Header Ads

Aksi Bela Islam

Cintaku di Ujung Dakwah

Akhwat (desainkawanimut)
Usai sekolah SMA aku memutuskan untuk hijrah ke kota besar Jakarta, pergi ke sana berniat kerja di kota tersebut. Tidak sulit bagiku untuk mendapat suatu pekerjaan, menjadi asisten dokter di sebuah klinik kecantikan.Bagini rasanya hidup di Jakarta, harus siap dengan resiko yang datang silih berganti. Pertama kali interview di klinik dengan dokter yang backgroundnya non muslim, otomatis melarangku untuk mengenakan jilbab dan aku menurutinya. Bahkan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri, tidak bisa memutuskan suatu perkara mana yang baik dan mana yang buruk, hmm...

Satu tahun berlalu, hari-hari kulalui penuh dengan tekanan rumit, pergulatan antara batin dan fikir, penyesalan mulai menghampiri hatiku, sejak awal bekerja “aku belum rela untuk melepas jilbabku ini, tapii...aku butuh pekerjaan itu”. Betapa bodohnya aku dulu. Akal sehatku mulai tercemar, berangkat kerja berjilbab.. tapi apa yang aku lakukan di bis aku lepas jilbab itu. Sungguh memalukan padahal gaji yang kudapat tidaklah seberapa. Bertubi-tubi perasaan bersalah menyelinap di hatiku."Ada apa denganmu Hasna? Tak malukah kamu terhadap Allah? Kamu sudah berkhianat, mengacuhkan penglihatan Allah". Aku menangis....:’(

Kehidupan lingkunganku juga tak nyaman, lebih rumit dan memprihatinkan. Senggol, bacok antar sesama tidak mengenal itu kawan, bagi mereka semua menjadi lawan, perselisihan, persaingan, pengkhinatan, perselingkuhan, gibah, memfitnah, adu domba,cari muka dsb. Semua itu menjadi lalapan tiap hari mereka. Sedikit kebaikan yang ada di tempat itu. Sungguh memprihatinkan!. Entah apa yang membuatku mampu bertahan hingga 2 tahun kurang 2 bulan. Diriku memang tidak bergeming dengan kehidupan seperti itu aku tetap berada di jalur benar sesuai ajaran guru ngaji dan orang tuaku, aku tetap melakukan rutinitasku sebagai seorang muslimah, rajin mengkaji Al Qur’an dan berdakwah kepada teman-teman di sekitarku. Tak sedikit yang mencibirku keki.

Hari-hariku mulai galau, bulan ini bulan Ramadhan dan hatiku dipenuhi dengan kerinduan kepada-Nya, penyesalanku yang tak kunjung habis, aku ingin kembali ke kehidupanku yang lama dimana selalu ada keceriaan dan kebaikan. Aku yakin cahaya Ramadhan akan menghampiriku, meski sadar dengan rambutku yang nampak terbuka tanpa hijab, tapi.. hatiku tetap menyeru pada-Nya, berharap pertolongan dari-Nya. Setiap saat aku berdoa, meminta kepada-Nya agar diberikan jalan untuk bisa lepas dari kehidupan seperti ini, aku ingin bertobat, ingin kembali kepada-Mu, kepada ketaatan-Mu Robbku...aku sangat meyakini terkabulnya doa ketika berbuka puasa. “Aku ingin lebih dekat kepada Mu ya Allah...".

Di samping itu, bersyukur memiliki sahabat yang solehah, tak ada lelahnya sahabatku ini, selalu berkesempatan untuk mengajakku pada kebaikan. Waktu itu malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, dia memaksaku untuk ikut itikaf di masjid kota Bogor. Ceritanya untuk berburu malam 1000 kemuliaan... akupun sangat antusias.

Pulang kerja, sore hari aku bergegas berangkat ke Bogor, malunya setiba di kampus sahabat ku itu. Aku berlari-lari kecil lewat belakang persis detektif saja. Berniat melewati jalan pintas malah salah jalan melewati area toilet laki-laki. Kebayang malunya seperti apa. Salahku tidak mendengarkan intruksi sahabatku di atas tangga sana dan ternyata, jalan antara laki-laki dan perempuan ada pembatasnya. Lebih tepatnya seorang akhwat tidak boleh melewati jalan milik ikhwan.. Ya ampun.. dengan polosnya aku.., karena sudah terlanjur, gak bisa mundur, akhirnya loncat pagar berusaha masuk ke jalan akhwat, semua mata akhwat tertuju padaku, mukaku memerah malu tapi aku kagum tak ada satupun ikhwan yang memandangku. Semua kepala mereka tertunduk.

