Header Ads

Aksi Bela Islam

Di Balik Survei Elektabilitas Ahok dan Dukungan Gereja

Ahok (foto Antara)
Awal pekan ini, sejumlah media nasional menampilkan hasil survei Cyrus Network yang menempatkan Ahok sebagai cawapres dengan elektabilitas tertinggi. Menurut survei itu, tingkat elektabilitas Ahok mencapai 21 persen. Ahok mengalahkan tokoh-tokoh lainnya seperti Dahlan Iskan, Hatta Rajasa, dan Hary Tanoesoedibjo.

Hampir bersamaan dengan rilis survei itu, Sekretaris Eksekutif Bidang Marturia Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Favor A. Bancin mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mendukung wacana sejumlah tokoh nasional untuk mengusung pemimpin Kristen di pentas nasional menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 mendatang. Meski secara khusus tidak menyebut nama Ahok, jelas Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menjadi salah satu “kader” yang diperhitungkan.

Kemenangan Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, menurut Amien Rais, tidak lepas dari dukungan kelompok pebisnis kuat yang dikontrol oleh kekuatan politik di belakangnya.

Setelah menjadi Wagub, nama Ahok semakin populer dengan dukungan media yang membesarkannya sejak Pilgub DKI.

Guru Besar Politik UI Iberamsjah menambahkan, popularitas Ahok yang meroket di ibukota tidak diimbangi dengan kepintaran dan kemampuan menonjol dari mantan bupati Belitung Timur tersebut. Ia juga menangkap bahwa di luar DKI Jakarta, Ahok bukanlah sosok yang “familiar.” Karenanya pengamat politik ini mencurigai bahwa survei Cyrus Network cenderung menyesatkan dan terindikasi bayaran.

Lepas dari benar atau tidaknya survei elektabilitas Ahok adalah rekayasa, popularitas Ahok di DKI Jakarta dan wacana pemimpin Kristen 2014 patut diwaspadai. Jika umat Islam tidak menyadari adanya “gerakan” ini, bisa jadi hanya penyesalan yang akan datang kemudian.

Sebelum apa yang dikhawatirkan umat Islam terjadi, umat Islam perlu mengambil langkah perbaikan yang setidaknya meliputi tiga aspek berikut:

1. Pemimpin dan Politisi Muslim
Pemimpin dan politisi Muslim perlu segera mengambil langkah cepat perbaikan. Mereka perlu menyadari bahwa orang seperti Ahok dapat “mengambil hati” sebagian orang karena mengambil langkah seperti Jokowi yang terjun langsung bertemu masyarakat. Di luar arogansi Ahok, ia disukai sebagian orang karena bertemu dan menyapa mereka, dan pada saat bersamaan dibangun citranya oleh media. Apa yang dikatakannya dan apa yang diperbuatnya hampir selalu ditampilkan media, tentu saja, setelah dipoles sedemikian rupa.

Pemimpin dan politisi Muslim sementara ini masih dicitrakan jauh dari masyarakat. Mereka kadang (ditampilkan) “untouchable” dan memiliki jarak psikologis dengan massa. Bahkan, kadang tampak terlalu formil dan “mewah.” Mereka perlu menyadari bahwa kesederhanaan seperti yang dicontohkan Umar bin Khatab dan pemimpin Islam terdahulu adalah nilai yang hingga saat ini masih dirindukan umat. Kedekatan dan ketidakberjarakan dengan masyarakat adalah faktor penting kecintaan masyarakat. Jokowi dan Ahok tidak banyak melakukan perubahan di Jakarta, tetapi kedekatannya dengan masyarakat melalui blusukan adalah faktor penting yang membesarkannya.

2. Tokoh Muslim dan Media
Tidak dapat dipungkiri, media adalah steering yang melambungkan nama Ahok. Entah ada apa di balik media. Entah apa korelasi Ahok dan media.

