Header Ads

Aksi Bela Islam

Ketika Ikhlas Berubah Menjadi Ambisi

Menjaga nyala cinta - ilustrasi gamaisonline.wordpress.com
Aku berjalan tergopoh-gopoh menaiki tangga lantai dua Stadion Tri Dharma Petro. Kulangkahkan kakiku cepat. Tak kupedulikan rasa kantuk yang menyergahku, lapar melilit karena sedari pagi belum makan, sedangkan rasa capek setelah mengajar olahraga semakin menjadi-jadi.

“Sudah jam setengah dua belas. Semoga belum tutup” kataku sambil melihat jam tangan yang baru kubeli seminggu yang lalu.

Aku setengah berlari mencari ruang donor darah. Kata bapak tukang parkir, ruang donor ada di pojok kiri lantai dua Studion Tri Dharma Petro. Aah... sudah sekian lama aku tidak mendonorkan darahku. Ingin rasanya aku mendonorkan darahku agar aku bisa membantu orang lain dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Yupz! Aku berhasil menemukan ruang donor darah. Segera kuisi form untuk pendonor. Tapi, kenapa aku sanksi bisa donor ya? Aku lalu berjalan menuju tempat test golongan darah sambil membawa formulir donor yang sudah aku isi.

“Terakhir kali donor kapan Mbak?”

“Entahlah bu. Sudah lama sekali” jawabku singkat.

“Oh iya, tidak sedang haid kan?” tanyanya lagi, aku menggeleng pelan. “Terakhir kali kapan?” tanyanya lagi yang membuatku agak “cegek”. Aku ingat persyaratan donor adalah seminggu setelah haid atau minimal beberapa hari setelahnya. Tapi aku? Aku baru tadi pagi bersuci! Aah kalau dijawab jujur pasti bakal tidak bisa.

“Waduh saya lupa bu. Tapi sudah beberapa hari yang lalu kok” jawabku sekenanya yang membuatku semakin sanksi, gugup dan takut. Kenapa? Aku berbohong!

Aku lalu berjalan menuju tempat donor. Pelan kunaikkan tubuhku ke atas tempat tidur. Seorang dokter berperawakan gemuk, dengan kemeja biru serta jas dokternya segera mengukur tensi darahku.

Dengan sedikit gugup kuamati dokter itu. Berkali kali dokter itu meyakinkan tensi darahku. Antara yakin dan tidak yakin. Akupun semakin sanksi kalau aku tidak bisa donor. Robbi... izinkan aku untuk donor...

“Tidak bisa Mbak” katanya.

“Kenapa Dok?” tanyaku dengan nada kecewa.

“Tensinya rendah. Mungkin karena kurang tidur atau kecapaian”

“O... terimah kasih dok” kataku sambil berlalu pergi dengan rasa kecewa yang amat dalam.

Sepanjang perjalanan pulang menuju asrama, aku banyak merenung. Dari yang tiba-tiba semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku, hingga pagi aku tidak nafsu makan sehingga badanku lemas, rasa kantuk teramat membuat mataku terasa perih.

Aah... rupanya Allah pun tahu isi hatiku. Aku terlalu berambisi untuk donor sehingga memaksaku untuk berbohong. Padahal dalam berbuat baik, niat haruslah ikhlas, murni tanpa bercampur unsur dan tendensi apapun (penyakit hati).

Dari sini aku mendapatkan pelajaran bahwa suatu kebaikan hanya akan diperoleh dengan kebaikan. Tentunya dengan niat dan cara yang baik sehingga akan berbuah kebaikan yang akan menjadi buah-buah syurga yang indah nun anggun.

Waallahu ‘a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]


4 comments:

Powered by Blogger.