Header Ads

Aksi Bela Islam

Bila Suami Mudah Marah

Bila suami mudah marah (ilustrasi foto siraplimau.com)
Hidup berumah tangga membuat suami istri mulai saling memahami sifat dan kondisi pasangannya. Yang sebelumnya, saat masih ta’aruf, tidak semuanya bisa ‘terbaca’.

Bagaimana jika ternyata seorang muslimah mendapati suaminya mudah marah, mudah tersulut emosinya? Hal kecil yang sebenarnya tak patut dipermasalahkan bisa membuatnya marah besar.

Berikut ini beberapa tip yang bisa diterapkan para muslimah bila suami mudah marah sebagaimana disarikan dari buku “Menyikapi Tingkah Laku Suami” karya Muhammad Abdul Ghaffar:

1. Mengingatkan suami dengan cara sebaik-baiknya agar mengendalikan emosi, bahwa orang perkasa menurut Islam adalah yang bisa mengendalikan diri saat marah. Sampaikan dengan sebaik-baiknya sabda Rasulullah:

“Orang perkasa itu bukanlah yang jago bergulat. Sesungguhnya orang yang perkasa itu adalah orang yang bisa mengendalikan diri pada saat marah” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mencari informasi dan menginventarisir pemicu kemarahan suami. Anda bisa melakukan pendataan apa saja yang menyebabkan suami marah, atau bertanya kepada suami dengan cara yang santun apakah ia benar-benar marah dan apa sebabnya. Jika bisa, rayulah suami agar mengungkapkan apa yang bisa mengurangi dan meredakan kemarahannya.

3. Jangan mendekati suami ketika ia sedang marah. Diam atau lakukanlah sesuatu (misal shalat, tilawah, merapikan rumah) agar Anda tidak terpancing ikut marah, atau membuatnya semakin marah.

4. Jika poin 3 tidak marahnya reda, biarkan suami dalam waktu yang cukup untuk ‘menuntaskan’ kemarahannya.

5. Hadapilah kemarahannya dengan kelembutan. Jangan balas dengan kemarahan pula. Ibarat api, padamkan dengan air.

6. Pelajari saat-saat sensitif suami. Pahamilah kondisi dan waktu yang membuatnya mudah marah. Apakah saat pulang kerja karena kelelahan, saat berangkat kerja, atau bagaimana. Jika sudah tahu, cobalah masuk di saat-saat itu dengan hal-hal yang membuatnya senang. Semacam canda kecil, senyum manis dan ciuman, dan seterusnya.

7. Upayakan selalu menjaga kelancaran komunikasi dengan suami. Komunikasi yang buruk biasanya membawa banyak masalah dalam kehidupan berumah tangga. Cobalah sediakan waktu khusus untuk bicara dan waktu khusus keluarga. Misalnya saat makan bersama, saat santai keluarga, saat menjelang istirahat malam, dan sebagainya.

8. Ajaklah suami menuangkan perasaan marah ke dalam tulisan. Sekasar apa pun uneg-uneg itu. Lalu, sobeklah tulisan tersebut dan buanglah ke tempat sampah agar tidak dibaca siapapun. ‘Terapi’ semacam ini cukup efektif untuk sebagian orang sebagai ‘alternatif pelampiasan.’

9. Buatlah aturan untuk menghentikan kemarahan. Kalau bisa, aturan yang disepakati bersama tersebut dibuat secara tertulis dan diletakkan di tempat yang mudah dibaca. Misalnya dinding kamar. Sehingga setiap marah, ia menjadi ingat kesepakatan yang telah dibuat bersama.

10. Anjurkan suami untuk bertanya kepada dirinya sendiri apakah hal yang membuatnya marah itu masalah kecil atau masalah besar. Jika masalahnya besar, ajak ia menyelesaikannya segera, jangan dipendam lama-lama. Jika masalahnya kecil, ajak ia meninggalkannya.

11. Jika berbagai cara tidak berhasil, Anda perlu mengingatkan komitmen pernikahan. Anda bisa bertanya tentang posisi Anda di matanya dan bahwa Anda tidak ingin suami mudah marah.

12. Jika emosi suami telah mereda, jangan membicarakan masalah yang membuatnya tersinggung. Beri dia waktu yang cukup untuk menenangkan diri. Setelah tenang dan marahnya reda, ajak suami membicarakan akar kemarahannya. Saat di tempat tidur adalah saat tepat untuk memecahkannya.

13. Jaga perasaan suami dengan jalan tidak menyinggung masalah yang bisa membuatnya marah, dan jangan membicarakan kesalahannya.

14. Banyaklah berdoa. Panjatkan dengan khusyu' doa kepada Allah agar ia mengubah suami Anda menjadi pribadi yang tidak mudah marah. Sebab, hanya Dia yang kuasa membolak-balikkan hati. [IK/bersamadakwah]

No comments

Powered by Blogger.