Tiga Manusia dan Ujian-Nya


Hujan baru saja lewat. Kedatangannya yang tidak terlalu lama sudah cukup untuk membuat bumi basah. Bahkan ia mampu mengerdilkan jiwa orang-orang yang lemah. Semangat melemah sebagaimana langit yang tidak lagi cerah. Jiwa dilanda gelisah sebagaimana mendung yang masih membuncah. Dada disesaki oleh masalah sebagaimana bumi yang diselimuti dingin.

Sebagaimana bumi baru saja dilalui hujan dan menyisakan rasa yang berbeda pada manusia, aku juga baru saja dipertemukan dengan tiga orang yang berbeda. Tiga orang dengan tiga permasalahannya. Tiga jiwa dengan ujian yang paling khas buat mereka.

Orang pertama, ia diuji dengan cinta. Sejatinya, ia adalah laki-laki kuat. Berbagai keterbatasan telah dilaluinya dan berbagai ujian telah diselesaikannya. Namun barangkali inilah ujian yang paling berat baginya. Ia menyadari jalan yang ia tempuh saat ini terlalu suci untuk disertai dengan 'rengekan cinta' semacam ini. Toh, ia juga manusia biasa. Cinta telah menjadi blunder baginya.

Orang kedua, ia diuji dengan popularitas. Ia cerdas. Masih muda. Lebih muda dari orang pertama. Tapi, popularitas yang ingin dikejarnya terasa terlalu mahal untuk dibayar dengan hilangnya banyak kesempatan untuk beramal. Keinginannya dipuji terlalu mendominasi dan membuatnya begitu sulit mengikhlaskan diri. Ia terjebak. Terjebak pada jalan yang telah dirintisnya sendiri.

Orang ketiga, ia diuji dengan kekayaan. Tapi tahukah engkau saat aku datang ke rumahnya dan memang aku sudah mengenalnya. Ia tidak perlu bicara untuk menjelaskan siapa dirinya. Sebab tutur katanya, gaya hidupnya, dan pola kesehariannya lebih banyak berbicara bahwa ia lulus dengan ujian itu. Ujian yang barangkali akan banyak membuat orang terlena; dalam kesombongan atau dalam 'menelikung' perjuangan. Ia tetap sederhana. Tapi ia menjadi teladan di sekelilingnya; di jalan panjang perjuangan ini. Kekayaan ternyata ada di tangannya untuk dikembalikan kepada-Nya; bukan berada di hatinya yang membuat kekikiran menutup jalan Tuhan.

Benar kata Ustadz Rahmat Abdullah. “Engkau akan diuji di titik terlemah yang engkau miliki.” Ujian itu bisa cinta, bisa popularitas, dan bisa berupa harta. Satu yang pasti; yang paling berat kita hadapi adalah ujian di titik terlemah yang kita miliki. Banyak orang yang akan terjerumus dalam ujian-ujian itu. Tetapi, akan selalu ada orang-orang yang mampu melewati ujian itu dan mendapatkan kelulusan dari-Nya. Bagaimana dengan kita?[Muchlisin]
Powered by Blogger.