Header Ads

Aksi Bela Islam

Antara Kita dan Da'wah

Ilustrasi dari cover buku Motivasi Dakwah
Meski awalnya hanya iseng, namun akhirnya membuka jalan hidayah bagi orang lain. Kebiasaan beliau yang hanya sekadar menyapa, akhirnya mampu memberi jalan terang kepada hati tetangganya itu. Itulah yang dialami Pak Restu. Ceria dan mudah beradaptasi, kesan pertama yang akan kita dapatkan saat berkomunikasi dengan beliau. Beliau merupakan seorang karyawan di salah satu anak perusahaan Semen Padang. Sikap beliau begitu ramah terhadap setiap orang yang ditemui. Jama’ah tetap masjid kami ini, 15 menit menjelang waktu shalat Maghrib masuk biasanya sudah berada di masjid. Membaca Al-Qur’an dengan memanfaatkan pengeras suara adalah yang biasa beliau lakukan sambil menunggu waktu shalat masuk.

Setiap berangkat ke masjid, menyapa tetangga tidak lupa dilakukan. Salah satunya adalah kepada Pak Zainudin. “Apo juo nan ditunggu lai, nah ka masjid wak lai,” (Apa yang ditunggu lagi, ayo kita ke masjid), ajak beliau setiap bertemu Pak Zai. Hampir setiap hari ajakan seperti itu mampir di telinga beliau. Biasanya hanya ditanggapi dengan seulas senyuman. Pada awalnya Pak Zai merasa biasa saja dan tidak terlalu menghiraukan ajakan tetangganya itu. Lama kelamaan akibat sering disapa begitu, hati beliau pun luluh dan ingin pula untuk berjama’ah di masjid. Maka bertambahlah satu lagi jama’ah masjid kami. Seiring berjalannya waktu, beliau pun berhasil mengajak istri dan anak-anaknya untuk sama-sama shalat berjama’ah di masjid.

Semenjak kehadiran beliau di masjid, kami seolah mendapatkan asupan tenaga baru dalam mengurus masjid. Betapa tidak, meski belum terlibat secara langsung dalam kepengurusan, namun kontribusi beliau sudah dapat dirasakan. Pada Bulan Ramadhan yang lalu kami sangat terbantu sekali dengan partisipasi beliau yang turut menjalankan proposal donatur ramadhan. Di luar perkiraan kami, ternyata beliau berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak dari relasi-relasi beliau. Pekerjaan beliau yang sebagai tukang potong rumput di rumah orang-orang kaya, membuat beliau dekat dengan mereka. Kedekatan tersebut beliau manfaatkan untuk menawarkan proposal donatur ramadhan kepada orang-orang ber-duit tersebut. Uang yang didapatkan tersebut kami pergunakan untuk operasional masjid di Bulan Ramadhan.

Melihat potensi dan perhatian beliau yang begitu besar, maka saat suksesi pengurus masjid beberapa bulan lalu, kami pun sepakat untuk meminta kesediaan beliau menjadi koordinator bidang dana. Meski awalnya menolak, akhirnya beliau bersedia juga setelah kami desak terus. Semenjak diberikan amanah tersebut, beliau semakin rajin datang ke masjid.

Ternyata pilihan kami tidak salah. Ide-ide dan pemikiran cemerlang beliau sangat membantu kami dalam menjalankan roda kepengurusan. Kami yang diamanahkan sebagai ketua pengurus untuk periode kedua kalinya merasa bersyukur sekali dengan keterlibatan beliau. Kehadiran beliau di kepengurusan periode kedua ini seolah menjadi asupan gizi baru yang akan memperkokoh sendi-sendi perjuangan ini.

Dari kisah di atas kita dapat simpulkan bahwa da’wah ternyata tidak hanya di atas mimbar, berceramah di depan khalayak, atau oleh orang-orang tertentu saja. Sempit sekali kalau kita memaknai da’wah seperti itu. Da’wah bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Dari sikap dan tutur kata, kita bisa berda’wah. Dari perbuatan dan tingkah laku sehari-hari kita bisa berda’wah. Dari cara kita mendidik dan memperlakukan anak kita sendiri pun bisa kita jadikan sarana penyampaian da’wah kepada orang lain. Jadi begitu banyak sarana kita dalam menyampaikan da’wah kepada orang lain.

Imam syahid Al-Banna mengatakan: Pada hakikatnya kita ini adalah da’i (penda’wah) sebelum kita-kita yang lain. Maka kita berkewajiban menyampaikan amal ma’ruf nahyi munkar di tengah-tengah masyarakat. Kalau urusan da’wah hanya kita serahkan kepada ustadz, kiyai, ulama, muballigh, maka akan rugi sekali kita karena tidak tergolong sebagai umat terbaik, seperti yang disampaikan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran:110, bahwa salah satu ciri umat terbaik itu adalah yang menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.[]

Penulis : Muhammad Abrar
Padang

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.