Tokoh muslim, pemimpin dan politisinya yang telah berbuat lebih banyak bagi masyarakat mungkin tidak mendapat kesempatan yang sama karena tidak terekspose oleh media. Padahal, sebagai pilar keempat demokrasi, media sangat menentukan cita rasa dan mampu mengarahkan pilihan massa. Orang yang baik bisa tampak buruk dalam sekejap karena media. Sebaliknya, orang yang jahat bisa tampak manis karena polesan media dalam waktu yang lama. Tokoh muslim, pemimpin dan politisinya harus dekat dengan media dan memanfaatkannya. Islam harus memiliki media yang setara. Itu idealnya. Tetapi jika belum bisa, setidaknya mereka harus memanfaatkan media-media berkembang milik umat Islam.

3. Umat Islam
Umat Islam, pemilih Islam, mereka perlu menyadari bahwa sedang ada “skenario” menjauhkan umat Islam dari kemenangan politik. Fakta historis sejak dulu selalu menunjukkan seperti itu. Jangan sampai umat Islam menyesal karena salah langkah dan kembali salah langkah. Mungkin saat kelompok yang memusuhi Islam masih kecil, mereka akan tampak jinak. Tetapi saat mereka berkuasa, mereka akan menunjukkan wajah asli mereka. [Jundi Rahman]

39 comments:

  1. Saya tidak peduli mau agama apa yg akan pimpin negara ini, yang pasti selama itu baik untuk semuanya why not, jangan sibuk dengan mencari celah orang lain, tapi buktikan bahwa diri kita lebih baik tanpa harus dengki...

    ReplyDelete
  2. Kalo saya jelas donk harus peduli bahwa pemimpin hrs seakidah, sesuai yang Allah firmankan bahwa tidak boleh memilih pemimpin kafir. itu acuan bagi umat islam.yang tidak bsa ditawar tawar.

    ReplyDelete
  3. betul... seakidah..

    ReplyDelete
  4. Ini negara bukan agama Islam aja. Lu ngatain orang papua,ntt,bali,menado kafir semua bisa hancur negara ini. Berapa triliun duit emas dari tanah papua dinikmati oleh anda yang sok suci jadi secara tidak langsung anda sudah menikmati duit dari orang kafir. Ingat itu!!

    ReplyDelete
  5. Saya muslim sejati, Insya Allah...menurut saya, sebagian pemimpin2 muslim di Indonesia saat ini cuma sibuk memikirkan n menambah harta n koleksi mobil mewahnya bukan memikirkan kesejahteraan umat Islam...dulu saya fans berat Amien Rais, hampir semua buku2 yg dikarangnya atau ttg dia saya koleksi...tp sekarang pendapat2 n omongannya susah diterima oleh perut saya apalagi otak saya, sementara itu buku2 koleksi saya ttg dia sdh saya simpan di gudang bersama barang2 yg sdh tidak saya pakai lagi...

    ReplyDelete
  6. bertaubatlah wahai para orang kafir, sebelum ajal dtg menjemputmu. krn kamu tdk akan tahan menjalani azab kubur stelah kematianmu nanti, nauzubillah....

    ReplyDelete
  7. alangkah sebaiknya kita memberi kesempatan kepada para pemimpin walau apapun itu agamanya karna yang penting adalah mereka mampu memimpin dengan baik.kalaupun kita(orang islam )yang selalu mengedepankan para pemimpin harus islam,apakah kita tidak menyadari realita yg sudah terjadi?coba kita lihat baik2,bukankah hampir semua para pemimpin negeri ini adalah orang islam,lalu apa yang terjadi?lalu bagaimana dengan para koruptor,bukankah mereka orang islam?jadi,dalam kepemimpinan,janganlah di lihat dari agamanya tetapi lihatlah tiap individu yang memiliki kepribadian baik,bukan kepribadian yang busuk.

