Kaidah dan Rambu-rambu Strategi Dakwah


Strategi dakwah merupakan hal yang sangat urgen untuk dikuasai para aktifis dakwah dan gerakan amal islami. Sebelum merumuskan strategi dakwah dalam aspek aplikasi, perlu terlebih dahulu dipahami kaidah dan rambu-rambunya.


1. Strategi Dakwah termasuk Mutaghayyirat, sedangkan Kewajiban Dakwah dan Tujuannya bersifat Tsawabit

Strategi dakwah termasuk mutaghayyirat (hal-hal yang bisa berubah, fleksibel dan tidak paten). Maka dai dan gerakan dakwah mendapatkan kelonggaran untuk melakukan inovasi padanya sesuai dengan perkembangan zaman.

Misalnya pada pemanfaatan media dan teknologi. Dulu di Zaman Rasulullah tidak pernah ada dakwah dengan multimedia atau via internet karena memang belum ada teknologi semacam itu. Karenanya Rasulullah bersabda :
أنتم أعلم بأمر دنياكم
"Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu" (HR. Muslim, Juz 4 hlm.1836)

Adapun kewajiban dakwah sifatnya tsawabit, permanen. Maka, sampai kapanpun dan teknologi secanggih apapun, dakwah tetap wajib. Demikian pula tujuannya.

Maka yang menjadi pertimbangan dalam merumuskan strategi dakwah adalah bagaimana keefektifitannya dalam mencapai tujuan dakwah. Dai atau gerakan dakwah bebas berkreasi menentukan strategi asalkan ia efektif. Yang tidak patut dilakukan adalah ketika strategi itu justru kontraproduktif bagi tujuan dakwah.

2. Strategi Dakwah bukan termasuk ibadah (mahdhah), sehingga kaidah ushul yang berlaku adalah الأصل في التخطيط الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Strategi dakwah apapun pada awalnya diperbolehkan, dan tentunya diprioritaskan berdasarkan efektifitasnya dalam mencapai tujuan dakwah. Yang kemudian menjadi batasan adalah aturan-aturan syar'i. Artinya, strategi apapun boleh diterapkan sepanjang ia tidak melanggar syariat Islam.

Maka, tidak boleh dilakukan sebuah strategi dakwah meskipun tujuannya baik, namun bertentangan dengan syariat Islam. Misalnya, untuk mendakwahi pemuda lingkungan kita perlu mendekatinya lebih dahulu. Karena kesukaan pemuda lingkungan tersebut adalah mabuk-mabukan, maka kita ikut mabuk-mabukan bersama mereka. Strategi seperti ini tidak diperbolehkan. Sebaliknya, sepanjang tidak ada dalil syar'i yang melarang, strategi apapun boleh diterapkan.

3. Dakwah perlu terstruktur dengan rapi

Setidaknya ada beberapa dalil yang menjadi argumentasi bagi kaidah ini:
a. QS. Ali Imran : 103
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Pada ayat ini Allah menggunakan kata "minkum" yang berarti sebagian. Namun, tidak cukup berhenti di sana. Sebagaian itu perlu berkoordinasi karena tugasnya demikian berat (dakwah ilal khair, amar ma'ruf, nahi munkar).

b. QS. Ash-Shaff : 2
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ [الصف/4]
Pada ayat ini Allah lebih tegas mengatakan kecintaanya kepada barisan yang rapi, terstruktur, terorganisir. Meskipun teks ayat berbicara tentang jihad, tetapi ibrahnya bisa diterapkan pada dakwah juga.

c. Sirah Nabawiyah
Pada sirah nabawiyah kita juga mendapatkan strategi gerakan dakwah Rasulullah yang terstruktur dengan rapi. Pada masa awal beliau mengajak istri, shahabat dekat, dan orang-orang yang paling dekat dengan beliau. Lalu dakwah mulai berkembang seingga menghasilkan "assabiquunal awwaluun" yang dibina secara terorganisir di rumah Arqam bin Abi Arqam. Merekalah struktur inti dakwah Islam fase Makkiyah. Merekalah lingkaran I, meminjam istilah pergerakan sekarang. Lebih ke lingkaran luar ada orang-orang yang menjadi lingkaran II.

Rasulullah juga melakukan pembagian tugas sesuai kompetensi mereka. Meskipun tidak ada istilah khusus untuk struktur ini selain Islam itu sendiri, kesimpulan yang kita dapatkan adalah bahwa dakwah Rasulullah dikelalola dengan struktur yang rapi. Ini baru fase Makkiyah, saat umat Islam belum memiliki negara (baca: daulah). Pada fase Madaniyah, struktur lebih rapi dan kokoh.

d. Fakta Sejarah
Ternyata, struktur yang rapi juga menjadi kunci kemenangan dakwah. Bangkitnya Daulah Abbasiyah dan keberhasilan mereka melanjutkan kekuasaan Islam juga berawal dari struktur yang rapi. Seruan dakwah mereka yang intinya "Ridha kepada ahlul bait Nabi" disebarkan oleh jaringan dakwah yang tersetruktur rapi. Saat momen sejarah tiba, mereka memproklamirkan berdirinya Daulah Abbasiyah di atas puing-puing Daulah Umayyah. Dan sejarah kemudian mencatat masa kejayaan Islam ada pada rentang sejarah Daulah Abbasiyah ini.

4. Dakwah memerlukan pentahapan/marhalah dan orbit /mihwar dakwah.
Kalau kita mengkaji sirah nabawiyah dengan cermat, kita akan menemukan tahapan/marhalah dakwah yang dilalui oleh Rasulullah dalam mengemban risalah. Secara garis besar perjalanan dakwah itu dibagi ke dalam dua fase: Makkiyah dan Madaniyah. Dengan hijrah sebagai masa transisinya.

Lalu jika dirinci lagi, akan ada tiga marhalah dakwah yang dilalui dilihat dari metode dakwah dan strukturnya. Pertama, sirriyatud dakwah wa sirriyatud tandzim. Kedua, jahriyatud dakwah wa sirriyatut tandzim. Ketiga, jahriyatud dakwah wa jahriyatut tandzim.

Karenanya, dakwah sekarang pun perlu disusun sebuah strategi dengan marhalah/pentahapan dan mihwar/orbit yang jelas. Tidak berangkat dari satu titik lalu melompat ke puncak pendirian daulah, tanpa mempedulikan titik pertama itu di mana. Kalaupun kemudian daulah berdiri, maka ia akan menjadi rapuh, mudah digoyang, dikudeta, atau dirobohkan. Lalu dakwah kembali mulai dari titik nol.[muchlisin]
Powered by Blogger.