Logika Amat Sederhana Ini Mustahil Dipahami Ahoker

Ahok (ilustrasi)



Ungkapan bahwa cinta itu buta ada benarnya. Saat cinta sudah merasuki pikiran dan hati, keburukan yang dicintai akan terlihat seperti kebaikan bahkan sangat digandrungi dan dibela habis-habisan.

Sebaliknya, tatkala orang yang dibenci melakukan kebaikan, hal itu tidak bermakna bahkan disebut sebagai pencitraan dan tuduhan buruk lainnya. Seperti cinta, benci akut pun amat berbahaya dampaknya.

Dalam sidang kelima kasus dugaan penistaan agama oleh terdakwa Ahok, ungkapan bahwa cinta itu buta seakan menemukan bukti sangat nyata. Pasalnya, ada pihak-pihak yang mempersoalkan dan menggugat para saksi pelapor karena tidak menyaksikan langsung ceramah Ahok di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu.

Menurut mereka, menyaksikan melalui tayangan video tidak kuat untuk dijadikan bukti, apalagi masyarakat Pulau Pramuka Kepulauan Seribu yang menyaksikan langsung tidak mempersoalkan ceramah Ahok.



Sekilas, logika ini bisa dibenarkan. Namun, jika menelisik lebih jauh, pendukung dan fans berat Ahok justru melakukan blunder karena melakukan tindakan kontradiktif dalam kesempatan lain. Dan sangat fatal.

Hal ini sebagaimana dibedah oleh seorang netizen bernama Balya Nur. Ia dengan tegas menyatakan; 

"Ada yang mempersoalkan saksi pelapor kasus Ahok karena dianggap tidak melihat langsung hanya melihat lewat video. Dan menyatakan warga Kepulauan Seribu tidak keberatan dengan pidato Ahok, tapi mendukung PMKRI melaporkan Habib Rizieq soal ceramah terkait sura Al-Ikhlash, padahal PMKRI juga tidak melihat langsung, cuma lihat videonya saja. Juga, jamaah yang hadir di ceramah Habib tidak keberatan," tegas Balya di akun fesbuknya pada Senin (10/1/17) pagi. [Tarbawia/Om Pir]

Powered by Blogger.