    ReplyDelete
  8. Bertaubatlah Anda Umat. Islam Yg telah Memilih Orang2 Nashrani (AHOK). Sebagai Pemimpin Jakarta krn Anda telah menzhalimi AgAma Anda Sendiri. Yaitu Islam, mmg Dilarang Orang Islam. Memilih Pemimpin Non Muslim (KAFIR).," Janganlah Engkau mengambil Pemimpin dari Orang2 KAFIR" klu Anda tidak Yakin lagi Sama AlQuran berarti Anda hAnya Memikirkan Perut Anda tdk Memikirkan Agama Anda Lagi Yakni Islam Sekali Lagi bertobatlah Anda

    ReplyDelete
  9. Hi hi, Ulah mending dipimpin sesama muslim atuh, sekalipun itu teh Akil Mochtar, Choirun Nisa, Atut, Aceng, Rhoma ... yang penting teh barokalah ...
    Allohuakbar ! 3x

    Hi hi .. O:)

    ReplyDelete
  10. sekalipun koruptor yg penting islam....

    ReplyDelete
  11. bhahahahaha.. jadi umat Islam harus pilih siapa om??
    rhoma irama atau farhat abbas?? atau habib rizieq??

    saya muslim dan saya sudah apatis dengan politik sejak tahun 2008. saya selalu golput. justru ada jokowi dan ahok yang seolah memberi angin segar harapan bahwa Indonesia bisa jadi lebih baik. apa salahnya kita memberi mereka kesempatan?

    saya tidak takut dengan kristenisasi atau vickynisasi sekalipun! tidak disini, tidak pula jika saya menjadi warga negara lain yang mayoritas non-muslim. selama INDONESIA (maksud saya NEGARA Indonesia! bukan agama Islam!) dipimpin oleh pemimpin yang taat terhadap konstitusi, tidak korupsi, dan punya semangat membangun bangsa ini dengan nasionalisme nya, saya akan dukung! apapun agamanya! tidak beragama sekalipun!

    ReplyDelete
  12. setuju dah, sing penting muslim naaaaaaah

    ReplyDelete
  13. kenapa islam harus berpolitik???
    sangatlah jauh berbeda masa sistem ke khalifahan dg politik
    jgn menyamakan yg akibatnya menghalalkan politik,,,pdahal sudah banyak buktinya kalo politikus muslim akan luntur keimanannya ketika berhadapan dengan sitem politik yg berlaku
    kalo memang menghendaki kebenaran n keadilan tegakan syariat tanpa berpolitik

    ReplyDelete
  14. Sebutkan 10 negara yang berpenduduk mayoritas Islam dan pemerintahannya dijalankan dengan nafas Islam, hasilnya 9 diantaranya termasuk negara termiskin, terkorup, perang saudara ngak henti2, penduduknya saja ingin meninggalkan negaranya naik perahu mati di laut menuju negara2 yang Anda sebut kafir itu. Saudi Arabia negara kaya. Tetapi dari sisi kemanusiaan dan teknologi menang apa dia? Anak2 muda di Timur Tengaj mayoritas bermimpi hijrah dari negaranya yang dipimpin oleh orang2 retarded. Mengapa kita ngak mau belajar dari mereka?

    ReplyDelete
  15. Anda tahu, anak2 muda sekarang BANYAK yang sudah meinggalkan Islam dan sebagian lagi sedang dalam perjalanan meninggalkan Islam. Mengapa? Alasan utamanya adalah kegoblokan luar biasa dan ketidakpedulian luar biasa yang ditunjukkan oleh pemimpin2 Islam yang begitu gamblangnya. Anda bilang itu permainan media? Tidak usah jauh2, di sekolah2 anak2 bisa merasakan betapa kepala sekolah yang sebentar2 mengutip ayat2 suci mengkorupsi dana BOS memerintahkan guru memberikan kunci jawaban ke siswa ketika ujian nasional. Sementara murid2 ini diwajikan baca kitab suci setiap hari sebelum belajar. Mereka sudah tahu saat ini agama dijadikan bedak yang memupur bopeng di wajah. Tentu anak2 muda yang eksodus keluar agama Islam tidak akan sesumbar seperti Anda2 yang terjerat kepicikan agama semakin dalam. Anak2 ini boleh saya jamin mereka adalah anak2 yang cerdas dan mulai mempertanyakan agamanya yang sering sukar dicerna akal sehat dan hatinurani. Sementara guru agama dan orang tua tidak cukup cerdas u menjawab pertanyaan2 mereka. Anda tidak bisa membendung arus informasi bebas media internet. Di sana lah mereka mendapatkan jawabannya. Saya kira suatu saat yang tersisa adalah generasi retarded yang memaksakan diri memimpin negara ini menjadi the next Afghanistan, Indonistan. Sebenarnya kalau saja Anda tidak melepaskan akal dan hatinurani ketika beragama, Islam akan tetap berjaya tanpa harus membuat pengikutnya dan tetangganya menderita. Cuma masalahnya , otak dan hati Anda sudah mati.

