Header Ads

Aksi Bela Islam

Berani Jujur itu Hebat

Area Wajib Jujur (sohoque.com)
“Retno, kita harus jujur mengatakannya walaupun itu pahit rasanya,” pinta Sulastri kepadaku.

“Tapi? Gak mungkinlah aku harus mengatakan dengan jujur tentang peristiwa ini! Ini sangat fatal, Lastri!” belaku dengan jantung yang kian berdegup kencang.

“Aku tahu Retno, ini kejadian tidak hanya kamu yang mengalami, tapi aku juga terlibat di dalamnya. Lihat! Coba lihat! Hancur kan? Sudahlah, ayo kita selesaikan permasalahan ini kepadanya. Insya Allah, Dia pasti akan membantu siapapun ketika ia mau berusaha dan bertawakkal kepadaNya. Tapi ingat, kita harus menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, tentang apa yang menimpa kita. Gimana?”, jelas Sulastri.

Kepalaku semakin cenat-cenut dengan penjelasan ini. Jujur? Bagaimana aku bisa jujur? Semua ini adalah salahku. Andai saat itu aku tak mampir ke penjual kaos, andai saat itu aku tak meminta Sulastri untuk mengantar anak-anakku ke rumah emak, andai saat itu aku langsung pulang. Andai saat itu…

“Ret, kok malah bengong? Gimana nih? Sudahlah, percaya padaku. Allah akan menolong hambaNya, selagi dia mengingatNya dalam situasi apapun. Yang terpenting saat ini, kita harus berkata jujur. Apa adanya”.

“Aku takut Lastri… Aku takut kalau dia marah kepadaku, jika aku harus mengatakan dengan jujur peristiwa ini. Inikan diluar rencana kita sebelumnya. Sungguh, aku sangat takut…”, nadaku memohon.

“Retno, sahabatku. Musibah itu datang tanpa sepengetahuan kita. Musibah itu datang bukan atas keinginan kita. Musibah itu datang tanpa harus memilih siapa yang akan dijumpainya. Sesungguhnya, musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya. Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan. Musibah adalah sebuah ujian, apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya atau tetap pada level yang sebelumnya atau jangan-jangan kita harus terjun ke level yang paling bawah?. Na’udzubillah … ”, jelas Sulastri panjang lebar bagai seorang ustadzah kelas atas.

“Hmmmmm”, aku menghela nafas dalam-dalam. Benar juga perkataan sahabat dekatku ini. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir. Laa haula wa laa quwwata illah billaahil’aliyil ‘adhiiim. “Baiklah, saatnya kita bertanggung jawab atas peristiwa ini”, jawabku mantap.

“Siiip, ini baru sahabatku. Tapi kita harus tetap jujur ya”, warning Sulastri.

“Insya Allah. Kan kamu yang bilang kalau kita harus berkata jujur walau itu pahit rasanya”, candaku.

“Hehehehe….”.
***

Sahabat, itulah cuplikan kisah nyata yang pernah dialami oleh salah satu sohib dekatku. Kisah ini sungguh penuh makna dan pertolongan dariNya. Kisah ini terjadi saat beliau hendak menjalankan tugas dakwahnya. Selepas menjalankan misi dakwahnya itu, beliau merapel tugas-tugas yang lain seperti yang telah dipaparkan di atas.

Sahabatku, ketika sang sohib dekatku ini hendak pulang dan hendak mengembalikan mobil pinjaman dari salah satu rekan dakwahnya, tiba-tiba sebuah truck trailer menghantam bemper depan mobil sedan tersebut. Alhamdulillah, tak ada korban jiwa dalam peristiwa naas malam itu. Hancur? Ya, sangat fatal! Saat itulah Allah menguji hambaNya. Saat itulah Allah mengingatkan secara halus kepada hamba pilihanNya. Dan saat itulah Allah hendak menaikkan atau menurunkan level keimanan seorang hamba.

Sahabat, pernahkah kita berfikir bahwa di balik semua musibah ada banyak hikmah yang kita dapatkan? Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya memberikan musibah tanpa ada pertolongan dariNya. Ternyata, sohib dekatku itu mendapatkan pertolongan yang sangat hebat dariNya. Sang rekan dakwah sama sekali tidak marah kepada beliau, tidak juga meminta ganti rugi atas fatalnya kerusakan mobil sedannya tersebut. Subhanallah…

Sahabat, jangan pernah berfikir bahwa dengan adanya musibah adalah tanda bahwa Allah tidak menyaangi kita. Itu adalah salah besar! Musibah adalah sebuah cobaan untuk mengetahui bagaimana sikap kita menghadapinya, akankah kita tabah menghadapinya, atau malah kita menyalahkan nasib? Musibah adalah sebuah peringatan agar kita tak menyimpang dari jalan yang telah ditentukan, karena kita tahu bahwa manusia tak luput dari dosa dan salah. Musibah adalah sebuah ujian, untuk melihat tingkat keimanan kita : apakah kita pantas untuk naik ke level berikutnya? Atau tetap pada level yang sebelumnya? Atau, jangan-jangan, kita harus terjun ke level yang paling bawah? Na’udzubillah wahai sahabatku…

Wallahu a’lam bish shawab. []

Penulis : Heny Rizani
Editor : Pirman

No comments

Powered by Blogger.