Saat Pedang Musuh Ada di Tanganmu, Apa yang Kau Lakukan?


Hari ini tanggal 9 Rabiul Awal. Tahukah engkau apa yang terjadi pada hari ini 1430 tahun yang lalu? Saat itu dua orang yang telah menempuh perjalanan selama satu pekan dengan didahului menginap di sebuah gua yang gelap beberapa hari, tiba di sebuah daerah yang bernama Quba. Mereka berdua adalah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar.

Tapi tulisan ini ingin mengajak kita pada fragmen sebelumnya. Sekitar empat hari sebelum itu... Tampak dari kejauhan sesosok laki-laki menunggang kuda dengan kecepatan tinggi hendak menyusul mereka. Dari kejauhan juga kelihatan samar-samar bahwa ia membawa pedang. Siapa dia? Ada maksud apa gerangan?

Mungkin saat itu Abu Bakar cemas sebagaimana kecemasannya tatkala berada di gua tsur dan orang-orang berada di atas mulut gua, sekali saja mereka melihat kaki sendiri niscaya akan tahu bahwa dua orang target mereka ada di gua itu, namun Allah menyelamatkan mereka berdua. Lalu sekarang? Penunggang kuda itu terus mendekat dan kian dekat, tinggal beberapa meter lagi. Namun...

Kuda yang ditumpanginya terjatuh. Ia pun ikut terjatuh padahal pedang sudah siap di tangan untuk menebas Rasulullah. Ternyata ia adalah Suraqah. Ia berusaha bangkit dan kembali mengejar Rasulullah. Lalu, tinggallah beberapa langkah untuk menyusul dan menyabetkan pedangnya, namun kudanya kembali terjatuh. Sampai ketiga kalinya, kudanya benar-benar terbenam bersamaan dengan itu terkubur pula ambisi Suraqah untuk membunuh Rasululullah oleh bongkahan-bongkahan besar ketakjubannya pada kekuatan yang melindungi Rasulullah. Terkikis sudah ambisi untuk memenangkan sayembara berhadiah 100 onta oleh kekagumannya akan kekuasaan Dzat yang senantiasa menolong Rasulullah.

Kini kemenangan itu telah ada pada Rasulullah dan sangat mudah bagi beliau untuk membunuh Suraqah. Pedang musuh telah ada di tangan, apa yang hendak engkau lakukan? Tapi, ini adalah Rasulullah, manusia teragung dengan akhlaq adzimah. Maka, ia memaafkan Suraqah begitu saja.

Selain merupakan cahaya akhlaq adzimah yang membuat iri para malaikat dan mengundang decak kagum setiap orang, sikap ini berbuah kemanfaatan bagi strategi dakwah. Apa itu? Di belakang Suraqah telah bersiap-siap sejumlah orang mengejar Rasulullah dan membunuhnya karena tergiur hadiah 100 onta. Andaikan saat itu Suraqah dibunuh, tentu orang-orang itu tetap berangkat dan siap 'bertempur' memenangkan sayembara. Namun, takdir Allah mendahului mereka.

Sebelum mereka menghentakkan tali kekang kudanya, Suraqah telah mendatangi mereka. Saat mereka sadar bahwa Suraqah baru saja mengejar Muhammad, mereka pun bertanya: “Apakah kau melihat Muhammad atau berhasil menemuinya” Suraqah menjawab dengan penuh keseriusan “Demi Allah, aku tidak menemukan siapapun di sana, padahal aku telah menelusuri segala medan gurun pasir. Lebih baik urungkan saja niat kalian!” Mereka pun membatalkan rencananya dan melupakan 100 ekor onta yang dijanjikan.

Gerakan amal islami sekarang juga bisa saja menghadapi ancaman yang datang dari musuh dakwah. Lalu ketika kita berhasil mematahkan upaya makar mereka, bahkan kekuasaan itu ada ditangan kita, apakah kita akan meniru Rasulullah? Semoga! [Muchlisin]
Powered by Blogger.