Mengelola Organisasi Islam


Malam Jum'at kemarin, sebelum tidur saya mendapatkan SMS dari seorang kawan. Ia mengeluhkan tentang kepemimpinan. Bukan kepemimpinan orang lain tetapi kepemimpinannya sendiri. Ia berpendapat kalau ia gagal dalam memimpin organisasinya kini.

Pada hari yang sama sebelum shalat Jum'at, saya terlibat pembicaraan tentang proposal dengan orang kedua di sebuah instansi sebelum memutuskan apakah proposal ini dibantu atau tidak. Yang saya herankan, organisasi Islam yang cukup besar yang mengajukan proposal ini ternyata menunjukkan ketidakprofesionalan dalam pengelolaannya. Setidaknya tercermin dari proposal yang kami bahas. Diantaranya pada estimasi anggaran. Bagaimana mungkin ada dua mata anggaran yang salah hitung, dan kesalahannya fatal. Belum lagi kesalahan lain yang bisa kita dapatkan –hanya- dari proposal itu.

Mengelola sebuah organisasi Islam adalah amanah yang berat. Konsekuensinya bukan semata-mata pribadi seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tetapi juga citra Islam.

Alasan pertama itulah yang membuat Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar :
يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها وأدى الذي عليه فيها
"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah. Sementara (kepemimpinan) itu adalah amanah. Dan pada hari kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang melaksanakannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan yang semestinya" (HR. Muslim)

Alasan yang kedua tidak lebih ringan dari alasan sebelumnya. Atas kesalahan kita, nama Islam bisa terbawa-bawa. "Ternyata sama saja, organisasi Islam juga tidak amanah", "Tidak punya etika, apa bedanya berazas Islam atau bukan", dan komentar-komentar lain yang menggeneralisasi akibat kesalahan sebagian (pemimpin) organisasi Islam.

Untuk itu kita diingatkan dengan sebuah hadits yang sangat penting untuk kita renungkan.
ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, baginya dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa orang itu sedikitpun" (HR. Muslim)

Memang kasus kedua tidak separah hadits ini. Namun, ketika stigma negatif diberikan kepada Islam dengan sebab tindakan kita, patutlah kita takut bahwa dosa yang timbul akan menambah dosa kita.

Tulisan ini tidak hendak mengajak kita untuk menolak amanah. Terlebih jika amanah itu diberikan oleh umat/jamaah kepada kita, dengan alasan jika diberikan kepada orang lain bisa jadi kemaslahatan yang datang berkurang, atau muncul kemudharatan. Karenanya, untuk kawan saya, sms-nya saya jawab : “Sabarlah akhi, memimpin di masa-masa sulit memang berat namun pahalanya juga besar” Jawaban ini yang saya berikan sebab saya tahu 'kegagalannya' memimpin bukan semata karena faktor dirinya, tetapi juga faktor tim. Apalagi belum ada generasi penerus yang 'lebih baik' untuk menggantikannya.

Tulisan ini justru hendak mengingatkan kepada kita semua akan makna tanggungjawab dan amanah. Hendaknya kita berusaha menjadi lebih baik dalam mengelola organisasi; terlebih organisasi Islam. Hendaknya kita terus berupaya untuk menjadi profesional. Jangan cederai organisasi Islam, apalagi Islam itu sendiri. Anda setuju? [Muchlisin]
Powered by Blogger.