna)
Jika kau hidup untuk dirimu sendiri… maka bolehlah kau terpuruk selamanya..
tetapi lihat kiri-kananmu… lihat mereka… wajah-wajah itu.. harapan–harapan itu…

bangkitlah kawan… kaulah pelita di remangnya realita…!! kau istimewa bersama dakwah..!!!

#karena kita seorang muslim…!!


[Sarwo Widodo Arachnida]

“Interupsi…! Saudara pimpinan…” ucap pria muda yang ada di ujung pojok kanan ruangan dengan logat tegas, khas luar jawa. “Ana rasa sebelum palu keputusan diketuk ada baiknya kita tinjau kembali dan menyamakan persepsi mengenai laporan pertanggungjawaban kali ini… ” lanjutnya dengan nada yang cukup serius. Setelah beberapa argumentasi akhirnya keputusan pun diambil, palu pimpinan “sidang” diketuk di atas meja.

Selang berapa waktu, peserta sidang terbagi menjadi dua dan masing-masing berpisah menuju tempat berbeda untuk melanjutkan “sidang” sesuai tema pembahasan yang telah tertera. Dan ternyata, meski di ruangan yang berbeda greget pria muda itu masih sama. Penuh perhatian dengan tema, mengulas permasalahan dengan gamblang dan berusaha memaparkan solusi sambil sesekali membaca teliti kertas draf yang terpegang oleh jari. Dan ia tidak sendiri, hampir sepertiga perserta “sidang” yang saya ikuti memiliki tipikal yang sama.

Jangan salah… yang saya ikuti bukanlah para anggota legislatif di gedung dewan sana. Mereka yang ada di hadapan saya murni masih mahasiswa. Mereka para calon pemimpin masa depan negeri ini, mereka tengah melaksanakan Musyawarah Daerah KAMMI Surabaya di gedung sederhana daerah pinggiran kota Pahlawan.

Subhanallah…!!! Saya katakan lirih dalam hati. Sejatinya Republik ini belum benar- benar kehilangan harapan… masih ada pemuda dan pemudinya yang memiliki rasa peduli dengan masa depan negeri ini. Merekalah nantinya yang diharapkan jadi pengusung aspirasi umat lewat pintu birokrasi. Dan lewat agenda –agenda semacam itulah mereka ber-tafaqquh, menempa dan meningkatkan kompetensi mereka. Sebab bukan tidak mungkin berapa tahun lagi ke depan di tangan merekalah tampuk kepemimpinan negeri ini. Dan ketika saat itu tiba mereka harus sudah siap.

Sebagaimana pesan hikmah Khalifah Umar bin Khattab berikut ini,
“Bertafaqquhlah kalian(bangun kompetensi) sebelum kalian menjadi pemimpin, sebab setelah kalian menjadi pemimpin, tidak akan ada lagi cukup waktu untuk bertafaqquh”

Begitu hakikatnya mahasiswa sejati. Bukan hanya lembar–lembar buku diktat kuliah yang penuh teori saja yang mesti dipelajari. Tak hanya duduk manis sambil terkantuk-kantuk mendengar kuliah dari dosen yang mengisi materi. Tak sekedar menghabiskan waktu beberapa tahunnya di bangku kuliah hanya demi selembar ijazah sarjana saja yang menjadi orientasi. Bukan… bukan itu mahasiswa sejati.

Sejatinya, mahasiswa adalah sosok yang berbeda. Mereka lebih cerdas dan berilmu dari pada anak muda biasa. Mahasiswa mempunyai kesempatan lebih untuk meningkatkan kompetensi dan menemukan hakikat dirinya. Apalagi mahasiswa muslim, mereka memiliki “beban” tanggung jawab lebih yakni bagaimana meski tengah mencari ilmu, mereka tetap bisa dengan segera mengamalkan ilmu dan memberi manfaat bagi umat. Bagi mereka pun turut berlaku Sabda Nabi: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.)

Menjadi mahasiwa yang bermanfaat bagi umat, caranya beragam. Salah satunya yang bisa dipilih yakni ikut aktif dalam organisasi pergerakan mahasiswa yang tepat. Organisasi yang tidak hanya sekedar memfasilitasi hobi dan kesenangan yang sifatnya pribadi. Alangkah lebih baik dan lebih bijak jika bergabung dengan organisasi mahasiswa yang bisa memberi ruang bagi potensi yang dimiliki serta mampu menjembatani untuk meningkatkan kompetensi diri. Dan tentu saja, organisasi yang mampu melindungi idealisme kita sebagai seorang muslim. Organisasi yang tetap membuat ibadah–ibadah harian kita baik yang wajib maupun sunnah tetap terjaga di tengah kesibukan menjalankan roda organisasi. Bahkan jika bisa, malah justru memotivasi kita untuk meningkatkannya. Dan organisasi yang kita ikuti tersebut turut pula mengasah kepekaan sosial kita terhadap problematika masyarakat dan berusaha berfikir dan bekerja inovatif memberi solusi nyata bagi permasalahan tersebut.

Maka bagi mahasiswa adalah penting untuk peka dan selektif memilih organisasi yang akan diikuti. Dan biasanya organisasi yang layak jadi rekomendasi adalah organisasi yang mengusung bendera dakwah. Bukan berarti di dalamnya isinya kajian melulu. Atau membuat gengsi kita menurun sebagai mahasiswa karena trekesan udik dan terbelakang. Justru biasanya organisasi yang bernaung di bawah bendera dakwah justru menjanjikan paket lengkap. Sisi Akademis, manajerial, kepemimpinan, kepekaan sosial dan religiusitas terakomodir dengan memadai.

Tidak percaya. Coba saja…!!! [Kembang Pelangi]


No comments

Powered by Blogger.