Header Ads

Aksi Bela Islam

Premanisme Paripurna Berdasi

ilustrasi @tellado 
Baru dilantik dengan menelan biaya 16 miliar, anggota DPR RI sudah membuat ulah dengan peragaan sidang ala premanisme jalanan. Sidang perdana dengan agenda memilih pimpinan lembaga itu dihujani banyak interupsi, disusul banyaknya anggota yang merangsek maju ke meja pimpinan sidang.

Kejadian ini amatlah memalukan. Di samping mereka adalah wakil rakyat yang sepatutnya memberi contoh, mereka adalah sosok terdidik yang semestinya mengedepankan dialog dengan logika yang tepat. Jika cara ini yang mereka tempuh, apa bedanya dengan rapat paripurna anak jalanan.

Singkat saja, jika mereka mau menundukkan egoisme, kemudian berpikir bahwa yang memimpin sidang adalah sesosok wanita yang berusia 76 tahun, apakah mereka dengan teganya maju menyeruak dengan menuding-nuding dan melontarkan kalimat yang tak layak?

Apakah mereka yang melakukan itu tak memiliki ibu? Ataukah mereka terlahir tanpa nenek? Bukankah pemimpin partai anggota dewan yang merangsek itu adalah perempuan usia mendekati usia 70-an tahun juga? Apakah mereka tak bisa menghormati pimpinan sidang dalam konteksnya sebagai sesama wanita dengan ketua partai mereka?

Bukankah mereka bisa bicara dengan baik, argumentasi cerdas dan kesabaran untuk menerima hasil musyawarah. Jika begini, alih-alih mengklaim diri memperjuangkan rakyat, yang mereka lakukan dalam penampilan perdananya kali ini adalah sebuah upaya memalukan diri dan rakyatnya.

Lebih mengejutkan, ketika mengomentari kejadian rapat itu, calon pelayan negeri ini justru menukasi aneh. Ia berkata, kurang lebih, “Ngapain buru-buru? Hingga rapat sampai larut malam segala. Memangnya ada apa? Maksudnya apa?”

Bukankah dalam banyak kesempatan beliau sering berkata, “Kerja, kerja, kerja.” Bahkan beliau menjelaskan cukup dua pekan untuk menyelesaikan sebuah sistem yang dibutuhkan di negeri ini. Lantas, ketika ada salah satu lembaga yang rapat estafet hingga dinihari, dengan enak beliau berkata sedemikian rupa. Maaf, apakah karena pihaknya merasa dirugikan dalam hal ini? Entahlah.

Tentu, tulisan ini tidak sedang menjustifikasi. Bahwa kaidahnya, di tengah lumpur, sering juga ditemukan mutiara. Dalam kumpulan batu, memungkinkan ditemukannya permata. Dalam sebuah komunitas, pastilah ada orang-orang baik yang sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri dan sesamanya.

Atas itu semua, terhatur doa. Moga mereka yang sungguh-sungguh, senantiasa diberikan kemudahan dalam melangkah dan senantiasa dilindungi Yang Mahakuasa.

Bagi mereka yang dinihari tadi merangsek maju dengan tudingan dan kalimat tak beradab kepada sesosok perempuan seusia nenek kita, saya sarankan untuk segera direvolusi mentalnya oleh kelompok politik yang kemarin menyuarakan gagasan itu. Bahwa revolusi mental, dimulai dari diri dan anggotanya, barulah merevolusi mental rakyat. Jika kelompok politik itu tak mampu, silakan dikirimkan ke kelompok kajian yang banyak terdapat di negeri ini.

Jika merevolusi mental anggotanya saja tak mampu, mungkin jalannya akan semakin panjang nan berliku. Kami muak dengan drama dan janji palsu. Kami butuh kesejukan dan keteladanan yang menentramkan. Bukan sebaliknya. [bahagia]

No comments

Powered by Blogger.