    ReplyDelete
  16. tatanan baru negara Islam lah,, yang perlu kita pikirkan,, walau pemimpin Islam sekalipun kalau mereka memihak pada Kristenisasi toh sama saja,, jadi tidak perlu kita berdebat siapa pemimpin nya,, tpi bagamana menyadarkan Masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim ini akan pentingnya nilai2 agama.
    Bukankah ayat Al- Qur,an menjelaskan pemimpin itu akan sesuai karakter rakyatnya, jadi selama mayoritasmasyarakat Islam di Indonesia ini dipenuhi penyimpangan2 maka pemimpin2 nya pun akan sama.

    ReplyDelete
  17. saya lagi ngebayang umat muslim yg tinggal di negeri mayoritas non muslim, seperti amerika, jerman, perancis atau mungkin yg terdekat singapore. berarti mereka gak dibolehkan ikut pemilu secara Islam, krn mereka akan memilih pemimpin kafir. lalu bagaimana mereka yg bekerja di perusahaan yg dimiliki org non muslim, berarti mereka juga punya pemimpin org kafir. pembangunan negara ini sebagian besar berasal dari pajak2 org kafir, knp kalian tdk mempermasalahkan itu.

    ReplyDelete
  18. sekarang ini korupsi di negara indonesia SIAPAKAH MEREKA ????
    agama itu semuanya sama jgn di salahkan >>>> mau itu muslim dan non muslim<<<<<<
    berpikirlah bagai mana supaya negara indonesia ini beruba , dan menjadi negara yg terpandang sopan , bersih dari KORUPSI , beriman .....

    ReplyDelete
  19. Anonim ini sangat tendensius sekali. Saya yakin dia bukan Muslim tapi non Muslim yang berkedok Muslim. Umat Islam jangan mau diadu domba. Masih banyak pemimpin Muslim yang jujur dan bersih. Tugas umat Islam untuk memberi peluang kepada pemimpin Muslim yang baru. Di negara yang mayoritas non Muslim tentu saja "terpaksa" memilih non Muslim. Tetapi di negara yang mayoritas Muslim, lalu memilih pemimpin non Muslim adalah tindakan yang melawan agama. Na'uzubillah min zaalik.

    ReplyDelete
  20. Kalo di Filiphina, Papua, atau NTT koruptornya beragama apa ya? tapi masyarakatnya ga mau tuh pilih pemimpin berbeda agama. Lagipula jumlah ummat Islam di Indonesia yg ga korup masih juauhh lbh banyak daripada ummat agama lain bahkan kalo umat agama non-Islam itu digabungin sekalipun

    ReplyDelete
  21. Semoga Allah SWT memberikan hidayah pada pemimpin yang non muslim,siapapun pemimpinnya,tetap Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kita,dan Mekkah sebagai kiblat kita,Aamiin..

    ReplyDelete
  22. Untuk Saudaraku Muslim Di Indonesia Saran saya Janganlah kita memilih Pemimpin yang Kapir Membangkang Terhadap Perintah ALLAH swt. Seperti Sholat,Puasa, Berzakat Dan lain sebagainya. Pilihlah Pimpinan Kita yang Seiman dengan kita. Karena kita berada di Jalan Kebenaran Kita adalah Manusia (hambanya) sedangkan orang Kafir Beranggapan Hanya di Dunia ini tempat Hidup selama-lamanya. Karena kebodohannya. dikasih tau malah nyeleneh dibilang Kita Gila. Tapi Pasti pas maut mendatanginya Barulah dia akan Menyesal Bahwa kebenaran itu di Agama Islam.

