Header Ads

Munajat Cinta untuk Karyawan Sari Roti







By design atau tidak, kami tidak mengetahuinya. Sari Roti tiba-tiba menyampaikan klarifikasi ketidakterlibatannya dalam Aksi 212, lalu mengaitkannya dengan NKRI dan Kebhinnekaan serta urusan politik.


Secara sederhana, klarifikasi itu bermakna: Aksi 212 dan pesertanya tidak menjaga NKRI, anti-kebhinnekaan, dan bernuansa politik.

Padahal, ada Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang hadiri aksi sejak pagi sampai selesai bahkan sampaikan sambutan. Padahal, ada Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid MA yang memberi sambutan. Padahal, Presiden, Wapres, Panglima TNI, dan beberapa Menteri Kabinet Kerja pun hadir.

Alhasil, klarifikasi Sari Roti justru blunder dan sangat menyakiti kaum Muslimin, lebih khusus lagi peserta Aksi 212 yang disebut oleh Firsan Nova (Managing Director NEXUS Risk Mitigation and Strategic Commnunication) sebagai kelompok masyarakat yang militan, disiplin, dan memiliki solidaritas tinggi.

Boikot pun membahana. Pembeli adalah raja. Pembeli bebas menentukan untuk membeli kepada siapa. Pembeli bebas memilih untuk melanjutkan transaksi, berlangganan sesekali, atau berhenti untuk selamanya.

Namun, kaum Muslimin tidaklah kejam. Kaum Muslimin itu santun. Kaum Muslimin memahami, siapa di balik klarifikasi itu. Ialah pihak perusahaan.

Sementara itu, dalam industri Sari Roti ada banyak kaum Muslimin yang terlibat. Baik sebagai karyawan bidang produksi, jajaran manajemen, hingga distribusi di seluruh Indonesia yang jumlahnya puluhan ribu. Apalagi, Sari Roti memegang kendali 75% pasar roti dan produk sejenisnya di Indonesia.

Harapannya sederhana, Sari Roti lakukan klarifikasi ulang. Meminta maaf. Bukankah semua bisa salah? Dan hak bagi orang yang salah untuk memperbaikinya. 

Sayangnya, Sari Roti menutup diri. Sari Roti bahkan menolak 7 perwakilan kaum Muslimin yang hendak melakukan mediasi di pabriknya, awal pekan ini. Sari Roti hanya mau menerima 3 atau 4 dari 7 perwakilan. Sedangkan 7 orang adalah jumlah yang sedikit dan amat mungkin duduk dalam satu ruangan pertemuan.

Oleh karena itu, kiranya kaum Muslimin mampu bersikap bijak hadapi hal ini. Pikirkanlah nasib para pekerja Sari Roti. Bantu dengan langkah-langkah produktif. Jika mereka adalah tetangga atau saudara kita, segera upayakan pekerjaan yang lebih baik, jika memang memilih memboikot.

Hal lainnya masih sangat banyak. Sebab, di Indonesia ada banyak produk alternatif. Mulai dari yang kecil hingga menengah ke atas. Indonesia kita kaya produsen roti. 

Dan yang paling penting, mari lantunkan munajat cinta untuk karyawan Sari Roti. Semoga Allah Ta'ala kurniakan kekuatan kepada mereka untuk beralih dari karyawan menjadi pengusaha. Semoga ada di antara mereka yang kelak mendirikan perusahaan roti skala Nasional bahkan Internasional, dan nyata keberpihakannya dengan kaum Muslimin.

Semoga Andalah orangnya! [Tarbawia]
Powered by Blogger.