Ujian Keimanan


Kemarin kami dikejutkan dengan sebuah berita. Saat itu Maghrib menjelang tiba. Kami mendapat berita bahwa kawan kami masuk rumah sakit. Ia menikah belum genap satu tahun. Ia hamil juga belum genap enam bulan. Saat kami sampai di rumah sakit, kami mendapatkan cerita dari sang ibu. Kawan kami melahirkan pada usia kandungan keenam. Namun, belum setengah jam si kecil itu memasuki dunianya yang baru, ia telah meninggalkan dunia barunya itu untuk selamanya. Sang suami tengah memakamkan buah hatinya di Bojonegoro, saat kami ada di rumah sakit itu.

Ini bukan kali pertama ujian bagi mereka, pasangan muslim muda yang memiliki komitmen keislaman di tengah materialisnya kehidupan. Beberapa waktu sebelumnya, mereka ditipu ketika tengah merintis usahanya. Uang Rp.30 jutaan raib. Begitu saya dengar dari kawan dekatnya.

***

Orang-orang yang beriman memang tidak bisa melepaskan diri dari hal yang satu ini: ujian keimanan. Melalui proses inilah Allah hendak membuktikan keimanan sesungguhnya dari setiap orang yang mengatakan "aamannaa", kami telah beriman. Dengan metode inilah Allah memisahkan emas dan loyang; keimanan yang sesungguhnya dan keimanan yang sekedar pengakuan verbal. Karenanya Allah SWT berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [العنكبوت/2]
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan "kami telah beriman" sementara mereka tidak diuji? (QS. Al-Ankabut : 2)

Dalam hal apa manusia diuji adalah perkara lain. Namun yang pasti, semua manusia beriman akan mendapatkan ujian. Ada yang diuji dengan cinta, popularitas, dan harta sebagaimana dalam tiga manusia dan ujian-Nya. Ada pula yang diuji dengan berbagai kesusahan seperti yang dialami kawan saya dalam cerita di atas.

Kalau kita perhatikan, para Nabi sebagai manusia-manusia terbaik juga tidak lepas dari ujian semacam ini. Bahkan, sebagaimana mereka adalah model keimanan, mereka juga menjadi model bagi obyek ujian keimanan. Maka, sejarah meninggalkan pesan kepada kita bahwa mereka ditimpa oleh ujian-ujian terberat sepanjang sejarah kehidupan manusia. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit yang sangat berat. Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayahnya dan 'lautan api' hukuman Namrudz, raja yang menolak dakwahnya. Nabi Nuh harus melalui 950 tahun dengan penuh kesulitan dan hasilnya, hanya beberapa orang yang beriman, selebihnya menjadi musuh dan para pencela. Apalagi Nabi Muhammad. Ujiannya dalam menyebarkan nilai-nilai Ihaliah teramat banyak untuk disebutkan; ada celaan, intimidasi, lemparan batu, sampai upaya pembunuhan. Semua ini bermuara kepada satu hukum: semakin besar keimanan seseorang, semakin berat pula ujiannya. Inilah makna hadits :

سئل النبي صلى الله عليه و سلم أي الناس أشد بلاء قال الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل
Nabi SAW ditanya : "Siapa manusia yang paling berat ujiannya?" beliau menjawab : "Para nabi, kemudian baru orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat." (HR. Tirmidzi)

Kawan saya yang telah kehilangan uang dan bayi laki-lakinya terus berupaya bersabar atas ujian-ujian yang menimpanya. Ia ingin melakukan apa yang dicontohkan para Nabi sebagaimana ia ingin mendapatkan seperti apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Kawan saya kini bersabar, dan sedang menunggu pahala. Dengan izin Allah.

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang mengenai dirinya, hartanya, anaknya, tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berdosa (HR. Tirmidzi)

Sabarlah wahai kawanku, kami mendoakanmu… [Muchlisin]
Powered by Blogger.