Serial Haji & Idul Adha 2: Urgensi Haji Secara Ruhiyah


Setelah menampilkan tema Pengertian dan Perintah Haji, kini Serial Haji & Idul Adha mengajak mengkaji tema Urgensi Haji Secara Ruhiyah. Tema kedua ini diambilkan langsung dari buku Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4. Semoga Serial Haji & Idul Adha ke-2 ini memotivasi kita yang belum bisa naik haji tahun 2009 (Dulhijah 1430 H) untuk segera berusaha memenuhi panggilan Ilahi, menjalankan rukun Islam kelima ini. Selamat membaca.
***

Ada 5 hal urgensi ibadah haji dalam kaitannya dengan pembinaan ruhani jamaah yang menunaikannya. Kami nukilkan dengan beberapa perubahan dari buku Al-Islam tulisan Syaikh Sa'id Hawwa.

1. Ibadah Haji adalah Simbol Kepasrahan Total Kepada Allah SWT

Sebagaimana telah maklum bahwa ibadah haji berisi ketaatan secara mutlak, tanpa melihat kandungan maknanya, kepada perintah Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah SAW. Thawaf, wuquf, sa'i, ramyul jumar, tahallul, dan lain-lain amalan haji, hanyalah simbol-simbol ketaatan seorang hamba kepada perintah Allah tanpa tawar menawar.

Ia juga merupakan simbol ketertautan kita dengan Nabiyullah Ibrahim a.s. dengan cara menghidupkan syiarnya dan mengelilingi ka'bah yang dibangunnya. Selain itu, haji juga simbol bagi kesatuan umat seluruh dunia tanpa mempertimbangkan jenis suku bangsa, negara, dan warna kulit. Sedangkan kesatuan kaum Muslimin terbentuk oleh satunya akidah dan syariatnya.

2. Ibadah Haji adalah Penerapan Secara Aplikatif Berbagai Prinsip Islam

Ia adalah aplikasi konkret dari ukhuwah islamiyah, di mana setiap orang ketika haji merasa bahwa dirinya adalah saudara bagi sesama Muslim seluruh dunia.

Ia juga aplikasi konkret dari makna persamaan derajat berbagai bangsa tatkala mereka memeluk Islam. Ia merupakan aplikasi konkret dari firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [الحجرات/13]
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13)

Ibadah haji itu telah menjadi media paling konkret untuk mempertemukan berbagai bangsa Muslim di dunia.

3. Haji adalah Medan Pembinaan untuk Mengantarkan Muslim ke Derajat Tertinggi

Dengan haji seorang hamba belajar sambil melatih kesabaran. Bukankah salah satu hadits Nabi menyebutkan bahwa "jihad yang paling utama adalah haji mabrur"? (HR. Bukhari dan dari Aisyah). Dengan haji hidup selalu dalam suasana ibadah; bersikap ramah dan kasih sayang kepada sesama mukmin, mengendalikan emosi dan nafsu, juga memahami arti kebisingan dan kekerasan. Selain itu, orang yang beribadah haji juga berarti memahami hakikat ubudiyah kepada Allah dan berinfak fi sabilillah tanpa imbalan, mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah, dan merendahkan sesuatu yang direndahkan Allah.

4. Haji dapat Membangkitkan berbagai Perasaan dan Sikap pada Jiwa Manusia

Dalam amalan ibadah haji seorang jamaah melakukan tapak tilas perjalanan nabiyullah Ibrahim a.s. Maka ibadah haji juga berarti mengenang kembali perjalanan hidup generasi masa lalu yang pernah hidup di tempat ini, sekaligus menyambungkan ruhani kita dengan mereka dalam ikatan akidah dan penghambaan kepada Allah SWT.

5. Pada Ibadah Haji terdapat Nilai dan pelajaran yang tak Terhitung

Di dalam setiap amalan haji terkandung berbagai pelajaran dan makna. Kalau manusia menyadari, haji akan melahirkan pemahaman-pemahaman yang Rabbani lebih banyak, peningkatan akhlak islami, semangat meneladani Rasulullah SAW secara lebih dalam. Beberapa praktek ibadah haji sarat dengan kandungan hikmah simbolis hakikat hidup.

