Sisi Lain Isra’ Mi’raj


Sang Nabi pun berduka. Sebab ia tetaplah manusia biasa seperti kita. Dan manusia manakah yang tidak berduka saat istri dan pamannya tiada. Istri yang tidak hanya menjadi teman sejati, tapi juga pembela abadi bagi dakwahnya. Dengan dirinya Nabi beroleh ketenangan saat dilanda kekhawatiran. Dan dengan hartanya Nabi membiayai dakwah Islam. Sedangkan sang Paman? Meski tidak pernah bersyahadat sampai ajal menjemputnya, ia tetap berdiri kokoh laksana batu karang yang menjaga Nabi dari setiap gelombang bahaya yang mengancam. Kedua pembela itu kini meninggalkan Nabi untuk selamanya.

Sesaat kemudian, Nabi dan dakwahnya menghadapi tribulasi yang jauh lebih dahsyat dari orang-orang kafir Quraisy yang memusuhinya. Tribulasi yang berlipat ganda dari sebelumnya. Tidak salah jika kemudian para ahli sejarah menamakan tahun ini dengan ammul hazm, tahun duka cita.

Namun, misi besar yang tengah berjalan tidak boleh terhenti oleh duka sebesar apapun. Yang membedakan kita dengan Nabi adalah bahwa ia mendapatkan wahyu dari Allah dan senantiasa dibimbing-Nya. Kalaupun dua orang pembelanya telah pergi, siapakah yang lebih besar pembelaan-Nya dari Allah Azza wa Jalla? Allah yang telah menetapkan misi ini dan melangsungkan takdir yang ditulis-Nya. Maka Allah sesungguhnya telah menyiapkan skenario-Nya. Sebuah ‘hiburan’ dan ‘penguatan misi’ bagi Sang Nabi sudah menanti. Itulah Isra’ Mi’raj.

Peristiwa luar biasa ini memang akhirnya mengguncang keimanan banyak orang sekaligus menjadi ujian. Manusia terbaik yang lulus ujian ini dengan nilai tertinggi adalah Abu Bakar dan karenanya ia digelari Ash-Shidiq. Memang ini peristiwa luar biasa. Karenanya Ibnu Katsir menjelaskannya panjang lebar dalam tafsirnya sebanyak 105 halaman dalam pengantar surat Al-Isra’. Inilah yang kemudian membuat tafsir juz 15 sebanding ketebalannya dengan tafsir juz 3, 4, 5 atau 6.

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan dalam Ar-Rahiqul Makhtum mengapa Isra’ Mi’raj ini hanya dibahas dalam satu surat: Al-Isra’. Sementara dalam surat yang sama dibahas pula keburukan-keburukan Yahudi dan kejahatannya. Kemudian Allah mengingatkan mereka bahwa Al-Qur’an lah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Sebab orang Yahudi akan dikucilkan dari posisi pengendalian umat manusia, karena kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan, sehingga mereka pun tersisih. Kemudian Allah mengalihkan posisi itu kepada Islam.

Saat Isra’ Mi’raj, dakwah Islam memang masih berputar-putar di beberapa gunung di Makkah. Tetapi tidak lama setelah itu terjadilah baiat Aqabah, lalu hijrah. Dan, rahasia surat Al-Isra’ itupun benar-benar terjadi. Islam memegang kendali kepemimpinan umat manusia.

Peristiwa Isra’ Mi’raj telah berlangsung 14-15 abad yang lalu. Sekarang, meskipun umat Islam berjumlah jauh lebih banyak dari Yahudi, tampaknya kenyataannya telah berbalik. Jumlah Yahudi yang kecil mampu menginjak-injak umat Islam bahkan menjajah tempat Isra’: Masjid Al-Aqsa. Mereka yang dulunya terusir dari Khaibar kini justru memiliki lobi di Amerika yang menentukan kebijakan dunia. Bahkan pengaruhnya membuat bertekuk lutut setiap pemimpin muslim di bumi ini, illaa qaliilaa.

Semoga peringatan Isra’ Mi’raj kali ini tidak hanya dipenuhi dengan shalawat dan cara-cara yang masih saja diperdebatkan ulama’ tentang kebolehannya; lebih dari itu ia memantik semangat kita untuk mengembalikan hikmahnya; Islam sebagai pemegang kendali kepemimpinan umat manusia. [Muchlisin]
Powered by Blogger.