Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman (2)


Tashdiq bi Al-Janan
Iman adalah pembenaran. Pembenaran yang dimaksud bukan saja pembenaran logika (tashdiq 'aqliy), akan tetapi pembenaran hati (tashdiq qalbiy). Inilah pembenaran yang lahir dari nurani seseorang karena fitrah dan dampak ketenangan yang dirasakan. Oleh karenannya, Abu Bakar RA ketika berbicara tentang adanya tuhan, beliau tidak berbicara dengan dalil yang muluk-muluk. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengenal tuhanku karena tuhanku. Jika bukan karena tuhanku, maka aku tidak mengenal tuhanku." Dengan itulah beliau menjadi pengikut Rasul yang sangat setia, hingga mendapatkan julukan Ash-Shidiq, yangs etia dan membenarkan tanpa pertimbangan.

Logika memang bisa meneguhkan pembenaran, namun hati yang jernih berbicara lebih dari itu. Oleh karenanya, para sahabat yang secara intelektual boleh dikatakan jauh dengan manusia sekarang yang ternyata bisa memiliki iman setegar gunung. Bilal bin Rabah, Khabab bin Ats, Ammar bin Yasir –radhiyallaahu anhum- bukanlah manusia-manusia intelek dan berpengalaman luas. Namun mereka memiliki hati yang bening dan penuh fitrah. Itu sudah cukup untuk mencetak iman yang kuat dan tahan uji. Bahkan betapa banyak orang-orang Quraisy yang membenarkan dalam hatinya karena mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, namun keimanan itu dikalahkan oleh kesombongan dan rasa gengsi.

Iqrar bi Al-Lisan
Lebih dari sekadar kewajiban iman, ikrar bahkan telah menjadi tuntutan iman. Pengikraran bisa saja hanya berujud pernyataan yang tulus kepada Allah SWT, itu pun sudah cukup. Namun bagi sementara orang, bahkan ia ingin keimanannya diketahui khalayak. Lebih dari itu, mereka ingin merasakan "buah pahit" keimanan itu dengan pernyataan.

Seandainya Utsman bin Mazh'un tutup mulut, ia tentu tidak harus menanggung kesakitan yang sangat. Namun inilah iman.

Ia menyaksikan para sahabat yang lain begitu menderita dan tidak bebas bergerak, sementara dirinya berada dalam jaminan keamanan Wlid bin Mughirah (seorang musyrik). Ia lalu bergumam, "Demi Allah, ke mana saja aku pergi dalam keadaan aman di bawah perlindungan seorang musyrik. Sementara para sahabatku dan pemeluk agamaku mendapatkan cobaab dan penderitaan yang tidak menyentuh tubuhku. Sungguh, ini cacat besar dalam jiwaku."

Ia pun bergegas menemui Walid dan berkata, "Wahai Abu Abd Syams, tanggunganmu telah selesai dan saya ingin mengembalikan jaminanku kepadamu." "Mengapa?" tanya Walid keheranan. "Karena kau disakiti oleh seseorang dari kaumku?" "Bukan, tetapi karena saya ingin di bawah perlindungan Allah saja, tidak ingin perlindungan yang lain," jawab Utsman bin Mazh'un tegas. Selanjutnya, Utsman berkata kepada Walid, "Pergilah kamu ke masjid (Kakbah) dan sampaikan pengembalian perlindunganku secara terbuka sebagaimana kau dulu menjaminku terbuka."

Di masjid, Walid bin Mughirah berkata lantang, "Utsman ini datang kepadaku untuk mengembalikan perlindungannya." "Benar," jawab Utsman segera. "Ia telah menjadi pelindung yang baik. Akan tetapi, saya lebih suka tidak meminta perlindungan kepada selain Allah. Oleh karena itu, saya kembalikan perlindungan ini kepadanya."

Ketika hendak pergi, Utsman mendengar Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Kilab Al-Qisiy di majelis yang dipenuhi orang-orang musyrik Quraisy itu, melantunkan syair berikut ini.
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain tuhan adalah sia-sia belaka
"Engkau benar," jawab Utsman
Labid pun meneruskannya.
Dan semua kenikmatan, niscaya binasa akhirnya
"Engkau dusta. Nikmatnya ahli surga tidak binasa," teriak Utsman tidak sabar.

Ketika itu Labid marah dan berkata, "Wahai Quraisy, dia tidak pernah menyakiti majelis kalian. Sejak kapan ia berubah?"

Seseorang menjawab, "Ia adalah manusia dungu diantara para dungu yang memecah agama kita. Kata-kata itu tidak akan kau dapatkan dalam jiwamu."

Utsman pun dengan berani membantah omongannya, hingga bersitegang dengan keras. Akhirnya, orang ini begitu emosi dan menampar pipi Utsman hingga matanya menghitam karena kerasnya. Sementara Walid bin Mughirah masih ada di situ dan melihat apa yang terjadi. Ia pun mendekat dan berkata kepada Utsman, "Wahai kemenakanku, matamu mestinya tidak harus menerima musibah serupa itu jika aku masih menjadi pelindungmu."

Dengan tegar Utsman menyahut, "Oh, bukan begitu. Demi Allah, bahkan mataku yang satu menginginkan musibah yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Saya telah nyaman dalam perlindungan Dzat Yang lebih mulia darimu dan lebih melindungi, wahai Abu Abdu Syams."

'Amal bi Al-Arkan
Iman juga menuntut tindakan fisik, karena fisik itulah media untuk mengeksresikan atau mengaktualisasikan kehendak hati. Apa yang akan terjadi, jika kemauan kita berdesakan, sementara fisik tidak mampu mewujudkan?

