Header Ads

Aksi Bela Islam

Beginilah Interaksi Generasi Salaf dengan al-Qur’an

Mushaf Al Quran © photo by Salma J
Salaf, maknanya terdahulu. Jadi, secara bahasa kita bisa mengatakan bahwa ibu kita adalah generasi salaf karena beliau lebih dulu lahir dari diri kita. Namun, salaf yang dimaklumi sebagai sebuah generasi terbaik, adalah mereka yang telah berhasil mendahului kita dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Sehingga Abu Jahal, Abu Lahab, dan kroni-kroninya tidaklah layak disebut sebagai generasi salaf. Pemakaian makna salaf di sini, tidak hanya terbatas pada orang shalih di bawah angkatan para sahabat. Melainkan digunakan secara umum untuk generasi-genarsi muttaqin baik dari kalangan sahabat nabi, ataupun setelahnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau adalah orang pertama yang menggantikan Nabi. Fisiknya kurus, agak tinggi. Tubuhnya gagah. Imannya kokoh. Beliau merupakan pribadi yang paling depan dalam garda dakwah. Beliau adalah orang yang membenarkan nabi ketika orang lain mendustakannya. Beliau merupakan orang yang menyedekahkan seluruh hartanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Ketika ditanya, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Dengan enteng beliau menjawab, “Allah dan rasul-Nya.” Abu Bakar merupakan potret mutiara di tengah lumpur. Dimana beliau mampu menumbuhkan ketajaman nuraninya sehinggga mengikuti dakwah nabi sejak awal. Beliau merupakan sahabat yang mendampingi nabi saat berhijrah. Dimana kala itu beliau berani mempertaruhkan nyawa satu-satunya untuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kekasih yang sangat dicintainya.

Dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, beliau adalah pakarnya. Lihat saja riwayat dari ‘Aisyah, Rasulullah bersabda (di akhir hayat beliau, ketika tengah sakit), “Pergilah Abu Bakar! Dan shalatlah bersama orang-orang.” ‘Aisyah, istri nabi sekaligus anak Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasul, sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang hatinya lembut. Apabila membaca al-Qur’an, dia menangis sehingga orang–orang tidak dapat mendengar bacaannya. Perintahkan saja kepada Umar!”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau selalu menangis tersedu-sedu setiap kali membaca atau mendengar surah al- Zalzalah, surah ke 99.

Menangis ketika membaca atau mendengar al-Qur’an bukanlah hal yang mudah. Hal itu tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memang dekat hatinya dengan al-Qur’an. Bagi mereka yang sangat jarang interaksinya, jangankan menangis! Membacanya saja malas-malasan.

Kita juga mendapati sebuah sekuel singkat tentang sahabat nabi yang bernama Tamim bin Aus Ad Dahri. Beliau senantiasa melakukan qiyamullail dan membaca al-Qur’an. Beliau pernah mengkhatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat. Terkadang, beliau mengulang–ulang satu ayat dalam tahajjudnya hingga subuh menjelang.

Selain kedua nama tersebut, kita juga mengenal sosok Utsman bin 'Affan. Beliau merupakan sahabat yang sangat intens interaksinya dengan al-Qur’an. Ketika Ramadhan, beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam. Bahkan pernah diriwayatkan beliau khatam al-Qur’an dalam sekali duduk. Ketika beliau sudah bersama al-Qur’an, maka tidak ada yang bisa mengganggunya lagi. Kita pun mendapati akhir hayat beliau terjadi ketika sahabat nabi yang paling pemalu ini sedang bertilawah sembari menanti waktu berbuka puasa. Allahu Akbar!

Sahabat Abdullah bin Amru bin ‘Ash juga tercatat sebagai pribadi yang senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan. Sedangkan Imam Syafi’i, khatam al-Qur’an dalam sehari ketika bulan suci sebanyak dua kali.

Kita juga mempunyai Imam Ibnu Jarir ath-Thabari. Masternya tafsir ini dilahirkan di kota ‘Amul, Tabarstan pada akhir tahun 224 H dan wafat di akhir bulan syawal 310 H. Beliau merupakan pribadi yang sangat luar biasa. Zuhud, ‘alim, wara’, ‘abid dan tidak gila jabatan maupun harta. Selain mumpuni di bidang tafsir, beliau juga mahir dalam ilmu sejarah, fiqih dan khazanah keilmuan lain. Beliau termasuk ulama’ yang memiliki multi intelegensi. Beliau menulis dari pagi sampai Ashar. Hanya berhenti untuk makan sebentar dan shalat. Selepas Ashar beliau mengajar sampai Isya’. Selepas Isya’, beliau kembali menulis. Hingga larut. Yang menakjubkan, meski sibuk dengan mengajar dan menulis, dalam sehari semalam beliau bisa membaca al-Qur’an sebanyak seperempatnya atau lebih banyak lagi. Dimana seperempat al-Qur’an sama dengan 7.5 Juz. Subhanallahi Wal-hamdulillah! Ternyata, kesibukan beliau tidak menghalanginya dalam berakrab ria bersama al- Qur’an.

Dalam konteks kekinian, kita masih teringat dengan sosok Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh. Ibu dari 13 anak ini tercatat sebagai pribadi yang gemar berlama-lama bersama al-Qur’an. Dalam sebuah kesaksian oleh Ustadz Salim A. Fillah, beliau pernah menuturkan bahwa di tengah kesibukan yang sangat melelahkan, Ustadzah masih sempat bertilawah sebanyak 3 juz dalam sehari. Padahal, selain mengurus ke-13 anaknya, beliau juga sibuk mengurus rakyat sebagai anggota DPR-RI dan juga mengurus umat bersama dakwah yang beliau geluti.

Saat diminta memberi nasehat terkait tilawah, Ustadzah yang terkenal dengan perjuangannya membantu saudara muslim di Palestina ini berkata lembut, “Jika sedang membaca al-Qur’an, bayangkanlah bahwa kita sedang naik ke atas langit. Ayat yang kita baca itulah tangganya. Semakin banyak dan berkualitas ayat yang kita baca, maka akan semakin cepat pula kita sampai di langit. Jika tilawahnya sedikit, kapan sampainya?” Semoga Allah menerima semua amal kebaikan beliau dan kita semua. Aamiin.


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com



1 comment:

  1. Salam, kalo khatam quran dlm satu malam, kira kira bisa kasih penjelasan secepat apa membacanya... lalu apakah dg kecepatan membaca itu termasuk tartil...? Sekaligus merenunginya...

    ReplyDelete

Powered by Blogger.