Beginilah Zalimnya Pemberitaan Media Nasional terhadap Gubernur Muslim Penuh Prestasi

Kepala Daerah penerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha (kemendagri)




Media Nasional kembali bersikap tidak adil alias zalim terhadap daerah yang dipimpin oleh Gubernur Muslim penuh prestasi. Alhasil, jika tidak teliti dan hanya membaca judul, pembaca akan terdoktrin sebagaimana judul yang dipublikasikan oleh media ini.


Dalam pemberitaan hari ini, Selasa (25/4/17) pukul 12.17 WIB, portal Kompas.com melansir berita berjudul: Jakarta Jadi Provinsi Berkinerja Terbaik, Djarot Disambut Paling Meriah.

Jika hanya membaca judul, Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dengan wakilnya Djarot Syaiful Hidayat berhasil meraih predikat paling baik dan tidak ada yang lebih baik darinya.

Padahal, jika pembacaan dilanjutkan ke badan berita, akan didapati kesimpulan yang jauh berbeda dari judul yang diterbitkan.

Disebutkan dalam berita tersebut, Kementrian Dalam Negeri memberikan penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha berdasarkan hasil evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah (EKPPD) tahun 2016 terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) 2015.

Ketidakadilan dalam pemberitaan tersebut baru bisa didapati oleh pembaca di akhir paragraf kelima. Di sana disebutkan, "Namun, DKI Jakarta bukanlah Provinsi dengan skor tertinggi."


Di sini, timbullah pertanyaan, "Jika bukan skor tertinggi, mengapa disebutkan 'terbaik' dalam judul berita? Bukankah terbaik bermakna yang paling baik atau tidak ada yang lebih baik darinya?"

Dalam kelanjutan paragraf berikutnya, disebutkanlah provinsi-provinsi mana yang sejatinya layak mendapatkan gelaran terbaik dan nama provinsinya ditampilkan di judul dengan penghormatan penuh.

Dan ternyata, dua provinsi terbaik merupakan daerah yang dipimpin oleh Gubernur Muslim sarat prestasi.

"Provinsi dengan kinerja terbaik didapat oleh Provinsi Jawa Timur dengan skor 3,1802. Berikutnya disusul oleh Jawa Barat 3,1760; Kalimantan Timur 3,1469; DKI Jakarta 3,0560; dan Jawa tengah 3,0539." sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (25/4/17).



Negeri ini patut bersedih lantaran ketidakadilan yang terjadi di level media berkelas Nasional. Bagaimana kisahnya peringkat 4 mendapatkan julukan terbaik dan ditampilkan di judul, sedangkan juara satu dan dua tenggelam jika pembaca hanya berhenti di judul tanpa melanjutkan membaca badan berita? [Om Pir/Tarbawia]

Powered by Blogger.