Sesungguhnya, keimanan yang tidak mencorong fisik untuk berbuat merupakan keimanan yang rapuh, bahkan mungkin dusta.

Apa yang mendorong para sahabat meninggalkan Makkah –kampung halaman dan tanah airnya tercinta- menuju Yatsrib, sebuah tempat yang jauh dan asing dengan nasib yang belum menentu?

Peristiwa hijrah total itu, yang memisahkan mereka dari orang tuanya, suami atau istrinya, harta bendanya, semata menuju Allah SWT. Logika apa yang bisa menjelaskannya selain "iman", sesuatu yang telah menancap kuat dalam dada dan memenuhi kalbu setiap mereka.

Adanya spektrum makna iman yang luas itulah, hingga semua wilayah perasaan, kata-kata, dan tindakan terwarnai olehnya.

Oleh karena itu, tidak mungkin keimanan bisa dinyatakan oleh seorang muslim jika ia belum mau berikrar, bersumpah, dan berjanji setia. Mengingat bahwa substansi syahadat merupakan hakikat yang besar, yang tidak mungkin sekadar dinyatakan oleh lisan tanpa keyakinan kuat dari hatinya.

Rasulullah SAW bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
Cabang iman itu antara tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha ilallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan di jalan (HR. Muslim)

Apabila iman hanya menghasilkan keyakinan dan kepercayaan saja, tanpa dipraktikkan dalam kehidupan nyata dan tanpa dinyatakan dengan kata-kata, itu juga bukan iman yang dikehendaki Rasulullah SAW.

Beliau bersabda,
ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني ، ولكن ما وقر في القلب ، وصدقته الأعمال
Tidaklah disebut iman bila hanya dengan angan-angan dan hiasan. Akan tetapi, iman adalah sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan amal. (HR. Al-Baihaqi dan Ad-Dailami)

Berikut ini Allah SWT telah membuat perumpamaan beberapa kaum yang cacat keimanannya, sehingga tertolak seluruh amalnya.

Abu Thalib
Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membela kemenakannya, Muhammad SAW, hingga berkata kepada beliau, "Kemenakananku, pergilah dan katakan apa saja yang kamu sukai. Demi Allah, kamu tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga selamanya."

Tetapi ketika sakaratul maut menghampiri dirinya dan Rasulullah SAW berusaha menuntun lisannya dengan ucapan, "Paman, ucapkan laa ilaaha illallah, satu kalimat yang dapat aku jadikan sebagai hujah untuk membela Anda di sisi Allah." Akan tetapi, Abu Thalib bersikukuh menolak untuk mengucapkannya, hingga maut menghampirinya.

Rasulullah SAW masih melakukan upaya, beliau berkata, "Aku akan memohonkan ampunan untukmu selama tidak dilarang." Allah SWT kemudian menurunkan ayat-Nya,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ [التوبة/113]
Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(-nya) sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam. (QS. At-taubah : 113)

Dengan turunnya ayat di atas, jelaslah bahwa seseorang yang tidak bersedia mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya akan tertolak amalannya, sebaik apapun kelakuannya.

Iblis

Ia termasuk makhluk ghaib, dari bangsa jin. Karena sifat penciptaannya itu, ia pun bisa berkomunikasi dengan Allah SWT, bertemu dengan para malaikat, dan bahkan mengetahui berbagai rahasia alam yang manusia tidak mengetahui. Dengan begitu, ia menyaksikan makhluk Allah lebih banyak daripada manusia. Akan tetapi, hal itu tidak membuat iblis beriman. Ia jelas meyakini adanya Allah, malaikat, dan tahu persis bahwa Muhammad adalah Rasulullah, karena iblis mengetahui betul bagaimana Jibril menyampaikan wahyu kepada beliau. Akan tetapi, ketika Allah memerintahkan,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ [الكهف/50]
...sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah merka semua kecuali iblis... (QS. Al-Kahfi : 50)

Akhirnya, iblis pun bersumpah di hadapan Allah SWT untuk menggoda nabi Adam serta anak keturunannya.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ [الأعراف/16]
Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf : 16)

Keyakinan iblis tentang keberadaan Allah, malaikat, dan Rasul tidak diikuti dengan sikap yang benar dan lurus. Keyakinan semacam itu sama sekali tidak ada gunanya di sisi Allah SWT. Jadilah iblis penghuni neraka yang kekal selama-lamanya. Allah SWT mengusir iblis dari surga dan akan memasukkannya ke Neraka Jahanam.
اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ [الأعراف/18]
Keluarlah kamu dari surga itu dalam keadaan terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa diantara mereka yang mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahanam dengan kamu semua. (QS. Al-A'raf : 18)

Abdullah bin Ubai
Ia adalah seseorang yang sangat dengki dengan Islam, rasulullah SAW, dan kaum Muslimin. Salah satu pemicu kedengkiannya adalah gagalnya dia menjadi pemimpin Madinah karena kedatangan Rasulullah SAW di kota tersebut. Pemicu lainnya adalah penyakit munafik yang melekat dalam hatinya. Ia berpura-pura saleh dalam tindakan dan ucapan, tetapi busuk hatinya.

Abdullah bin Ubai-lah yang pertama kali menawari Rasulullah SAW untuk tinggal di rumahnya selama berada di kota Madinah. Tawaran yang sangat baik dan sopan, tetapi Abdullah bin Ubai mempunyai rencana jahat untuk membunuh Rasulullah SAW jika tinggal di rumahnya itu. Lisan dan amalannya kelihatan baik, ettapi hatinya ingkar. Ketika Abdullah bin Ubai meninggal, maka Allah SWT berfirman,
وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ [التوبة/84]
Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) seorang yang mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At-Taubah : 84)
Bersambung [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
Powered by Blogger.