Header Ads

Aksi Bela Islam

Membongkar Kesesatan Syi'ah

Ritual Syiah
Setelah Zuahairi Misyrawi mewacanakan agar salah satu tokoh syi’ah menjadi Menteri Agama mendatang di Republik ini, nampaknya kita mesti mengenal lebih jauh tentang syi’ah dan sepak terjangnya. Meskipun hal ini merupakan tema lama, namun tak ada salahnya untuk selalu kita angkat agar kita waspada.

Pasalnya, syi’ah yang mengaku sebagai bagian dari Islam, jika kita telusuri dari sumber-sumber al-Qur’an, Hadits dan Ijma’ para ulama’, ternyata mereka memiliki keanehan dan sangat bertolak belakang terkait banyak hal dengan pemahaman ahlus sunnah wal jama’ah.

Satu titik poin yang paling mudah untuk kita jadikan pemahaman, adalah tentang Ahlul Bait. Secara bahasa, ahlul bait bermakna penghuni rumah atau keluarga seseorang. Sedangkan menurut istilah, ada perbedaan pengertian ahlul bait dari ahlus sunnah dan syi’ah.

Ahlus sunnah mendefinisikan ahlul bait sebagai orang-orang yang haram menerima zakat dan sedekah, yakni keturunan Rasulullah, para istri beliau, dan semua Muslim serta Muslimah dari keturunan Abdul Muthalib yakni Bani Hasyim. (Hal 29)

Sementara syi’ah, mendefinisikan ahlul bait hanya sebatas nabi dan keluarga Ali bin Abi Thalib. Secara terperinci, mereka adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan bin Ali dan Hussain bin Ali.(Hal 26)

Dari dua pengertian yang berbeda inilah, kelak menjadi sumber banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh syi’ah terkait diskriminasi terhadap bebarapa anggota keluarga dan sahabat-sahabat Rasulullah. Apalagi, kaum syi’ah tidak memasukkan istri-istri nabi dalam kelompok ahlul bait, bahkan mereka secara terang-terangan membenci dan melaknat ‘Aisyah binti Abu Bakar yang merupakan istri Rasulullah.

Ahlul bait ini memiliki kedudukan yang mulia dalam syari’at Islam. Mereka wajib dihormati dan dimuliakan. Bahkan, nasab dengan mereka merupakan nasab yang tidak terputus pada hari kiamat kelak. Hal ini pula, yang melatarbelakangi tindakan Umar bin Khththab yang mengajukan diri untuk melamar Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib.

Sementara itu, terkait kemaksuman (terjaga dari dosa), syiah dan ahlus sunnah kembali berbeda pendapat. Bahkan, perbedaan pendapat ini, jika kita menggunakan logika, masuk dalam kategori yang sangat sulit diterima oleh akal.

Sebagaimana kita fahami, bahwa yang terjaga dari dosa adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam saja. Bahkan, beliau juga pernah melakukan kesalahan kecil, yakni memalingkan muka ketika Abdullah bin Umi Makhtum yang tuli mendatangi beliau. Allah langsung menegur sikap beliau tersebut, dan beliau langsung mengakui kesalahannya.

Sementara terkait keluarga beliau, baik dari anak-anak, istri maupun keluarga Bani Hasyim, tidak ada yang ma’shum (terjaga dari dosa). Karena mereka hanya manusia biasa layaknya diri kita. Bedanya, mereka sangat sedikit sekali berbuat kesahalan. Dan, ketika mereka berbuat kesalahan, serta merta mereka menyesali dan bergegas untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Sayangnya, kaum syi’ah menyikapi ini dengan sangat berlebihan. Sebagaimana dikatakan oleh al-Majlisi, “Ketahuilah bahwa imamiyah telah bersepakat tentang kemaksuman para imam dari semua dosa, baik dosa-dosa kecil maupun besar, sehingga tidak akan terjadi dari mereka satu dosa pun, baik disengaja, lupa, salah dalam takwil (ijtihad), ataupun dibuat lupa oleh Allah.” (Hal 70)

Selain hal itu, dalam pandangan syi’ah, ahlul bait dan imam-imam mereka memiliki aneka kelebihan. Sayangnya, kelebihan-kelebihan yang dinisbahkan kepada imam-imam ini sangat tidak masuk akal dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri.