    ReplyDelete
  23. Aneh kalian semua! Di negara-negara timur tengah muslim mayoritas bisa toleran kepada minoritas. Lebanon yang 60% muslim namun presidennya dari dulu lebih banyak kristen lho.. pemilunya dihadiri menteri luar negeri arab saudi lho.. parlemen palestina mayoritas muslim, tetapi selalu memliih walikota bethlehem yg kristen lho..

    bahkan pada tahun 628 masehi, sebuah delegasi dari Biara St Catherine di kaki Gunung Sinai, datang kepada Rasulullah dan meminta perlindungan, beliau menjawab dengan memberikan piagam yang isinya sebagai berikut:

    Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di mana pun mereka berada, kami bersama mereka.
    Bahwasanya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku; dan demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka.
    Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya demikian juga pendeta dari biaranya. Tak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim.

    Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahwasanya mereka sesungguhnya adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai.
    Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka.
    Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini.
    Tak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat)

    Piagam tersebut dituliskan langsung oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, dan ditandai dengan dengan cap tangan Rasulullah sendiri. Disimpan dalam perpustakaan biara St.Catherine. Otentisitas surat ini dibenarkan para sejarawan Muslim.
    Surat aslinya diambil oleh Sultan Selim I pada 1517. Kemudian replikanya dibuat ulang untuk disimpan di biara tersebut. Foto naskah aslinya di musium Turkey.

    Biara St Catherine, terletak di kaki Gunung Sinai dan adalah biara tertua didunia. Biara ini memiliki banyak koleksi naskah Kristen, terbesar setelah Vatikan, dan adalah sebuah situs warisan dunia.
    Biara ini juga menawarkan koleksi tertua ikon Kristen. Ini adalah rumah harta karun sejarah Kristen yang tetap aman selama 1400 tahun di bawah perlindungan Islam.


    Bukan cuma masalah agama tapi kualitas kepemimpinan, integritas, HATI NURANI yang jadi ukuran. Cuma tau akidah nggak dilakukan, sama saja bohong. Teladani Nabi! Objektif dong!

    ReplyDelete
  24. sebenarnya in lamannya Islam atau laman keroyokan?, kalau memang laman Islam, fokus saja ke Islam, semua komen yang tidak setuju dengan Islam, dihapus saja. Coba bandingkan dengan laman-laman non Islam, mereka tidak akan membiarkan komen dari Islam masuk, paling tidak mereka edit agar sesuai dengan tujuan mereka.

    ReplyDelete
  25. Saat nya ISLAM BERSATU jangan mau di pecah belah oleh musuh kitaaaa...mari kita bersatu...TIDAK ADA NU,MUHAMADIYAH,PERSIS,DLL selama masih menjalankan sholat...marri kita bersatu...satu....padu.....ALLOHUAKBAR.........

    ReplyDelete
  26. kalian semua terlalu fanatik

    ReplyDelete
  27. lindungi kami dari mara bahayamu ya Allah :(

    ReplyDelete
  28. Umat Islam Yang Berjuang Tuk Kemerdekaan,
    Sekarang Umat Islam Yang Dipinggirkan,
    Saatnya Tuk Berjuang Kembali, Terus dan Terus...

    ReplyDelete
  29. Hmmm, setelah baca komentar mereka yang ngga setuju pemimpin di Indonesia itu bukan dari kalangan muslim, kok justru terlihat suudzon, ya? Sepertinya, mereka yakin sekali bahwa setiap pemimpin atau calon pemimpin yang non-muslim bakal menghancurkan Islam. Bagaimana kalau niatnya memang benar-benar ingin membuat Indonesia menjadil lebih baik? Dan satu lagi, saya muslim, tapi entah kenapa saya benci sekali ketika membaca komentar yang selalu menghakimi seseorang bahwa dia itu kafir. Kok ya sepertinya tidak menghargai mereka dengan kepercayaannya. Bukankah, "Bagiku agamaku, bagimu agamu" itu sudah cukup jelas? Tidak perlu sampai menghakimi mereka kafir atau bukan. Ini opini saya sih, silahkan dikritik kalau menyalahi aturan. :))

    ReplyDelete
  30. "Bagiku agamaku, bagimu agamamu" itu kan memang ada di surat Al-Kafirun, kita juga jangan ragu dengan seseorang itu kafiir. Asal jangan depan mukanya bilang begitu. Mereka yg kristen juga bilang kita "domba yang tersesat" kok.

