Header Ads

Aksi Bela Islam

Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal

MIZAN Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal
Judul Asli : Kaifa Tutsaqqil Mizanak
Judul Terjemahan : MIZAN : Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal
Penulis : Dr. Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim
Penerjemah : Kamaluddin Irsyad
Penerbit : Tinta Medina – Solo
Cetakan : I ; 2013
Tebal : xiv + 162 Halaman ; 13 x 21 cm
ISBN : 978-602-9211-85-6

Hidup adalah rangkaian perjalanan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban selepas mati. Baik atau buruk, besar atau kecil, dan tentang semua amal yang kita lakukan. Itulah sebabnya, sebagai orang Islam yang beriman, kita diharuskan untuk meneliti setiap perbuatan kita agar semua yang dilakukan bisa membawa manfaat. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Proses perhitungan amal perbuatan dalam kehidupan setelah mati itu, disebut juga dengan mizan. Dalam pandangan ahlus sunnah wal jama’ah, mizan bermakna hakiki (nyata) juga majazi (kiasan). Bahwa kebaikan atau keburukan seorang hamba akan ditimbang kelak di hari kiamat.

Oleh karena itulah, setiap kita harus melakukan aneka amal kebaikan yang bisa memperberat timbangan amal di akhirat. Secara garis besar, amal-amal yang bisa memperberat timbangan kebaikan itu, terdiri dari tiga jenis. Pertama, yang terkait dengan Allah secara langsung. Kedua, segala jenis amal yang bisa membawa manfaat untuk diri dan keluarga. Ketiga, amal sosial yang bisa dilakukan untuk seluruh umat manusia, tanpa memandang jenis agamanya, pun yang terkait dengan hewan, tumbuhan dan semua yang terdapat di alam raya ini.

Yang termasuk dalam jenis amalan pertama
ini antara lain beriman kepada Allah, KitabNya dan hari akhir. Salah satu contoh dalam amal ini sebagaimana terjadi pada diri Abu Bakar. Beliau merupakan lelaki dewasa yang langsung beriman ketika Rasulullah menyampaikan dakwahnya. Bahkan, dalam peristiwa Isra’ Mi’roj, beliau termasuk orang pertama yang langsung memercayai Rasulullah sehingga digelari dengan ash-Shiddiq.

Keutamaan ini ditambah dengan semangat dan teladan beliau dalam melakukan setiap amal kebaikan. Baik terkait ibadah langsung kepada Allah, juga terkait pemenuhan hak-hak manusia secara umum (Hal 68). Amal lain yang masuk dalam jenis ini, diantaranya adalah ikhlas dalam setiap perkataan dan perbuatan, menepati janji kepada Allah, takut kepadaNya, bertaqwa, jihad dan seterusnya.

Kedua, amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga. Amalan kedua ini, jenisnya sangat banyak. Mulai dari shalat wajib dan sunnah, puasa, dzikir, daan seterusnya. Termasuk dalam amal tersebut adalah pemenuhan hak-hak anak, istri maupun keluarga kita secara umum.

Sebut saja misalnya, sabda Rasulullah, “Barangsiapa mengatakan dalam sehari Subhanallahi wa Bihamdihi sebanyak 100x, pasti akan dihapus kesalahan dan diampuni dosa-dosanya meskipun seperti buih di lautan.” (Hal 25). Tentu, maksud hadits ini bukan sekedar mengatakan, tetapi ada penjiwaan, keihklasan, usaha keras dan cerdas untuk bisa meminimalisir perbuatan dosa. Pun, semangat memperbaiki jika memang ‘terlanjur’ berbuat dosa.

Perangai yang baik, juga merupakan amal yang jitu untuk memperberat timbangan amal, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban, “Sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal adalah perangai yang baik.” (hal 27). Karena pentingnya perangai yang baik ini, Rasulullah menganjurkan agar kita melafalkan doa agar dibaguskan perangainya, yakni ketika bercermin.

Terkait hak-hak kepada keluarga yang bisa memperberat amal kebaikan, Rasulullah juga telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan Nasa’i, dalam hadits panjang itu, Rasulullah memberikan kesimpulan, “... yang paling besar pahalanya adalah infaq kepada keluargamu.” (Hal 56). Dalam hal ini, sangat dianjurkan agar seorang muslim berlaku dermawan kepada keluarganya, sebelum dermawan kepada orang lain. Bukan sebaliknya. Meskipun, jika memang mempunyia kelebihan harta, maka dermawan terhadap dan orang lain, bisa disandingkan kuantitasnya.

Terakhir, terkait amal kita kepada sesama manusia dan juga alam. Adalah hadits yang sangat masyhur, bahwa ada seorang pelacur yang Allah masukkan ke dalam surga lantaran memberi minum kepada anjing yang kehausan dan menjelang mati. Jika terhadap hewan saja amal tersebut diberi pahala yang sangat banyak, apalagi jika amal ini dilakukan untuk sesama manusia.

Dari Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, bahwa Nabi berkata, “Tidak ada shadaqah yang pahalanya lebih besar daripada shadaqah dengan air.” Sudah menjadi mafhum diantara kita, bahwa air mempunyai kemanfaatan yang besar dalam kehidupan diri dan masyarakat. Dengan menyediakan air bersih yang bisa digunakan untuk minum, keperluan sehari-hari seperti memasak, mencuci, dan sebagainya, maka insya Allah, jika ikhlas, maka amal itu akan memiliki derajat yang sangat tinggi dalam timbangan mizan.

Dalam hadits lain, Rasulullah juga bersabda, “Orang yang melayani janda dan kaum miskin seperti mujahid di jalan Allah, atau orang yang shalat malam, atau orang yang berpuasa di siang hari. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim) –Hal 43. Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa kebaikan yang kita lakukan untuk sesama, maka itu merupakan investasi abadi yang bisa kita panen, kelak di akhirat, dengan panen yang tak mungkin gagal.

Saking mulianya islam, dalam prosesi takziah (mendatangi orang yang meninggal, mendoakan dan mengikuti prosesi terhadap jenazah) pun, dijanjikan pahala yang sangat banyak. “Barangsiapa yang ikut mengiringi jenazah sampai menshalatinya, kemudian pulang, baginya dua qirath. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggamanNya, sungguh ia lebih berat dari gunung Uhud dalam timbangan amal.” Sebagaimana diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab oleh Imam Ahmad, Bukhari, Abu Dawud dan Baihaqi.(hal 31)

Oleh karena pentingya hal ini, sangat dianjurkan kepada setiap muslim untuk mengetahui amalan-amalan ini, dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkannya. Karena hidup di dunia adalah sementara, sedangkan kehidupan setelah mati adalah selamanya.

Penting juga difahami tentang perbuatan-perbutan yang bisa membuat timbangan amal menjadi ringan, bahkan bisa menghilangkan pahala-pahala kebaikan yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun. Seperti misalnya dosa-dosa kecil yang dilakukan terus menerus, riya’, syirik, murtad, sumpah palsu, dengki, meninggalkan shalat ashar, minum khamr, mendatangi dukun –bertanya dan memercayainya-, akhlak buruk, riba’, bunuh diri, dan sebagainya. []

Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


No comments

Powered by Blogger.