Uqail, Ali, dan Muawiyah


Uqail datang menemui Ali bin Abu Thalib dan meminta uang padanya. Dia berkata: “Saya adalah orang yang membutuhkan bantuan dan saya seorang fakir, maka berilah saya harta.” Ali ingin sekali membantu namun saat itu ia sedang tidak memiliki uang. Ia pun berkata, “Sabarlah hingga gajiku dibayar bersama dengan kaum muslimin yang lain. Saat itu baru akan saya berikan kepadamu harta yang kamu minta.”

Uqail mendesak. Ali berkata kepada seorang laki-laki, “Bawalah dia ke toko-toko di pasar lalu ketuklah pintu dan ambillah apa yang ada di toko-toko itu!”
Uqail heran dengan jawaban itu. “Apakah kau ingin saya menjadi seorang pencuri?”
“Bukankah engkau juga menginginkan saya menjadi seorang pencuri dengan cara mengambil harta kaum muslimin, lalu saya serahkan kepadamu?”
“Saya akan datang menemui Muawiyah!”
“Terserah kamu!”

Uqail pun menemui Muawiyah dan meminta harta padanya. Muawiyah memberinya seratus ribu. Muawiyah berkata kepada Uqail, “Naiklah ke mimbar lalu katakan kepada mereka bagaimana Ali memperlakukanmu dan bagaimana pula saya memperlakukanmu.”
Uqail naik ke mimbar kemudian memuji Allah. Dia berkata, “Wahai hadirin yang mulia. Sesungguhnya akan saya beritahukan kepada kalian. Sesungguhnya saya menginginkan Ali mengkhianaati agamanya, namun dia memilih agamanya. Dan saya menginginkan Muawiyah melakukan hal yang sama, ternyata dia memilihku daripada agamanya.”
***

Saudaraku, penggalan sejarah yang dipaparkan oleh Imam Suyuthi dalam kitab Tarikh Khulafa’ di atas bisa juga terjadi pada kita. Terkadang datang Uqail-uqail lain kepada kita dan menjadi ujian bagi kita. Saat itulah kita dihadapkan pada pilihan sulit; memilih keridhaan manusia atau keridhaan Allah. Saat itulah kita berada di persimpangan jalan; memilih mempertahankan agama atau mengkhianatinya. Atau justru kita menginginkan popularitas dan dianggap orang baik oleh orang lain namun pada hakikatnya menjadi pengkhianat amanah Allah.

Pernah suatu ketika seorang Bupati di Jawa Timur menceritakan bahwa ia bisa bertahan dari godaan kepentingaan pribadinya, namun ia sangat sulit untuk tidak memenuhi keinginan kawan-kawan dan orang terdekat yang telah berjuang susah payah menjadikannya menduduki kursi itu. Itulah ujian. Apakah kita kasihan pada orang-orang ini di dunia namun tidak kasihan pada nasib kita dan nasib mereka di akhirat nanti.

Suatu saat juga akan datang pilihan sulit itu kepada kita. Atau bahkan kita sudah berkali-kali mengalaminya? Saat kita memiliki kesempatan melakukan sebuah keburukan, lalu pada saat yang sama datang kerabat atau sahabat kita meminta sesuatu dan mendorong kita melakukan keburukan itu. Kita bisa terjebak bersikap seperti Muawiyah. Namun, tetap ada kesempatan menjadi seorang Ali. Bagaimana menurut Anda? [Muchlisin]
Powered by Blogger.