Misalnya, mereka mengatakan bahwa cahaya Nabi Muhammad dan Ali bin Thalib diciptakan mendahului penciptaan Nabi Adam. Terkait hal ini, para imam syi’ah ini banyak meriwayatkan hadits palsu, “Aku (Rasulullah) dan Ali berasal dari cahaya yang sama di dalam genggaman Allah empat belas ribu tahun sebelum Ia menciptakan Adam. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia membagi cahaya itu menjadi dua bagian, satunya adalah cahayaku dan satunya cahaya Ali.” (Hal 124)

Ali bin Abi Thalib juga dinisbahkan oleh orang syi’ah sebagai pemisah antara penghuni surga dan neraka. Imam-imam syi’ah juga berhak mengharamkan ataupun menghalalkan apa saja yang mereka kehendaki, “Siapa saja yang kami halalkan baginya sesuatu yang ia peroleh dari pekerjaan orang-orang zalim, maka itu halal baginya karena para imam di antara kami telah diberikan mandat sehingga apa saja yang mereka halalkan, maka ia halal, dan apa saja yang mereka haramkan, maka ia haram.” (Hal 126)

Yang tak kalah mencengangkannya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Majlisi dalam Bihaar al-Anwar, “... Dari mana engkau, dari tanah kuburan Husain bin Ali kah? Sesungguhnya di dalam tanah itu mengandung obat segala penyakit dan keamanan dari segala macam ketakutan.” (Hal 127)

Apakah selesai sampai di situ? Ternyata masih banyak kelebihan-kelebihan yang dinisbahkan kepada imam-imam syi’ah ini. Seperti disebutkan dalam Ushul al-Kafi karangan al-Kaulani, dia membuat satu bab dalam kitabnya itu dengan judul “Sesungguhnya bumi seluruhnya milik Imam.” Dimana di dalam bab tersebut, terdapat sebuah hadits palsu yang berbunyi, “Apakah engkau tidak tahu bahwa sesungguhnya dunia dan akhirat itu milik Imam. Ia meletakkannya di mana saja yang ia kehendaki dan menyerahkannya kepada siapa yang ia kehendaki, sebagai anugerah baginya dari Allah.” (Hal 128).

Lebih lanjut dsebutkan bahwa kilat dan petir bisa terjadi lantaran perintah Ali bin Abi Thalib. Yang paling parah, mereka mengklaim bahwa putra Abi Thalib ini bisa menghidupkan orang yang telah mati. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa malaikat-malaikat yang mulia merupakan pembantu para imam, Allah menciptakan 70.000 malaikat dari nur wajah Ali bin Thalib, para imam mengetahui hal yang ghaib sehingga derajat mereka lebih tinggi dari malaikat dan Rasulullah yang mulia.

Singkatnya, semakin kita mengetahui keaslian mereka, maka kita mendapatkan semakin banyak data otentik dan sangat valid bahwa mereka bukan bagian dari agama yang mulia ini. Sudah banyak buku yang mengungkap tentang kesesatan kaum ini, dan satu diantaranya adalah buku yang ada di tangan pembaca ini. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan kaum ini, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.

Saat ini, kaum mereka sudah memasuki gelanggang politik sebagai salah satu sarana untuk memperjuangkan ideologinya. Sehingga, kaum muslimin harus bersatu padu, agar mereka tidak memegang kendali di negeri yang kita cintai ini. []

Judul : Mencintai Ahlul Bait
Penulis : Ibrahim Bafadhol
Penerbit : Darul Uswah - Yogyakarta
Tebal : 216Halaman ;14 x 20 cm
Cetakan : I ; 2013
ISBN : 978-979-8143-31-1








Peresensi : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com

3 comments:

  1. kaum muslim wajib hukumnya utk tidak mentoleransi kemurtadan

    ReplyDelete
  2. islam sangat flexible, mengapa harus mempersulit diri sendiri.

    ReplyDelete
  3. Jangan mengadili sebuah mazhab/aliran berdasarkan pendapat orang di luar mazhab/aliran yg bersangkutan. Bertanyalah ttg Syiah kpd para ulama Syiah yang ada sekarang, krn mrklah yang berhak menafsirkan kitab-kitab Syi'ah yg ada kutip itu. Setau saya, ulama Syi'ah amat kritis dalam menilai sumber-sumber ajaran agama, bahkan terhadap kitab-kitab dalam lingkup mereka sendiri.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.