Header Ads

Aksi Bela Islam

Saat Allah Mencintai Hamba-Nya

tanda cinta
Aku sesenggukan di pojok balkon. Air mataku terus mengalir seiring perasaanku yang hancur berkeping-keping. Aku tak bisa berkata apa-apa dengan apa yang mereka katakan. Lidahku keluh seolah tercekat di tenggorokan.

Kini aku hanya bisa menangis, meratapi apa yang mereka katakan. Padahal belum tentu jua tertuju kepadaku.

“Sudahlah... yang penting sekarang kita tetap berbuat kepada mereka,” Kak Ifa mencoba menenangkanku, “Perkara mereka mau baik atau tidak, itu urusan mereka. Yang penting kita sudah bersikap yang terbaik buat mereka”

Tangisku pun mulai berhenti. Beberapa saat kemudian adzan berkumandang. Aku dan kak Ifa bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Isya.

“Ri, kok wajahmu bengal? Kenapa? Kamu habis nangis ya?” goda kak Fidi. Aku tersenyum nyengir walau itu tak dapat menyembunyikan perasaanku di hadapan kak Fidi.

“Sudah, ceritakan saja” bujuk kak Fidi setelah melihat air mataku malu-malu mengintip dari balik kelopak mata.

Aku lalu menceritakan apa yang terjadi tadi sore. Hmm... lebih tepatnya kejadian mengenai aku dan beberapa temanku yang berbeda visi. Sehingga entahlah, aku jadi merasa tersindir oleh kata-katanya. Dan memang sudah beberapa hari ini kami jarang bertegur sapa.

“Sudah ya, jangan terlalu dipikir”

“Kita memang tak bisa mengubah hati orang untuk suka kepada kita. Namun, kita bisa mengubah diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang dicintai Allah”

Kak Fidi mencoba menengankanku. Aku mangut-mangut membenarkan kata-kata kak Fidi. Aah... kak Fidi, apa yang kakak katakan memang benar. Nasehatmu ini mengingatkanku akan sebuah hadits yang kebetulan beberapa hari lalu kubaca dalam buku Syakhshiyatul Muslim karya dr. Muhammad ‘Ali Al-Hasyimi, yang artinya begini :

”Sesungguhnya ketika Allah swt telah mencintai seorang hamba, ia memanggil malaikat Jibril seraya memerintahkan, ‘Aku telah mencnitainya, maka cintailah dia! ‘Rasulullah melanjutkan sabdanya, ‘kemudian malaikat Jibril juga mencintai hamba tersebut.’

Malaikat Jibril menyeru kepada penghuni langit, ‘sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!’ penduduk langitpun kemudian mencintainya”
(HR. Muslim)

Dari sini aku mendapatkan pelajaran, bahwa di saat aku merasa banyak orang yang tidak suka denganku, hal pertama yang perlu aku lakukan adalah mengevaluasi hubunganku dengan Allah (hablun minallah).

Maka, langkah pertama yang harus kulakukan adalah merayu Allah dan menjadikan setiap langkah untuk menuju ridho-Nya. Karena ridho Allah lah yang membuat-Nya mencintaiku. Dan ketika Allah mencintaiku maka otomatis seluruh penduduk langit dan bumi akan mencintaiku.

Yang selanjutnya adalah evaluasi dan muhasabah diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi yang dicintai Allah. Dan yang terakhir adalah bersikap yang terbaik terhadap saudaraku. Walau bagaimanapun sikap mereka terhadapku yang penting aku sudah bersikap yang terbaik terhadap mereka. Semoga dengan seperti itu, Allah membukakan pintu hati mereka.

Aaah... aku jadi ingat Rasulullah. Beliau tidak hanya mencintai para sahabatnya tapi juga musuh-musuhnya. Sehingga itulah yang meluluhkan hati mereka. Hingga banyak diantara mereka yang masuk Islam dan menjadi penegak panji islam di muka bumi. [Ukhtu Emil]


No comments

Powered by Blogger.