Header Ads

Aksi Bela Islam

Orang Terbaik diantara Kalian adalah yang Belajar Al Qur'an dan Mengajarkannya

Mengaji Al Qur'an (foto halaqah.net)
Bismillahirrohmanirrohiim...
Sedikit saya ingin bercerita tentang kenangan saya bersama salah satu orang terdekat, beliau adalah adik kandung yang terakhir dari bapak saya, namanya Suwandi Abdulloh dan saya biasa memanggilnya Lek Wandi. Begitu kagum dan bangganya saya terhadapnya, hingga detik ini saya menulis kisah ini masih teringat semua pesannya terhadap diri ini. Pak lek saya itu orangnya sangat sederhana sekali, namun siapa yang tidak kagum dan bangga bila ada kerabat dekatnya yang mampu menghafal Al Qur’an 30 juz? Beliau adalah lulusan PTIQ di kawasan pasar Jum’at, Lebak bulus.

Selain itu beliau orangnya tidak mudah putus asa, semasa mudanya sangat berlika-liku dalam mencari pekerjaan, mulai dari mencalonkan menjadi lurah desa di Madiun kemudian gagal hingga mencari pekerjaan di Jakarta yang tidak kunjung datang berjodoh. Cuma satu harapannya yaitu membahagiakan masyarakat di desa dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika belum mendapatkan pekerjaan di Jakarta, akhirnya beliau minta izin kepada bapak saya untuk keputusannya merantau ke luar negeri, dan saat itu negara yang dituju adalah Brunei Darussalam. Awalnya dengan berat hati bapak saya melepaskannya dengan berbagai alasan, namun melihat kemauan dan niat pak lek saya yang sudah mantap akhirnya bapakku mengizinkanya pergi dan membantu mengurus semua keperluannya.

Tahun 1990, beliau berangkat sendiri ke Brunei dan tidak ada satu pun kerabat yang beliau kenal atau menetap di sana. Pastilah ada perasaan khawatir pada bapak saya, sebulan kemudian bapak saya mandapat surat dari beliau yang berisi kabar di sana. Alhamdulillah beliau dalam keadaan sehat dan sudah mendapat pekerjaan. Singkat cerita dalam perjalanannya ketika setelah sholat di salah satu masjid, tiba-tiba ada orang yang menawarkan pekerjaan, yaitu menjadi marbot masjid. Dengan senang hati beliau terima pekerjaan tersebut. Membersihkan masjid, menjadi tukang kebun dan memotong rumput sudah menjadi hal yang biasa baginya, selain menjadi marbot beliau juga tekun mengajarkan Al Qur’an dan memberi kajian kepada masyarakat, hingga pada akhirnya beliau menjadi seorang ustadz dan mubaligh. Bahkan sempat pula mengajarkan ke jajaran pejabat-pejabat kerajaan Brunei Darussalam. Sejak itu beliau menetap di sana bersama keluarganya. Begitulah kisahnya hingga beliau dipandang menjadi orang yang besar di negeri orang.

Tahun 2005, beliau jatuh sakit, dokter memberikan diagnosa bahwa ada flek di paru-parunya. Memang Alloh sudah punya kehendak, entah apa penyebab penyakitnya itu, padahal pak lek saya itu orangnya tidak merokok dan sangat menjaga baik kebersihan maupun kesehatan. Semakin lama penyakitnya semakin parah dan akhirnya menjadi kanker paru-paru. Apapun pengobatannya sudah beliau lakukan, mulai dari herbal hingga berobat kemoterapi di Singapura namun belum juga berhasil mengusir penyakit itu. Hingga pada akhir keputusannya untuk tidak melanjutkan visa dan kontrak kerja di sana lagi.

Tahun 2006, beliau dan keluarganya pindah ke Indonesia, dan membangun rumah di kampung yaitu di Madiun. Mendengar kabar ini, saya dan keluarga pergi ke Madiun untuk menjenguknya. Pengalaman dakwah yang saya alami dimulai dari sini, ketika saya berada dirumah beliau, tiba-tiba beliau memanggil saya dari kamarnya dengan suara yang menahan sakit dan meminta saya untuk duduk di samping tempat tidurnya. Beliau tanya apakah saya bisa membaca Al Qur’an atau tidak. Saya menjawab, insyaAlloh bisa lek. Kemudian beliau meminta saya membuka lembar Al Qur’an QS. Hud : 38 dan meminta saya untuk mulai membacakannya. Entah mengapa air mata saya mengalir begitu saja ketika membacakan ayat-ayat itu, sampai pada ayat ke- 41, beliau menyuruh saya berhenti, tepat di ayat “Bismillahi majroohaa wa mursaha…” itu yang saya baca, lalu beliau memberi tahu bahwa ada ayat-ayat dari Al Qur’an yang dibaca khusus, ayat ini salah satunya disebut imaalah, yaitu pembacaan fathah yang miring ke kasrah, jadi dibaca “Bismillahi majreehaa wa mursaha…”. Lalu beliau meminta saya untuk membuka dan membaca QS. Yusuf : 11, pada ayat tersebut juga ada isymaam, yaitu menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir, beliau mencontohkan cara membacanya dan saya pun memperhatikannya, tepatnya pada bacaan “Laa ta’ mannaa…”. Begitulah beliau mengenalkan saya istilah-istilah dalam Al Qur’an, mulai dari imaalah, isymaam, nun wiqoyah, saktah, dan naql. Akhirnya beliau berpesan kepada saya bahwa belajar tajwid itu hukumnya fardhu kifayah, tapi membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Itulah pesan terakhir dari beliau. Dan beberapa bulan kemudian setelah peristiwa itu beliau telah berpulang ke Rahmatullah genap pada usianya 45 tahun, Alloh Subhanahu Wa Ta’alaa lebih menyayanginya. Inilah yang menjadi motivasi saya untuk senantiasa belajar tahsin Al Qur’an agar bisa membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid, mentadabburi, mengamalkan, dan menghafalkannya sampai detik ini.

Melalui pak lek saya, saya mulai mengetahui bahwa Al Qur’an bukan hanya sekedar dibaca sendiri, tapi juga harus dipelajari ilmu-ilmunya dengan metode talaqqiy yaitu belajar dengan bertatap muka kepada seorang guru. Wallahu a’lam bishshawab. Semoga tulisan ini berkah dan bermanfaat.
“Orang yang membaca Alqur’an dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Alqur’an tetapi ia terbata-bata kesulitan dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Penulis : Fitri Kumala Arum, S.Si
Bekasi, Jawa Barat

Tulisan ini adalah salah satu peserta
Kompetisi Menulis Pengalaman Dakwah (KMPD)

No comments

Powered by Blogger.