Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman


Materi tarbiyah berikut ini diambil dari buku Seri Materi Tarbiyah: Syahadat dan Makrifatullah. Buku tersebut ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono. Buku ini sangat penting sebagai referensi tarbiyah dan karenanya diberi pengantar oleh Ust. Mahfudz Sidiq, Departemen Kaderisasi DPP Partai Keadilan Sejahtera. Selamat mengkaji!
***

Di suatu ruangan kantor, Anda menemukan uang seribu perak. Karena bukan milik Anda, tentu Anda akan memberitahukan kepada para karyawan kantor itu siapa pemiliknya. Ketika ada yang mengaku sebagai pemiliknya, dengan riang hati Anda segera memberikannya, tanpa terlebih dahulu meminta kesaksian yang serius bahwa uang itu benar-benar miliknya.

Ini berbeda dengan jika Anda menemukan cincn emas murni seberat 50 gram. Anda tentu tidak serta merta memberikan kepada orang yang mengaku sebagai pemiliknya. Dengan sungguh-sungguh, Anda akan mencari bukti bahwa barang itu benar-benar miliknya. Mungkin mencari-cari bukti materiil berupa kuitansi pembelian –misalnya, mencari saksi, mengangkat sumpah dengan nama Allah, dan hal-hal lain untuk meyakinkan Anda. Setelah itu, baru Anda mengembalikan barang itu dengan tenang.

Tentu saja mudah dipahami, mengapa untuk uang seribu rupiah tidak perlu adanya pernyataan kepemilikan yang serius, sedangkan untuk emas murni 50 gram memerlukannya? Intinya hanya ada pada satu hal, yakni nilai materinya.

Sadarkah kita akan syahadat yang kita baca? Substansi apakah yang kita syahadatkan? Sesungguhnya, berapakah kadar dan nilai substansi itu? Jawabannya tentu saja mudah, bahwa yang kita syahadatkan adalah ihwal pengakuan sebuah hakikat yang mahaprinsip; tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.

Sebuah prinsip dasar yang akan mengubah haluan hidup seseorang. Sebuah prinsip yang membedakan secara diametral antara orang yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengingkarinya, atau antara yang mengucapkan secara tulus dengan mereka yang mengucapkan secara main-main.

Sesungguhnya, pernyataan syahdat itu erat kaitannya dengan iman, sesuatu yang mendasari semua sikap kita dalam beragama. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak keliru dalam menjalankan prinsip akidah ini, sehingga kita perlu memahami arti syahadat itu sesungguhnya dan bagaimana korelasinya dengan iman.

MAKNA SYAHADAT

Syahadat atau syahadah berasal dari kata syahida, yang berarti "memberi tahu dengan berita yang pasti" atau "mengakui apa yang diketahui" (Al-Mu'jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur'an tentang kata ini.

Pernyataan (Al-Iqrar) atau Pemberitahuan (Al-I'lan)
Allah SWT berfirman,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ [آل عمران/18]
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang beriman (juga menyatakan yang demikian itu)... (QS. Ali Imran : 18)

Sumpah (Al-Qasam atau Al-Half)
Allah SWT berfirman,
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (74) فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76) [الواقعة/74-76]
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (QS. Al-Waqi'ah : 74-76)

Janji (Al-Mitsaq atau Al-Wa'd)
Allah SWT berfirman,
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا [الأعراف/172]
…Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa manusia (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi..." (QS. Al-A'raf : 172)

Bagaimana hubungan antara syahadat dengan iman? Di samping memiliki makna secara bahasa (etimologi), kata "iman" juga memiliki makna secara syar'i (terminologi).

Secara bahasa, kata "iman" berasal dari kata kerja "amina" yang berarti aman, tenang, dan tidak merasa takut. Dari sini muncul kata "aamana" yang berarti "menjadikan tenang", "percaya", dan "membenarkan". Kata "aamana" inilah yang kemudian melahirkan istilah "iman" (Al-Mu'jam Al-Wasith).

Dari makna tersebut muncullah makna terminologinya –sebagaimana disebutkan oleh para ulama- yakni: tashdiq bi al-janan (pembenaran dalam hati), iqrar bi al-lisan (pernyataan dengan lisan), dan 'amal bi al-arkan (tindakan dengan anggota badan).
Bersambung ke Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman (2)[sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
Powered by Blogger.