Arafah adalah tempat berkumpulnya manusia sebelum melaksanakan thawaf rukun. Semua orang yang berniat haji berkumpul di padang Arafah. Secara serentak dan bersamaan mereka memulai keberangkatan untuk mengagungkan Ka'bah. Kemudian menuju Muzdalifah dalam keadaan telah bertaubat dan berserah diri. Mereka menuju Ka'bah dengan jiwa bersih.

Dari Muzdalifah mereka berangkat menuju Mina untuk melontar jumrah sebelum thawaf, sebagai pernyataan bahwa musuh Allah adalah musuh mereka. Kemudian memotong hewan qurban sebagai tanda syukur kepada Allah atas karunia-Nya dalam menghalalkan binatang ternak kepada mereka. Lalu mencukur rambut sebagai persiapan thawaf dengan jiwa bersih, pakaian suci dan penampilan bagus.

Setelah itu mereka menuju Makkah dan berthawaf di sekeliling Ka'bah sambil mengagungkannya karena Allah telah mengagungkannya.

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]

... dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. Al-Haj : 32)

Kemudian sa'i antara Shafa dan Marwa sebagaimana pernah dilakukan ibu mereka, Hajar yang shalihah, pada hari permulaan Baitullah dibangun. Seterusnya mereka kembali lagi ke Mina untuk melontarkan jumrah sebagai pernyataan permusuhan total terhadap syetan untuk selama-lamanya.

Haji juga membawa kembali umat Islam kepada markas Islam pertama, agama Ibrahim dan Muhammad alaihimassalam. Perjalanan kembali ini akan memperkuat ikatan seorang Muslim kepada pusat Islam. Ia adalah negeri spiritualnya, kiblatnya, orientasi jasadnya, titik tolak semangat dan cita-citanya.

Sekembalinya dari tempat ini sebagaian besar bentuk kehidupan muslim telah berubah dan berganti. Dulu keterikatannya dengan markas Islam hanya bersifat teoritis, namun kini telah menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan diamalkan.

Nabi SAW bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu tidak berlaku keji dan tidak berbuat fasik, ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya. (HR. Imam yang enam kecuali Abu Daud).

Haji menghidupkan kenangan Rabbani yang abadi yang pernah dikenal manusia. Kenangan sebuah keluarga yang tidak pernah memperdulikan apa pun dalam menjalankan perintah Allah. Kenangan seorang anak yang menyerahkan dirinya menjadi kurban untuk Allah. Kenangan seorang ibu yang yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah; seorang ibu yang taat kepada Allah dan suaminya. Kenangan orang-orang yang sepenuhnya tawakal kepada Allah dan kenangan terhadap terbebasnya orang-orang yang tertindas. Bila mereka telah kembali ke rumah dengan rasa kemenangan maka semuanya akan terkenang.

Ia adalah neraca yang dengannya dapat diketahui orang-orang yang memperhatikan persoalan umat Islam dan kondisinya, yang memperhatikan kekuatan, kebaikan, kelemahan, kebodohan, kehinaan, kemiskinan, kemuliaan atau kejayannya. Orang-orang yang memperhatikan semua itu akan tampak jelas hanya dalam ibadah haji.

Selain itu, haji merupakan media utama untuk menghancurkan virus-virus yang disebar di tengah-tengah umat. Virus kolonialisme, nasionalisme, harta, jabatan, kekuasaan, setan Timur dan Barat. Dengan haji akbar, semua virus tersebut dapat dimusnahkan.

Haji adalah salah satu jalan pembebasan dari segala kenistaan syaitani menuju kehormatan ketuhanan, Zat Yang Mahakasih. Tidak ragu lagi, jika para ulama Islam dapat memfungsikan haji dan mendudukkannya secara proporsional, maka ia akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan umat. [Sumber: Seri Materi Tarbiyah Keakhwatan 4]
Powered by Blogger.