Header Ads

Halaqoh, Saat Aku Dibina dan Membina

Halaqah (foto dari Hamidi-Muslim)
Aku bukan berasal dari keluarga aktivis dakwah. Aku pun besar tidak dalam lingkungan yang keislamannya kuat. Aku hanya anak seorang satpam, yang kini bekerja sebagai tukang ojek, dan ibuku ibu rumah tangga biasa. Walaupun begitu, aku tidak terlalu buta akan ilmu agama karena sejak umur 4 tahun, aku sudah pernah mengecap pendidikan di madrasah diniyah hingga kelas 6.

Saat masuk SMP, di SMPN 269 Jakarta, aku berharap bisa mengikuti halaqoh bersama ROHIS sekolahku untuk menambah khazanah keislaman dan memperluas pertemanan. Namun, apalah daya, aku tidak diijinkan untuk mengikutinya karena khawatir akan kesulitan membagi waktu dengan sekolah. Sehingga aku hanya beraktivitas sebagai siswa SMP biasa.

Ketika aku diterima di SMAN 5 Jakarta, hasrat untuk mengikuti halaqoh bersama ROHIS masih bersarang dalam hati. Namun, sampai saat itu, aku masih belum bisa bergabung karena ketika itu hadir kekhawatiran dari keluarga bahwa ROHIS adalah sarang terorisme. Alhasil, aku hanya bisa mengikuti kegiatan ROHIS sebagai partisipan belaka.

Hampir setiap sore, seusai pulang sekolah, aku sering “mangkal’ di masjid sekolah untuk mengerjakan tugas sekolah sampai maghrib bersama teman-teman kelas. Hingga suatu sore, aku diajak untuk ikut halaqoh di sekolah setiap pekannya, dan aku pun menghadirinya. Aku semakin rutin mampir ke masjid sekolah setelah ikut halaqoh. Aku semakin akrab dengan rekan-rekanku di ROHIS SMAN 5. Ini halaqoh pertamaku.

Kegiatan halaqoh SMA tiba-tiba terhenti ketika aku sudah lulus SMA. Aku mulai masuk ke dunia baru, perkuliahan. Aku masih ingat, ketika itu ada program Tips ‘n Trick (TnT) yang diadakan oleh ROHIS kampus dan di sanalah aku mulai berkenalan dengan LDK Fajrul Islam, sebuah Lembaga Dakwah Kampus Universitas Gunadarma. Aku memulai kembali halaqoh yang selama ini sempat terhenti. Aku berkenalan dengan Khairul, yang ternyata adalah seorang kenalanku di SMKN 3 Jakarta. Bersamanya aku mengikuti halaqoh setiap pekannya. Awalnya hanya sempat berjalan selama beberapa bulan, kemudian kami pun ditransfer ke kelompok halaqoh lain. Kali ini, kami dimasukkan dengan kelompok halaqoh yang dibina oleh Bang Rahmat Tauffan bersama teman lainnya seperti Bintang, Ikhsan, Nurkholis, dan Wahyu.

Dari waktu ke waktu, terjadilah perubahan komposisi mentee yang mengikuti halaqoh. Awalnya ada 6 orang, lalu bertambah terus hingga menjadi 15 orang di tahun ke 3 kuliah. Setelah masuk ke tingkat 4, halaqoh yang aku ikuti mengalami penurunan jumlah mentee, kembali menjadi 6 orang tapi dengan komposisi yang berbeda. Aku, Yahya, Tyo, Hafid, Heru, dan Bunyamin. Ditambah 1 orang mentee transfer, Rahman, menjadi 7 orang.

Halaqoh yang aku jalani selama ini, membawa cukup banyak manfaat bagiku, khususnya perihal saling-mengingatkan sesama teman akan pentingnya mempertahankan ke-Istiqomah-an dalam ibadah. Kami juga bisa bertanya masalah-masalah agama dan mendiskusikan hal itu bersama, saling curhat juga baik masalah di kampus maupun masalah pribadi, Rihlah, Mabit dan makan bersama, dan semua itu lengkap aku dapatkan bersama kelompok ini.

Kami pun diminta untuk melakukan hal yang sama, menjadi Murobbi bagi Mentee kami. Kami diharapkan bisa membina lebih banyak orang lain untuk bisa menjadi lebih baik bersama kami. Kini, aku menjadi Murobbi untuk dua kelompok, satu di Kampus, dan satu lagi di Rohis SMA tempatku dulu. Walaupun saat SMA aku tidak mengikuti kegiatan Rohis, namun cerita perihal aku menjadi aktivis dakwah di kampus membuat para alumni Rohis SMA meminta aku untuk membantu adik-adik kami di sana.

Sampai saat ini, aku masih dalam tahap belajar membina, mulai dari aku masih kuliah tingkat 3 di kampus. Aku pun masih mencari metode-metode yang cocok dalam membina itu seperti apa agar dapat berjalan efektif. Hakikat dari membina pun tidak hanya memberikan ilmu bagi mentee kita, tapi juga kita me-review kembali materi yang pernah kita dapatkan dulu, sekarang dan sampai akhir nanti.

Aku berharap, semoga kenikmatan dalam berdakwah ini selalu Allah berikan kepada kami, khususnya bagiku. Sebuah kenikmatan yang tak bisa digantikan dengan apapun karena disini kami lebih dari teman biasa, karena disini kami adalah keluarga yang disatukan Allah.[]

Penulis : Fahmi Afriyadi
Jakarta Pusat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

Powered by Blogger.