Kulihat sekelilingku.. semua wanita mengenakan pakaian yang longgar juga lebar dengan hijab yang panjang begitu anggun. Aku berdiri mematung “bagaimana denganku?” Betapa malunya diriku, masih mengenakan celana jins panjang dan ketat, meski bajuku lebih panjang hingga ke lutut, aku gugup.. rasanya ingin sekali mengecil seketika dan sembunyi di kantong sahabatku.. ”Wi bagaimana ini Wi? Aku malu..” ujarku.
“Tenang... aku sudah siapkan rok panjang lengkap dengan atributnya, hehe” jawab sahabatku!
Hupst... tarik nafas panjang, betapa pengertian dan betapa nyamannya berpakaian seperti ini. :) "ingin selamanya..." pikirku.

Tidak sampai di situ, betapa asingnya semua kegiatan yang sedang aku hadapi ini, kajian yang menyejukan, tahajud yang mengiris hatiku, aku berdosa begitu besar, berharap Allah menyambut tanganku. Peran sahabat yang setiap saat mengingatkanku, tak bosan mengirimiku sms tausiyah perintah memanjangkan hijab, buku-buku yang kubaca, artikel-artikel di internet membuatku seringkali menangisi dosa pengkhianatan ini, menyesali kebodohan yang aku lakukan, semakin kuat untukku hijrah kembali ke jalan-Nya. Akupun sudah semester 2 kuliah dan berencana untuk mutasi ke Bogor melanjutkan kuliah di sana juga sudah rindu dengan kota asalku itu dan jemu dengan kota samrawut ini. Sudah aku pikirkan selama satu minggu, meminta pendapat orangtua dan sahabat, kemudian aku menghadap dokter sebagai bosku, beliau tidak mengijinkanku, malah memarahiku, apalah katanya “Bundet, mumet..” dengan logat bahasa Jawa kental aku tidak mengerti. Beliau memintaku untuk keluar bulan depan saja baiklah aku terima, bertepatan dengan jadwal pertama masuk kuliah dan tanggal kelahirannku. 

Waktu yang dinanti tiba, 11 september aku sudah meninggalkan kota tersebut dan pindah ke habitat lama yang menyejukan, terasa lega sekali, plong dada ini, aku bertekad akan mengenakan hijabku lagi dengan penampilan yang baru lebih anggun dan sesuai syariat Islam. Tiba di stasiun pukul 07:30, Subhanallah.. sungguh indah, sinar hangat mentari, burung-burung bernyanyi dengan ceria, angin segar menyentuh lembut hijabku, perasaan bahagia tak terkira menyelimuti hatiku, seakan-akan kedatanganku disambut bahagia oleh wajah ceria kota Bogor ku tercinta , semuanya seperti tersenyum padaku, bersyukur atas hijrahku, terutama sahabat yang selalu mendakwahiku, dia mencintaiku karna Allah, dakwahnya menuai kebaikan bagi diriku, dia tidak sia-sia semoga Allah membalasnya, akupun tidak sia-sia, kepergianku membekaskan kebaikan bagi mereka yang kutinggalkan, ada yang mengikuti jejakku, seperti mulai mengenakan hijab, rajin sholat, ngaji, sibuk belajar agama daripada bergosip. Alhamdulillah..semoga Allah meridhoi kami semua.Aamiin..:)

Betapa beruntungnya aku, di Bogor aku bertemu banyak teman akhwat-akhwat tangguh dan solehah, di kampus baruku aku ikut UKM kampus menyangkut kerohanian Islam. Niatku ingin belajar dan mengenal banyak tentang Allah di sana. Dan di situ kebahagiaan tak terkira kudapat, ukhuwah Islamiah yang amat kental, mengenal Allah lebih banyak, saling menyayangi dan mengasihi karena Allah. Aku baru sadar bahwa cintaku di ujung dakwah ini. Inilah cinta.., cinta yang sebenar-benarnya cinta, yaitu cinta kepada Allah yang maha mencipta cinta. 

Penulis : Ida Rofiahtulhasna
Bogor, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

2 comments:

  1. Masya Alloh...
    Sesungguhnya Sekeras apapun manusia berusaha, hanya Alloh lah penentu terakhir usaha-usaha kita, proses itu lebih utama, tujuan akhir hanya Alloh lah yang maha menentukan..

    jadi keep istiqomah!!

    ReplyDelete
  2. pendapat saya ini bukanlah UJUNG DAKWAH namun AWAL DAKWAH.... ^_^
    Karna Dakwah itu tak mempunyai UJUNG

    ReplyDelete

Powered by Blogger.