Sopir Bis, Laptop dan Kejujuran


Dua hari yang lalu. Bis melaju memasuki kota santri. Kembali akan mempertemukan kami dengan tempat keberangkatan Rihlah A'iliyah ini. Waktu menunjukkan pukul 16.40 saat kami sampai di bundaran GKB. Tiga keluarga turun di sini. Lalu kami meneruskan perjalanan yang tinggal 10 menit lagi.

Rumah peduli. Begitulah markaz dakwah ini dikenal. Di depannya, bis kami berhenti. Semua penumpang turun, demikian pula barang-barangnya. "Tidak ada barang yang tertinggal Pak?" Sopir bis bertanya untuk memastikan.
"Tidak ada. Terima kasih Pak" jawab beberapa orang mewakili peserta rihlah a'iliyah.

Beberapa meter bergerak, bis berhenti. Terlihat Pak Sopir berjalan cepat menuju kami sambil menenteng sebuah tas berat di tangannya. "Ini, ada yang ketinggalan, Pak" ujarnya sambil menyerahkan tas berwarna hitam itu.
"Terima kasih, Pak"
"Sama-sama"

Kami saling bertanya tas siapa itu. Tidak ada yang mengaku. Kuraba isinya. Laptop, ternyata ada laptop di dalamnya. Berarti tas ini milik salah seorang Ustadz yang turun di bundaran GKB tadi. Kupastikan lewat telpon. Dan… ternyata benar.
***

Sopir yang jujur. Benar-benar jujur. Kalau saja ia mau, ia bisa meneruskan laju bisnya dan 'menikmati' laptop itu. Kalaupun besuk ditanya ia bisa mengatakan tidak tahu menahu. Dan mungkin saja pemilik laptop juga tidak bisa memastikan apakah laptopnya hilang di bis atau tertinggal di villa. Namun, itu tidak dilakukannya.

Kita semua tentu menyukai orang-orang yang jujur seperti ini. Jiwa kemanusiaan kita tentu sangat mencintai kejujuran dan orang-orang yang jujur seperti sopir ini. Kehidupan akan merengkuh kedamaian saat berjumpa dengan orang-orang yang jujur seperti ini.

Lihatlah… betapa satu orang sopir yang jujur telah membawa kebahagiaan tidak hanya bagi keluarga Ustadz yang kehilangan laptop, tetapi juga bagi kami yang menjadi saksi peristiwa itu. Bahkan, bagi seluruh rombongan rihlah a'iliyah yang berjumlah 4 bis dan 4 mobil ini. Maka, betapa besarnya kemaslahatan yang tercipta di Indonesia ini jika para pemimpin dan wakil rakyat memiliki kejujuran seperti ini?!

Kejujuran memang selalu mendatangkan kebajikan-kebajikan berikutnya; maka saat sopir mengembalikan tas hitam itu, ia sesungguhnya telah melakukan kebajikan bagi dirinya dan mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Ketika pemimpin memelihara kejujuran, ia berarti melakukan megaproyek kebajikan yang kebaikannya dirasakan oleh publik di wilayah kepemimpinannya. Semakin tinggi level kepemimpinan, semakin banyak manusia yang merasakan kemanfaatan. Ujung-ujungnya, baik bagi sopir ataupun pemimpin yang telah menanam saham kebaikan melalui kejujuran, terminal akhirnya sama; surga!

Inilah makna hadits :
إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة
"Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu membawa kepada surga." [HR. Bukhari-Muslim]

Maka, kami berdoa untukmu wahai sopir yang jujur: "Ya Allah, berikanlah balasan kebaikan yang lebih besar karena kejujurannya. Jadikanlah kejujurannya mengantarnya pada kebaikan, dan jadikanlah kebaikannya mengantarnya menuju Surga-Mu. Jadikan pula kami sebagai orang-orang yang jujur" [Muchlisin]
Powered by Blogger.