    ReplyDelete
  31. Nabi Muhammad gak ngajarin buat ngumpat sama ngomong kotor, meskipun sama orang yang berbeda agama (bahkan yang memusuhinya) kenapa kita g mencontoh Beliau?
    Soalnya hati sama pikiran manusia sekarang pada sempit.

    ReplyDelete
  32. Akhirnya "mereka" berhasil merubah paradigma sebagian orang Islam untuk "menolak" anjuran dari kebenaran Al-Quran, bahwa negara yang mayoritas muslim, wajib memilih peminpin islam.
    Ahok ini merupakan skenario besar dari rencana merubah pola pikir umat islam dgn memanfaatkan momentum dari pemberitaan buruknya para pemimpin islam, mereka masuk dgn menampilkan sosok non islam yang menampilkan "kebaikan" baru yg terekspose dgn terencana. Sehingga lahirlah paradigma baru "Mending pemimpin non islam "baik" dari pada islam yg buruk. Sehingga kita menjadi pesimis untuk memilih pemimpin islam.
    Bagi anda islam yg sudah berpendapat seperti ini. Cobalah pelajari lagi Al Quran. Jika isi Al Quran salah menurut anda, silahkan pilih pemimpin non muslim karena anda sudah bukan islam yg benar. Karena telah menyangkal kebenaran ayat Al Quran.

    ReplyDelete
  33. saya pilih roma dari pada ahok bang Erwin Krismawan, karena roma seakidah dengan saya...
    "Anonim mengatakan...
    Anda tahu, anak2 muda sekarang BANYAK yang sudah meinggalkan Islam dan sebagian lagi sedang dalam perjalanan meninggalkan Islam. Mengapa?"

    ndak mengapa bang anonim: Lihatlah pesantren2 yg mendidik generasi muda, mereka anak muda yang Insya Allah mempunyai akidah yang baik dan jumlahnya tidak sedikit"
    Saya tidak khawatir sama sekali..... Allah bersama orang-orang yang beriman.

    ReplyDelete
  34. Pengalaman dari PILKADA beberapa daerah, jangan sampai pemimpin Muslim tidak mengindahkan perintah Allah swt. untuk bersatu: Bersatulah kamu jangan bercerai berai. Perpecahan pemimpin Muslim memberi peluang kemenangan bagi Non Muslim

    ReplyDelete
  35. Waduh,,,
    Saya bingung mau koment ap???
    Memilih muslim dikatakan memilih pemimpin yang korupsi….
    Memilih non muslim dikatakan memilih pemimpin kafir…
    G milih ( golput ) di katakan g nasionalisme ….
    Huffff……….
    Yang pasti saya tahu siapa ahok sebenarnya,,,karena saya asli putra Belitung timur yang pernah dipimpin darinya ( 2005 – 2006 )….
    Baik buruknya akan selalu saya ingat …………..

    ReplyDelete
  36. mana sih politikus dari kalangan agamawan islam yang ngurusin umat islam...
    coba lah urusin umat islam itu dengan serius jangan ngurusin rumah tetangga
    yang miskin dan yang bodoh itu kebanyakan umat islam
    jangan hanya mementingkan ekonomi segelintir saja

    ReplyDelete
  37. yang setuju sama ahok, udah kliatan itu non muslim.

    ReplyDelete
  38. yg pro ahok pasti 100 persen oorg kristen hehe...niat ahok merusak moral bangsa

    ReplyDelete

Powered by Blogger.