Suro Pertama Harakah Islamiyah


Malam ini, dalam dua bulan terakhir, sebuah harakah Islamiyah di tingkat cabang akan mengadakan suro untuk pertama kalinya. Dua bulan bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah cabang harakah islamiyah yang tengah menapaki jalan menuju mihwar dauli. Tapi, inilah kenyataannya. Jika tulisan ini dibaca oleh ikhwah di ibukota atau tempat lain yang kondisi tanzhimnya sudah establish mungkin mereka akan berpikir heran; bagaimana mungkin itu terjadi? Tapi, inilah kenyataannya.

Seorang ikhwah yang merasa bertanggungjawab sedang merenungi kondisi ini. Dialah yang diamanahi menjadi mas’ul penggerak di cabang ini. Suro akan berjalan jika dia mengontak seluruh personel terkait. Dan cabang ini akan kembali berada dalam kondisi laa yamuutu walaa yahya saat dia tidak memerankan tugasnya. Meskipun, secara tanzhimi bukan dia orangnya. Yang menjadi masalah adalah, bahwa dia juga memiliki amanah di 6 organisasi dalam waktu yang sama: 4 organisasi berada dalam lingkaran harakah Islamiyah; 2 organisasi di bawah naungan pemerintah.

Dia mungkin belum mampu memenuhi semua tuntutan peran itu. Mengutip manajemen waktu generasi ketiga-nya Stephen R. Covey, ia gagal mendistribusikan waktunya secara tepat ke semua organisasi yang diperankannya. Khususnya di cabang ini. Sebenarnya ia berharap perannya bisa dimainkan orang lain. Tapi sampai saat ini harapan itu belum terwujud. Banyak orang memang. Namun mereka belum siap untuk lebih aktif dengan alasan berbagai kendala dan masalahnya masing-masing.

Semoga masalah seperti ini hanya terjadi di sini. Dan semoga masalah ini cepat teratasi. Bukankah diantara sebab matinya sebuah organisasi adalah macetnya regenerasi?

Mengharapkan dia untuk berperan lebih rasanya juga sudah tidak mungkin, terutama untuk saat ini. Sebab selain rangkap amanah seperti di atas, ia juga tengah berkonsentrasi menyelesaikan studinya. Dan, ia juga tengah serius menjalani proses tafaqquh. Sebab ia sadar dengan sepenuhnya akan urgensi tafaqquh sebagaimana yang dikatakan Umar bin Khattab: "Bertafaqquhlah kalian selagi belum menjadi pemimpin; sebab saat kalian telah menjadi pemimpin, tidak ada lagi waktu -yang cukup- untuk bertafaqquh".[Muchlisin]
Powered by Blogger.